Senin, 06 Juli 2020

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada penjelasan yang dikemukakan Nurkholis (2003:56). Dalam uraiannya disebutkan bahwa ada 8 karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diuraikan kembali berikut ini.

Pertama, sekolah dengan Manajamen Berbasis Sekolah memiliki misi atau keinginan menjalankan sekolah buat mewakili sekelompok harapan beserta, keyakinan & nilai-nilai sekolah, membimbing rakyat sekolah di dalam kegiatan pendidikan dan memberi arah kerja. Misi ini mempunyai impak yang besar terhadap fungsi dan efektivitas sekolah, lantaran dengan misi ini rakyat sekola h bisa berbagi budaya organisasi sekolah yang tepat, membangun komitmen yg tinggi terhadap sekolah, & memiliki insiatif buat memberikan tingkat layanan pendidikan yg lebih baik.

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

Kedua, kegiatan pendidikan dijalankan menurut ciri kebutuhan & situasi sekolah. Hakikat aktivitas sangat krusial bagi sekolah buat meningkatkan kualitas pendidikan, lantaran secara nir eksklusif memperkenalkan perubahan manajemen sekolah berdasarkan manajemen kontrol eksternal menjadi contoh berbasis sekolah.

Ketiga, terjadinya proses perubahan strategi manajemen yg menyangkut hakikat insan, organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, penggunaan kekuasaan, & keterampilan-keterampilan manajemen. Karena itu pada konteks pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, perubahan taktik manajemen lebih memandang pada aspek pengembangan yang sempurna dan relevan dengan kebutuhan sekolah.

Keempat, keleluasaan dan wewenang pada pengelolaan sumber daya yg efektif buat mencapai tujuan pendidi kan, guna memecahkan kasus-perkara pendidikan yang dihadapi, baik tenaga kependidikan, keuangan dan lain-lain.

Kelima, Manajemen Berbasis Sekolah menuntut peran aktif sekolah, adiministrator sekolah, guru, orang tua, & pihak-pihak yg terkait dengan pendi dikan pada sekolah. Dengan MBS sekolah bisa mengembangkan murid & guru sesu ai menggunakan ciri sekolah. Dalam konteks ini, sekolah berperan berbagi insiatif, memecahkan perkara, & mengeksplorasi seluruh kemungkinan buat menfasilitasi efektivitas pembelajaran. Demikian pula unsur-unsur lain misalnya pengajar, orang tua, komite sekolah, administrator sekolah, pada nas pendidikan, & sebagainya sinkron menggunakan kiprahnya masing-masing.

Keenam, manajemen berbasis sekolah menekankan interaksi antar insan yg cenderung terbuka, berafiliasi, semangat tim, dan komitmen saling menguntungkan. Sehingga iklim orgnanisasi cenderung menunjuk ke tipe komitmen & efektivitas sekolah dapat tercapai.

Ketujuh, peran administrator sangat krusial pada kerangka MBS, termasuk pada dalamnya kualitas yg dimiliki administrator.

Kedelapan, dalam manajemen berbasis sekolah, efektivitas sekolah dievaluasi menurut indikator multitingkat & multisegi. Penilaian tentang efektivitas sekolah harus menca kup proses pembelajaran & metode buat membantu kemajuan sekolah. Oleh karena itu, evaluasi efektivitas sekolah wajib memperhatikan multitingkat, yaitu dalam taraf sekolah, gerombolan , dan individu, serta indikator multisegi yaitu input, proses & hasil sekolah serta perkembangan akademik anak didik.

Sekian delapan karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah yg dapat diuraikan. Baca juga pengertian manajemen berbasis sekolah.

4 Faktor Penyebab Penyakit Diare

Penyebab Penyakit Diare - Berdasarkan definisinya, diare merupakan buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) (Depkes RI, 2000). Sedangkan, menurut Widjaja (2002), diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak.

Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia. Semua kelompok usia di serang oleh diare, baik balita, anak-anak dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita (Zubir, 2006).

4 Faktor Penyebab Penyakit Diare Diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis (Widjaja, 2002). Penyebab penyakit diare tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Faktor infeksi

terjadinya infeksi saluran pencernaan utamanya merupakan penyebab penyakit diare pada anak. Jenis -jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:

  1. Infeksi oleh bakteri : Escherichia coli, Salmonella thyposa , Vibriocholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas.
  2. Infeksi basil (disentri),
  3. Infeksi virus rota virus,
  4. Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides),
  5. Infeksi jamur (Candida albicans),
  6. Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis , dan radang tenggorokan , dan
  7. Keracunan makanan.
b. Faktor malabsorpsi

Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare.

Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.

c. Faktor makanan

Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran) dan kurang matang. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak- anak balita.

d. Faktor psikologis

Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. Tetapi jarang terjadi pada anak balita, umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.

Itulah penjelasan singkat tentang pengertian diare dan keempat faktor penyebab penyakit diare. Semofa dapat diantisipasi lebih awal agar terhindar dari penyakit diare.

Gejala dan Epidemiologi Penyakit Diare

Gejala - gejala peyakit diare (Widjaja, 2000) adalah sebagai berikut:

  1. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya pun meninggi,
  2. Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah,
  3. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu,
  4. Lecet pada anus,
  5. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang,
  6. Muntah sebelum dan sesudah diare,
  7. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), dan
  8. Dehidrasi (kekurangan cairan).

Gejala dan Epidemiologi Penyakit Diare

Dehidrasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang dan dehidarsi be rat. Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang hilang 5%. Jika cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang, denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah, tekanan darah merendah, penderita lemah, kesadaran menurun dan penderita sangat pucat (Widjaja, 2000) .

Epidemiologi penyakit diare

Menurut Depkes RI (2005), epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut:

a. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan ataukontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tida k memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

b. Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare

Faktor pada pejamu yang dapat meningkatkan insiden, beberapa penyakit dan lamanya diare. Faktor - faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

c. Faktor lingkungan dan perilaku

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, sehingga dapat mengakibatkan timbulnya kejadian diare.

Demikian gejala dan epidemiologi penyakit diare. Mengetahui gejala penyakit diare akan memudahkan dalam upaya memilih tindakan yang tepat dalam penanganannya. Baca juga 4 faktor penyebab penyakit diare.

Minggu, 05 Juli 2020

Syarat – Syarat Rumah Sehat

Syarat – Syarat Rumah Sehat - Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman bahwa rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.

Rumah tinggal didefinisikan sebagai tempat tinggal manusia yang mengalami perkembangan dari jaman ke jaman. Mulai dari mereka yang tinggal di hutan, di bawah pohon sampai sekarang yang sudah tinggal di rumah bertingkat (Notoatmodjo, 2003)

Sedangkan menurut Azwar (1995) rumah yang diperuntukkan bagi manusia memiliki beberapa arti, yakni: sebagai tempat untuk melepas lelah, beristirahat, bergaul dengan anggota keluarga dan sebagai tempat untuk melindungi diri dari kemungkinan bahaya yang datang mengancam.

Syarat – Syarat Rumah Sehat

Menurut Notoatmodjo (2003), harus dipenuhi beberapa syarat-syarat rumah sehat lainnya, yaitu:

1. Bahan Bangunan

  • Lantai: ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan dan inipun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan.
  • Dinding: tembok adalah baik, namun disamping mahal, tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan, lebih baik dinding atau papan.
  • Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng adalah cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Atap seng ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, disamping mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah.
  • Lain-lain (tiang, kaso dan reng): tiang untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tidak tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini maka cara memotongnya harus menurut ruas-ruas bambu tersebut, apabila tidak pada ruas, maka lubang pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu.
2. Ventilasi

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Kurangnya vemtilasi akan menyebabkan kurangnya O2 didalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembapan udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembapan ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri pathogen(bakteri-bakteri penyebab penyakit).

Fungsi kedua daripada ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap didalam kelembapan (humudity) yang optimum.

Ada 2 macam ventilasi, yakni:

  • Ventilasi alamiah, dimana aliran udara didalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan sebagainya.
  • Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas angina dan mesin pengisap udara.
3. Cahaya

Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni:

  • Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen didalam rumah, misalnya baksil TBC.Rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat didalam ruangan rumah. Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca. Genteng kacapun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa waktu pembuatannya kemudian menutupnya dengan pecahan kaca.
  • Cahaya buatan, yaitu dengan menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
4. Luas Bangunan Rumah

Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni didalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menybabkan perjubelan (overcrowded). Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 – 3 m2 untuk tiap orang (tiap anggota keluarga).

5. Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat.

Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut:

a) Penyediaan air bersih yang cukup.

b) Pembuangan tinja.

c) Pembuangan air limbah (air bekas).

d) Pembuangan sampah.

e) Fasilitas dapur.

f) Ruang berkumpul keluarga.

Demikian syarat-syarat rumah sehat menurut para ahli. Ada pula syarat-syarat rumah sehat menurut organisasi atau lembaga lain yang dapat ditemukan di ciri-ciri dan kriteria rumah sehat.

Ciri-Ciri dan Kriteria Rumah Sehat

Ciri-Ciri dan Kriteria Rumah Sehat - The American Public Health Association telah berhasil merumuskan syarat-syarat perumahan yang dianggap pokok untuk terjaminnya kesehatan Azwar (1995). Syarat-syarat rumah sehat tersebut ialah:

  1. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan fisik dasar dari penghuninya. Oleh karena itu, hal-hal yang harus diperhatikan disini yakni: (a) Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipelihara atau dipertahankan suhu lingkungan yang penting untuk mencegah kehilangan panas atau bertambahnya panas badan secara berlebihan (b) Rumah harus terjamin penerangannya yang dibedakan atas cahaya matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala api lainnya (penerangan buatan) (c) Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga aliran udara segar dapat terpelihara (d) Rumah tersebut harus mampu melindungi penghuni dari gangguan bising yang berlebihan.

    Ciri-Ciri dan Kriteria Rumah Sehat

  2. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan kejiwaan dasar dari penghuninya. Tergantung dari pola hidup yanbg dimiliki oleh penghuni, maka apa yang disebut kebutuhan kejiwaan dasar ini amat relatif sekali.
  3. Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari kemungkinan penularan penyakit atau berhubungan dengan zat-zat yang membahayakan kesehatan.
  4. Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari kemungkinan terjadinya bahaya atau kecelakaan.
The American Public Health Association telah menyusun suatu pedoman lain yang dapat dipakai untuk menetapkan sehat atau tidaknya suatu rumah. Ciri dan kriteria rumah sehat tersebut disesuaikan dengan situasi serta kondisi masyarakat Indonesia, maka pedoman tersebut antara lain:

  1. Sistem pengadaan air di rumah tersebut baik atau tidak. Jika air yang tersedia tidak memenuhi syarat kesehatan, maka rumah tersebut dinilai tidak sehat.
  2. Fasilitas untuk mandi. Jika fasilitas ini baik, maka rumah tersebut dinilai baik.
  3. Sistem pembuangan air bekas. Jika sistem pembuangannya tidak memenuhi syarat kesehatan, maka rumah tersebut termasuk kategori rumah yang tidak sehat.
  4. Fasilitas pembuangan tinja. Jika di rumah tidak tersedia kakus, atau kakus tersebut tidak sehat, maka rumah dinilai tidak sehat.
  5. Jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu ruangan (kamar). Ukuran yang dianggap sehat ialah jika sekurang-kurangnya tersedia 1.2 m2 ruangan untuk satu orang.
  6. Jendela atau jalan masuk cahaya serta udara (ventilasi). Rumah yang tidak mempunyai jendela serta penerangan yang cukup adalah rumah yang tidak sehat.
  7. Kekuatan bangunan. Jika rumah telah tua dan lapuk sehingga ada kemungkinan sewaktu-waktu rubuh, maka rumah dinilai tidak sehat. (Azwar, 1995)
Selain itu, terdapat pula kriteria rumah sehat yang tercantum dalam Residental Environment dari WHO (1974) dalam Chandra (2007), antara lain:

  1. Harus dapat melindungi dari hujan, panas, dingin dan berfungsi sebagai tempat istirahat.
  2. Mempunyai tempat-tempat untuk tidur, masak, mandi, mencuci, dan kakus.
  3. Dapat melindungi dari bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
  4. Bebas dari bahan bangunan yang berbahaya.
  5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari gempa, keruntuhan dan penyakit menular.
  6. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.
Sementara di Indonesia sendiri terdapat suatu kriteria rumah sehat yang disebut dengan Rumah Sehat Sederhana (RSS), yaitu:

  1. Luas tanah antara 60-90 meter persegi.
  2. Luas bangunan antara 21-36 meter persegi.
  3. Memiliki fasilitas kamar tidur, kamar mandi dan dapur.
  4. Berdinding batu bata dan diplester.
  5. Memiliki lantai dari ubin keramik dan langit-langit dari triplek
  6. Memiliki sumur atau pompa air.
  7. Memiliki fasilitas listrik minimal 450 watt.
  8. Memiliki bak sampah dan saluran air kotor. (Chandra, 2007).

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli - Prestasi belajar didefinisikan sebagai hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajarnya sebagian dinyatakan dengan nilai-nilai dalam buku rapornya (Wirawan, 2002)

menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895) adalah penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai test atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Untuk memahami lebih luas tentang prestasi belajar di bawah ini disajikan beberapa pendapat.

Sedangkan Suharsimi Arikunto (2003:269) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah tingkat pencapaian yang telah dicapai oleh anak didik atau siswa terhadap tujuan yang ditetapkan oleh masing-masing bidang studi setelah mengikuti program pengajaran dalam waktu tertentu.

Menurut Sumadi Suryabrata (2005 :175) prestasi belajar meliputi perubahan psikomotorik, sehingga prestasi belajar adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dicapai dalam belajar setelah ia melakukan kegiatan belajar.

Prestasi belajar geografi misalnya, adalah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan aktivitas belajar Geografi yang berupa penguasaan, pengetahuan sikap dan keterampilan yang lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar dalam suatu penelitian untuk bidang studi geografi ini diperoleh dari rata-rata dari nilai ulangan dan nilai ujian mid semester pada mata pelajaran geografi.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan aktivitas belajar yang meliputi perubahan tingkah laku (psikomotorik), penguasaan pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Nilai yang dilaporkan dalam rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan guru mengenai kemajuan atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu.

Prestasi belajar atau hasil belajar siswa dapat di ketahui dengan jalan diukur atau menilai. Menurut Suma di Suryabrata (2005:294), disebutkan bahwa hasil belajar siswa dapat diukur dengan cara:

  1. Memberikan tugas-tugas tertentu
  2. Menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan pelajaran tertentu
  3. Memberikan tes pada siswa sesudah mengikuti pelajaran tertentu, dan
  4. Memberikan ulangan
Menurut Zaenal Arifin (1991:3-4) prestasi belajar mempunyai fungsi utama, antara lain:

  1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik
  2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu. hal ini didasarkan pada asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (curiocity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia, termasuk kebutuhan pada anak didik dalam suatu program pendidikan.
  3. Prestasi belajar sebagai bahan inform asi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik (feadback) dalam meningkatkan mutu pendidikan
  4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan faktor produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan pula dengan pembangunan masyarakat.
  5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah yang utama dan pertama dan karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum .
Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa sangat penting untuk mengetahui pengertian prestasi belajar, karena prestasi belajar selain sebagai daya serap siswa, tetapi juga sebagai indikator kualitas institusi pendidikan.

Sabtu, 04 Juli 2020

Pengertian Tindak Pidana Menurut Para Ahli

Pengertian Tindak Pidana Menurut Para Ahli Pengertian Tindak Pidana Menurut Para Ahli - Istilah Tindak Pidana merupakan terjemahan dari “strafbaarfeit”, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak terdapat penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan strafbaarfeit itu sendiri. Biasanya Tindak Pidana disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum menjadi berikut : ?Delik merupakan perbuatan yg dapat dikenakan sanksi karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang Tindak Pidana.

Istilah tindak pidana menandakan pengertian mobilitas gerik tingkah laris jasmani seorang. Hal-hal tersebut terdapat juga seseorang buat nir berbuat, akan namun menggunakan nir berbuatnya, dia telah melakukan tindak pidana (Prasetyo, 2011).

Berikut beberapa pendapat pakar tentang pengertian tindak pidana, antara lain :

  1. Moeljatno lebih menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut (Chazawi, 2001)
  2. Pompe merumuskan bahwa suatu strafbaarfeit itu sebenarnya tidak lain adalah daripada suatu tindakan yang menurut sesuatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum (Chazawi, 2001).
  3. Vos merumuskan bahwa straafbaarfeit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan (Chazawi, 2001). Dapat dikatakan pengertian tindak pidana menurut Vos merupakan perbuatan manusia yang dilakukan bertentangan dengan Undang-undang. Tindak pidana menurut Vos ini hampir sama halnya dengan definisi dari Moeljatno.
  4. R. Tresna menyatakan walaupun sangat sulit untuk merumuskan atau memberi definisi yang tepat perihal peristiwa pidana, namun juga beliau juga menarik suatu definisi, yang menyatakan bahwa, peristiwa pidana adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.
  5. J. E Jonkers, yang merumuskan peristiwa pidana ialah perbuatan yang melawan hukum (wederrechttelijk ) yang berhubungan dengan kesengajaan dan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan (Chazawi, 2001).
Dari sejumlah definisi atau pengertian tindak pidana menurut para ahli di atas dapat maka ditarik sebuah kesimpulan mengenai apa yang dimaksud dengan tindak pidana itu, tindak pidana adalah perbuatan melanggar hukum yang dapat dimintai pertanggungjawabannya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan pelakunya, dimana perbuatannya tersebut melanggar atau melawan hukum ketentuan Undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Sehingga atas perbuatan yang telah dilakukannya dapat diancam dengan tindak pidana berupa kurungan ataupun denda sehingga akan membuat efek jera bagi pelakunya, baik yang individu yang melakukan dan orang lain yang mengetahuinya.