Thursday, May 7, 2020

Haji Abdul Malik Karim Amrullah Pejuang Pena dari Maninjau

Jika menyebut sastra generasi Pujangga Lama, nama HAMKA akan mudah dikenal. Ia memang sastrawan mumpuni. Menulis semenjak masa belia sampai masa tuanya. Ia tokoh ulama sekaligus

seseorang nasionalis. Ia ikut membesarkan Muhammadiyah sekaligus penyokong kemerdekaan RI. Ia menulis novel juga ikut bergerilya pada hutan ketika perang kemerdekaan berkecamuk.

Nama lengkapnya Haji Abdul Karim Amrullah merupakan anak seseorang ulama ternama, Abdul Karim Amrullah. Ia mendapat pendidikan rendah pada usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau

selama 2 tahun. Pada usia 10 tahun, beliau masuk Sumatra Tawalib, sekolah Islam modern pertama, yang didirikan sang ayahnya dalam 1919 di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian menyelidiki kepercayaan & mendalami bahasa Arab, keliru satu pelajaran yang paling disukainya. Pada 1924, Hamka yang ketika itu masih remaja sempat berkunjung ke Jawa. Di sana dia poly menimba ilmu dalam pemimpin gerakan Islam Indonesia, misalnya Haji Omar Said Chakraminoto, Haji Fakharudin, Hadi Kesumo, Soerjapranoto, sampai pada Rashid Sultan Mansur yg adalah saudara iparnya sendiri

Pada tahun 1927, Hamka berangkat ke Mekkah buat menunaikan ibadah haji. Berbekal ilmu agama yg didapatnya menurut banyak sekali tokoh Islam berpengaruh, Hamka memulai kariernya menjadi Guru Agama di Padang Panjang. Ia mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuai cabang Muhammadiyah tersebut dalam tahun 1928. Pada tahun 1931, dia diundang ke Bengkalis buat pulang mendirikan cabang Muhammadiyah. Dari sana ia melanjutkan bepergian ke Bagansiapiapi, Labuhan Bilik, Medan, & Tebing Tinggi, sebagai mubaligh Muhammadiyah. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubaligh ke Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana beliau mulai aktif menulis dengan menerbitkan majalah pengetahuan Islam, Al-Mahdi.

Pada 1934, Hamka menuju Medan. Di sana beliau memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Dari majalah inilah pertama kali beliau memperkenalkan nama pena Hamka, melalui rubrik tasawuf

terbaru, tulisannya telah mengikat hati para pembacanya, baik orang awam juga kaum intelektual. Pada 1945, Hamka kembali ke Padang Panjang lalu dianggap memimpin Kulliyatul Muballighin dan menyalurkan kemampuan jurnalistiknya menggunakan membentuk beberapa karya tulis. Dimasa ini juga perang revolusi kemerdekaan berkecamuk. Hamka turut berjuang mengusir Belanda. Lewat pidato, beliau mengobarkan semangat pejuang merebut kedaulatan negara. Ia ikut serta bergerilya pada pada hutan. Semangat perjuangan Hamka senantiasa berkobar tiap kali mengingat pesan ayahnya, ?Ulama wajib tampil ke muka rakyat, memimpin menuju kebenaran?

Pasca kemerdekaan, Konferensi Muhammadiyah menentukan Hamka buat menduduki posisi kepala Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatra Barat pada 1946. Setahun berikutnya, beliau menjabat sebagai kepala Barisan Pertahanan Nasional. Ia pula mendapat jujur dari wapres Mohammad Hatta untuk menjabat sebagai sekretaris Front Pertahanan Nasional.

Tepatnya tahun 1949, Hamka hijrah ke Jakarta dan menekuni global jurnalistik menggunakan sebagai koresponden majalah Pemandangan & Harian Merdeka. Tahun 1953, Hamka terpilih menjadi penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah. Juga pernah menjadi Pejabat Tinggi Agama meski kemudian beliau mengundurkan diri.

Dalam politik, Hamka aktif melalui Masyumi. Pada Pemilu pertama 1955, Hamka terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Jawa Tengah. Pada 1956, dia menerima gelar Doctor Honoris Causa berdasarkan Universitas Al-Azhar Mesir. Setahun kemudian, Hamka balik ke global pendidikan sesudah resmi diangkat menjadi dosen pada Universitas Islam, Jakarta & Universitas Muhammadiyah,

Padang Panjang. Kariernya sebagai pendidik terus menanjak, selesainya dia terpilih menjadi rektor pada Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, kemudian dikukuhkan sebagai pengajar akbar pada Universitas Moestopo,

Jakarta, dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Di masa Orde Baru, dalam 1977, Hamka menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia [MUI]. Ia hanya bertahan empat tahun selesainya akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1981. Dua bulan selepas mundur, Hamka masuk rumah sakit Pusat Pertamina, terkena komplikasi, dan 3 hari berikutnya dia akhirnya menghadap Sang Khalik di usia 73. Setelah disholatkan pada Masjid Al-Azhar, jenazahnya lalu dimakamkan pada TPU Tanah Kusir Jakarta. Atas jasa-jasanya pada negara, pemerintah RI memberi gelar Pahlawan nasional pada Hamka pada tahun 2011.

Bourbon

No comments:
Write comments