Sunday, May 10, 2020

I Gusti Ketut Pudja Pahlawan Singaraja

Ia ikut ambil bagian pada saat penyusunan naskah proklamasi & memegang peranan sangat krusial dalam memperbaiki butir pertama berdasarkan Piagam Jakarta yang kemudian sebagai Pancasila. Ia yang menyarankan supaya buah pertama pancasila berbunyi, ?Ketuhanan Yang Maha Esa?.

Putra pasangan I Gusti Nyoman Raka & Jero Ratna Kusuma ini berhasil menuntaskan kuliah pada bidang aturan & meraih gelar Meester in de Rechten berdasarkan Rechts Hoge School, Batavia. Selepas itu, ia mulai mengabdikan diri dalam kantor Residen Bali & Lombok di Singaraja.

Pada 7 Agustus 1945, Pemerintah Jepang yang berkedudukan pada Jakarta menciptakan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI] yang beranggotakan 27 orang. I Gusti Ketut Pudja kemudian terpilih menjadi galat satu anggota PPKI mewakili Sunda Kecil [Bali dan Nusa Tenggara]. PPKI bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, sebelum panitia ini terbentuk, telah berdiri BPUPKI. Selanjutnya pada 16 Agustus sampai 17 Agustus 1945 dinihari, Pudja turut hadir pada perumusan naskah proklamasi pada rumah Laksamana Maeda yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat. Pudja juga menyaksikan momen bersejarah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Sehari sehabis proklamasi, PPKI mengadakan kedap guna membahas Piagam Jakarta [Jakarta Charter] yg merupakan output kompromi tentang dasar negara Indonesia. Piagam tadi adalah hasil rumusan Panitia Sembilan yakni panitia kecil yang dibuat oleh BPUPKI. Di pada Piagam yang disetujui pada 22 Juni 1945 itu berbunyi, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, Kemanusiaan yang adil dan mudun, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yg dipimpin sang hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, & Keadilan sosial bagi semua masyarakat Indonesia.

Pudja mengusulkan perubahan butir pertama dan sebagai Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan ini diterima. Mereka menyetujui perubahan kalimat tersebut demi persatuan & kesatuan bangsa. Setelah butir pertama diganti, dalam sidang ke 2 yg beragendakan penyusunan UUD, Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah [preambule]. Bersamaan dengan penetapan rancangan pembukaan & btg tubuh Undang-Undang Dasar 1945 dalam Sidang PPKI I, 18 Agustus 1945, Pancasila pun ditetapkan menjadi dasar negara Indonesia. Pudja selalu hadir dalam proses-proses krusial itu.

Pada 22 Agustus 1945, presiden lalu mengangkat Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil yang waktu itu dianggap Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Sunda Kecil. Keesokan harinya, Pudja datang pada kampung halamannya, Bali, dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur dan eksklusif memulai tugasnya.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyebarluaskan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai ke desa-desa terpencil pada Bali. Pudja menjelaskan latar belakang proklamasi & struktur pemerintahan Republik Indonesia serta membicarakan bahwa beliau merupakan Gubernur Sunda Kecil output pemilihan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang disahkan sang Presiden RI. Pudja jua mulai mengadakan persiapan-persiapan buat mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai wilayah Sunda Kecil menggunakan ibu kotanya Singaraja.

Pudja juga pernah menerima amanat menurut presiden buat menjadi pejabat pada Departemen Dalam Negeri. Jabatan lain yang pernah diembannya adalah sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan [BPK] hingga beliau memasuki masa purnabakti di tahun 1968.

I Gusti Ketut Pudja mangkat global usia 68 tahun. Pada 1977, I Gusti Ketut Pudja ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia menjadi pahlawan nasional atas jasa-jasanya pada usaha

kemerdekaan Indonesia.

Bourbon

No comments:
Write comments