Friday, May 8, 2020

Masuknya Bangsa Eropa ke Kerajaan Tidore

Sultan kedua Tidore yaitu Almansur yg naik takhta dalam tahun 1512 kemudian beliau memutuskan Mareku menjadi sentra pemerintahan. Almansur merupakan Sultan yg pertama mendapat kedatangan bangsa Spanyol pada Tidore, Spanyol datang pada Tidore pada tanggal 8 November 1521, turut serta dalam rombongan kapal armada Magellan, Pigafetta, seorang etnolog dan sejarawan Italia. Kedatangan Spanyol ke Tidore adalah untuk mengajak kerajaan Tidore beraliansi secara strategis sebagai jawaban atas aliansi yg dibangun oleh Ternate dan Portugis sebemnya.

Untuk mendukung kemajuan perdagangan di Tidore dengan tangan terbuka, ditambah lagi melihat kerajaan Ternate yg terlebih dahulu bekerja sama dengan Bangsa Portugis maka nir ada kecurigaan sama sekali akan adanya tindakan buruk menurut bangsa Spanyol mengakibatkan Sultan Almansur memberikan tempat spesial bagi Spanyol buat melakukan perdagangan di Tidore. Waktu awal tiba bangsa Spanyol menukar sepotong kain merah dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong menggunakan 2 bokor cengkih. Dengan cepat cengkih di semua Tidore ludes, sebagai akibatnya memaksa sultan Almansur wajib mencari remaph-rempah di tempat lain misalnya Moti, Makian dan Bacan. Demikianlah awal mula kerjasama antara Tidore & Spanyol, hubungan perdaganganpun semakin berkembang, nir hanya pada bidang perekonomian namun juga sampai bidang militer

Pada tahun 1524 mulai terjadi persaingan ekonomi berupa penguasaan wilayah perdagangan rempah-rempah antara pasukan kerajaan Ternate dan Tidore, saat itu pasukan gabungan Ternate dan Portugis yang berjumlah 600 orang menyerbu kerajaan Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Mareku. Hal yang menarik adalah dalam penyerangan tersebut meskipun serangan gabungan antara Ternate dan Portugis berhasil mencapai ibukota Tidore, mereka tidak dapat menguasai Tidore sepenuhnya dan berhasil dipukul mundur beberapa waktu kemudian. Berselang dua tahun berikutnya pada tahun 1526 Sultan Almansur wafat tanpa meninggalkan pengganti. Kegagalan serangan dan perselisihan antara Ternate dengan bantuan dari Portugis dan Tidore dengan bantuan dari Spanyol berujung dilakukannya perjanjian Zaragosa antara Raja Portugis, John III dan Raja Spanyol, Charles V pada tahun 1529. Dengan isi bahwa Portugis harus mengganti imbalan sebesar 350.000 ducats pada Spanyol maka Charles V sebagai raja Spanyol kala itu bersedia melepaskan klaimnya atas Maluku, namun setelah disepakatinya perjanjian tersebut tidak serta merta membuat seluruh armada Spanyol keluar dari Maluku.

Putera bungsu Sultan Almansur, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen, dilantik sebagai Sultan Tidore Pada tahun yang sama waktu Perjanjian Zaragosa disepakati, dengan dibantu sang Kaicil Rade seseorang bangsawan tinggi Kesultanan Tidore sebagai Mangkubumi. Dimasanya terjadi tribulasi, dalam ketika Gubernur Portugis di Ternate, Antonio Galvao, tetapkan buat balik meyerang Tidore, hal ini tentunya menghianati perjanjian Zaragosa yang telah disepakati oleh kedua raja Portugis juga Spanyol. Dalam penyerangan itu pasukan Portugis mendapatkan kemenangan atas Tidore pada tanggal 21 Desember 1536 & menyebabkan Tidore wajib menjual semua rempah-rempahnya kepada Portugis menggunakan imbalan Portugis akan meninggalkan Tidore.

Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen wafat pada tahun 1547 dan digantikan oleh Sultan Saifuddin, dalam perjalanan tongkat estafet kesultanan berikutnya berturut-turut Kie Mansur, Iskandar Gani dan Gapi Baguna hingga tahun 1599. Pada era tersebut tidak terjadi sesuatu yang luar biasa di Kesultanan Tidore, kecuali pada tahun 1578 Portugis membangun Benteng “Dos Reis Mogos” di Tidore. Namun demikian benteng tersebut tidak mencampuri urusan internal kesultanan. Kejadian penting lainnya yang patut dicatat adalah terjadinya uniikasi kekuatan Portugis dan Spanyol di Maluku di bawah pimpinan Raja Spanyol pada tahun 1580. Sehingga demikian semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kepulauan Maluku dapat digunakan oleh kedua belah pihak. Uniikasi ini sebenarnya didahului oleh kejadian sebelumnya pada tanggal 26 Desember 1575, yaitu Sultan Babullah, Sultan Ternate terbesar berhasil menaklukan benteng Portugis-Gamlamo di Ternate oleh. Menyerahnya Gubernur Portugis terakhir di Maluku, Nuno Pareira de Lacerda, menunjukkan berakhirnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Kondisi yang lemah dan terdesak inilah yang mengakibatkan mau tidak mau armada perang Portugis harus membentuk persekutuan dengan Spanyol di kepulauan Maluku.

Pada tanggal 26 Maret 1606, Don Pedro da Cunha Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, mulai membaca gerakgerik VOC-Belanda yang mencoba memperluas wilayah dagangnya hingga Maluku. Mulai merasa terancam dengan kehadiran armada dagang VOC-Belanda di Maluku, ditambah bahwa VOC-Belanda mulai menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ternate untuk memperkuat posisinya dalam kancah perdagangan di Maluku maka Don Pedro da Cunha memimpin pasukan untuk menggempur Benteng Gamlamo tempat yang menjadi basis kekuatan VOC-Belanda di Ternate, penyerangan yang dilakukan Spanyol tentu saja dengan bantuan dari Tidore bekas kerajaan yang pernah menjadi aliansinya, pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Mole Majimu kerajaan Tidore dengan senang hati membantu Spanyol dalam mengusir VOC-Belanda di Ternate. Spanyol berhasil menguasai Benteng Gamlamo di Ternate, tetapi tidak lama setelah itu VOC Belanda berhasil pula membuat benteng yang kemudian disebut sebagai “Fort Oranje” pada tahun 1607 di sebelah timur laut Benteng Gamlamo serta membangun garis demarkasi militer dengan Spanyol. Dan sebagai Gubernur Belanda pertama di Kepulauan Maluku diangkatlah Paulus van Carden.

Dalam tahun 1663 Gubernur Jenderal Spanyol yang berada Manila, Manrique de Lara, membutuhkan semua kekuatan buat mempertahankan Manila berdasarkan agresi bajak laut Cina, Coxeng. Secara mengejutkan Spanyol bahkan menarik seluruh kekuatannya dari Ternate, Tidore dan Siau yang berada di Sulawesi Utara ke Filipina. Gubernur Spanyol di Maluku, Don Francisco de Atienza Ibanez, Nampak juga meninggalkan kepulauan Maluku pada bulan Juni 1663. Maka berakhirlah kekuasaan Spanyol pada Kepulauan Maluku. Ketika itu kerajaan Tidore diperintah oleh Sultan Tidore ke 12 yaitu Sultan Saifudin, Dengan tiadanya dukungan militer berdasarkan Spanyol, otomatis kekuatan Tidore melemah & akhirnya VOC-Belanda menjadi kekuatan militer terbesar satu-satunya pada kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah itu.

Menghindari kerusakan dan kerugian yg lebih besar pada akhirnya Sultan Saifudin melakukan perjanjian menggunakan Laksamana Speelman dari VOC-Belanda dalam lepas 13 Maret 1667 yg mana isinya adalah :

1. VOC mengakui hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Empat dan Papua daratan

2. Kesultanan Tidore menaruh hak monopoli perdagangan rempah-rempah pada wilayahnya pada VOC.

Batavia kemudian mengeluarkan Ordinansi buat Tidore yg membatasi produksi cengkeh & pala hanya dalam Kepulauan Banda & Ambon. Di luar wilayah ini seluruh pohon rempah diperintahkan buat dibasmi. Pohon-pohon rempah yg ?Berlebih? Ditebang buat mengurangi produksi rempah sampai 1/4 berdasarkan masa sebelum VOC-Belanda memegang kendali perdagangan atas Maluku.

Apa yang dilakukan oleh VOC-Belanda tersebut, yaitu memusnahkan atau eradikasi pohon-pohon cengkih di Kepulauan Maluku, disebut sebagai “Hongi Tochten”. “Hongi Tochten” dilakukan akibat banyaknya penyelundup yang memasarkan cengkih ke Eropa sehingga harga cengkih menjadi turun drastis. “Hongi Tochten” ini sebenarnya sudah pernah diterapkan pada Kesultanan Ternate pada tahun 1652 kemudian disusul oleh Tidore beberapa waktu berikutnya setelah Tidore mengakui kekuatan ekonomi-militer Belanda di Maluku. Dengan memberikan imbalan tertentu (recognitie penningen) pada kerajaan oleh VOC akibat operasi ini.

Kesultanan Tidore semakin melemah sepeninggal Sultan Saifudin. Banyaknya pertentangan dan pemberontakan di kalangan istana, dengan kondisi kerajaan yang lemah menyebabkan Belanda dengan begitu mudah mencaplok sebagian besar wilayah kerajaan Tidore. Puncak dari kekacauan ini terjadi hingga pemerintahan Sultan Kamaluddin (1784- 1797), dimana sejarawan mencatat bahwa Sultan Kamaluddin memiliki perangai yang kurang baik sehingga mengakibatkan terjadinya banyak kerusuhan baik diluar dan didalam istana. Namun demikian lambat laun situasi mulai berubah ketika Tidore memiliki Sultan Nuku, seorang Sultan yang akan menjadikan kerajaan Tidore bangkit dari keterpurukan dan menjadikan kerajaan Tidore menjadi kerajaan terbesar di Maluku.

Pada tahun 1780, Sultan Nuku membuat gebrakan dengan memproklamasikan dirinya menjadi Sultan berdasarkan kerajaan Tidore dan menyatakan bahwa kesultanan-nya sebagai wilayah yg merdeka lepas menurut kekuasaan VOC-Belanda. Kesultanan Tidore yg dimaksudkan olehnya meliputi semua daerah Tidore yg utuh yaitu : Halmahera Tengah dan Timur, Makian, Kayoa, Kepulauan Raja Ampat, Papua Daratan, Seram Timur, Kepulauan Keing, Geser, Seram Laut, Kepulauan Garang, Watubela dan Tor.

Penghujung abad ke-18 & permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Setelah berjuang beberapa tahun, Sultan Nuku memperoleh kemenangan yg gemilang menggunakan berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Pada titik ini bahkan kebesaran Sultan Nuku bisa dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yg telah mengusir Portugis dari Ternate.

Kemenangan-kemenangan yang diraih Sultan Nuku atas VOC-Belanda juga tidak lepas dari kondisi politik yang terjadi di Eropa terlebih negeri Belanda. Pada tahun 1794, Napoleon Bonaparte menyerbu Belanda yang mengakibatkan Raja Willem V mengungsi ke Inggris. Selama menetap di Inggris, ia mengeluarkan instruksi ke seluruh Gubernur Jenderal daerah jajahannya agar menyerahkan daerahnya ke Inggris supaya tidak jatuh ke tangan Perancis. Tahun 1796, Inggris menduduki daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Ditambah dengan bubarnya VOC pada Desember 1799, maka hal ini semakin memperlemah kedudukan Belanda di Kepulauan Maluku dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh Sultan Nuku untuk merebut kembali kekuasaan yang diambil oleh VOC-Belanda.

Pada tanggal 14 November 1805, akhirnya Tidore kehilangan seorang sultan yang pada masa hidupnya dikenal sebagai “Jou Barakati” atau di kalangan orang Inggris disapa dengan “Lord of Forrtune”. Wafatnya Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan bagi rakyat Malaku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.

Hal yg diingat oleh warga Malaku, Tobelo, Galela dan Lolada tentang Sultan Nuku adalah sifatnya yang mempunyai kecerdasan dan karisma yg bertenaga, Sultan Nuku pula terkenal akan keberanian & kekuatan batinnya. Sultan Nuku-lah seorang Sultan berdasarkan kerajaan Tidore yang berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang didalamnya terdapat kemauan dan kemampuan buat bangkit & melepaskan diri berdasarkan segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan.

Asal: Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia oleh Binuko Amarseto

Bourbon

No comments:
Write comments