Senin, 18 Mei 2020

Pengertian Fabel, Sejarah dan Contohnya

Pengertian Fabel, Sejarah dan Contohnya

Pengertian Fabel - Menurut kamus besar bahasa Indonesia, fabel yang berasal dari bahasa Inggris fable adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang.

Fabel adalah dongeng yg ditokohi hewan peliharaan & binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, hewan melata (reptillia), ikan, & serangga. Binatang-binatang itu pada cerita jenis ini bisa berbicara dan berakal budi misalnya manusia (Danandjaja, 2002, h.86).

Dengan demikian dongeng binatang menyimbolkan hewan pada setiap ceritanya, dimana binatang - hewan itu mempunyai tabiat misalnya insan, berbicara, & berakal budi. Seolah-olah hewan itu hidup & memiliki kebudayaan warga .

Walaupun fabel atau dongeng hewan termasuk karya sastra, namun ada beberapa perbedaan yaitu: sifat cerita jenaka dan kebanyakan ditujukan buat anak-anak sebagai akibatnya alur cerita mulai menurut awal, titik klimaks hingga akhir cerita berisi pesan moral baik & selalu diakhiri secara tenang, baik-baik tanpa kekerasan. Dongeng fabel nir mengandung unsur-unsur magis, khayalan & angan-angan (seperti dalam mite & legenda). Tetapi, lebih mengedepankan kefaktualan supaya pesan moral dapat dipahami anak-anak. Itulah penerangan singkat tentang pengertian fabel. Untuk menelusuri kehadiran fabel bisa diketahui melalui sejarahnya berikut adalah.

Sejarah Fabel pada Indonesia

Kemunculan dongeng binatang (fabel) di Indonesia nir lepas menurut sejarah perkembangan Indonesia dimasa lampau, dimana agama Hindu-Budha sebagai agama secara umum dikuasai ketika itu. Sugiarto (2009) berpendapat bahwa:

Fabel awalnya timbul di India, pengarang fabel menggunakan tokoh hewan menjadi pengganti insan, atas dasar kepercayaan bahwa hewan bersaudara dengan insan. Adapun tujuan dongeng fabel ini buat memberi nasehat secara halus (secara ibarat) kepada Raja Dabsyalim, Raja India masa itu. Raja tadi memerintah secara zalim kepada rakyatnya. Sehingga masyarakat menciptakan nasehat buat rajanya dengan bercerita yang memakai binatang sebagai tokohnya, dimana bila nasehat itu apabila ditunjukkan langsung pada raja, maka rakyat tersebut akan mendapatkan ancaman dari raja.

Bertepatan dengan masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia, maka fabel masuk kesustraan Melayu Lama Indonesia dan berkembang dalam zaman tadi. Ini dibuktikan sang salah satu peneliti Dixon, menurut Dixon (seperti dikutip Danandjaja, 2002) dongeng tokoh penipu sang Kancil masih ada pada Indonesia dalam daerah-wilayah yg paling kuat mendapat pegaruh Hinduisme, yg erat hubungannya dengan kerajaan Jawa Hindu menurut abad VII hingga dengan abad XIII. Hipotesanya diperkuat menggunakan bukti-bukti bahwa dongeng oleh Kancil jua masih ada di Melanesia dan Asia Tenggara ke Timur, yang nir memiliki hubungan menggunakan kebudayaan Hindu. Baca pula: pengertian dongeng & karakteristik-cirinya.

Menurut Sir Richard Windsted (misalnya dikutip Danandjaja, 2002) bahwa pada abad II Sebelum Masehi pada suatu Stupa pada Barhut Allahabad India telah diukirkan orang adegan-adegan dongeng hewan (fabel) yg berasal berdasarkan cerita kepercayaan Budha, yang populer menjadi Jatakas.

Berdasarkan rekonstruksi Windsted, dongeng binatang itu menyebar keluar India, bukan saja kearah barat menuju ke Afrika, tetapi juga kearah timur menuju ke Indonesia & Malaysia bagian barat. Bukti-bukti yg dikemukakan Windsted sudah memperkuat hipotesisnya bahwa persamaan dongeng- dongeng pada Asia Tenggara (Indonesia & Malaysia), Afrika & India adalah sebagai akibat difusi, bukan merupakan inovasi yang berdiri sendiri ( independent invention ), atau inovasi sejajar ( parallel invention). Selanjutnya masuknya agama Islam pada abad XIII bersamaan menggunakan ikut masuknya tulisan Arab (Kristantohadi, 2010), masyarakat pribumi mulai menggunakan budaya tulis & digunakan secara menyeluruh. Oleh karena itu, dongeng hewan (fabel) ditulis memakai bahasa Arab & diubah dari cerita-cerita Hindu sebagai bentuk hikayat dalam Islam, menggunakan tujuan untuk menyebarluaskan kepercayaan Islam pada kalangan pribumi.

Salah satu contohnya yaitu Hikayat Khalilah & Daninah. Hikayat ini adalah sebuah terjemahan menurut bahasa Arab. Meskipun demikian, karya sastra ini bukanlah karangan asli dalam bahasa Arab, melainkan sebuah terjemahan berdasarkan bahasa Persia. Karangan pada bahasa Persia ini merupakan terjemahan berdasarkan bahasa Sansakerta. Karya ini adalah kumpulan fabel karya Baidaba, seseorang filsuf yg hayati dalam abad ke-3 masehi, nama orisinil karya tersebut yaitu Karna & Damantaka (Sugiarto, 2009, h.18).

Dalam suatu kebudayaan, binatang - hewan itu umumnya terbatas dalam beberapa jenis. Di Eropa (Belanda, Jerman, dan Inggris) binatangya merupakan rubah (fox) yg bernama Reinard de Fox. Di Amerika tokoh binatangnya kelinci, dan di Indonesia binatangnya adalah pelanduk (kancil) yg acapkali diberi nama si kancil (Danandjaja, 2002, h.86).

Dalam setiap cerita niscaya ada lawannya sama halnya dalam dongeng hewan (fabel), nir seluruh binatang mempunyai sifat-sifat yg baik namun terdapat juga tokoh hewan yang memilik sifat pandir, yg selalu menjadi versus oleh tokoh utama, di Indonesia tokoh itu adalah harimau. Dalam dongeng hewan (fabel) Indonesia, tokoh yg paling populer merupakan sang Kancil, tokoh hewan licik ini didalam ilmu folklor dan antropologi disebut menggunakan kata the trickster atau tokoh penipu.

McKean (seperti dikutip Danandjaja, 2002) sudah mencoba mengulas dongeng kancil dengan mempergunakan dua macam pendekatan, yakni: pertama historis-difusionis, & strukturalis. Menurut McKean metode ini dapat mengungkapkan hipotesis tabiat bangsa Indonesia (lebih khusus lagi orang Jawa). Metode difusionisme bisa menunjukkan berasal dongeng oleh kancil, namun tidak bisa memberitahuakn bagaimana dongeng-dongeng itu herbi kebudayaan setempat. Untuk dapat mengerti kenyataan itu McKean telah mencoba mencarinya menggunakan bantuan metode analisis strukturalis. Dengan metode strukturalis ini, dapat diketahui kepribadian folk Jawa, yg mendukung dongeng oleh kancil. Dimana masyarakat Jawa dalam mengasuh anaknya mempergunakan dongeng oleh kancil, buat menanamkan nilai- nilai yg terkandung didalam dongeng itu ke dalam benak anak-anaknya. Karena kancil mewakili tipe ideal orang Jawa (Melayu - Indonesia) sebagai lambang kecerdikan yg hening pada menghadapi kesukaran, selalu dapat menggunakan cepat memecahkan kasus-masalah yg rumit tanpa poly ribut & emosi.

Demikian penjelasan buat memahami pengertian fabel & sejarahnya termasuk contoh-model fabel yg hadir & dikenang sampai saat ini. Semoga berguna.

Tidak ada komentar:
Write komentar