Senin, 04 Mei 2020

Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam

Peranan Guru Pendidikan Agama Islam pada dasarnya sama dengan peran guru umum lainnya, yakni sama-sama berusaha untuk memindahkan ilmu pengetahuan yang ia miliki kepada anak didiknya, agar mereka lebih banyak memahami dan mengetahui ilmu pengetahuan yang lebih luas. Akan tetapi peranan guru pendidikan agama Islam selain berusaha memindahkan ilmu (transfer of knowledge), ia juga harus menanamkan nilai- nilai agama Islam kepada anak didiknya agar mereka bisa mengaitkan antara ajaran-ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam Mengacu pada pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2000: 31), dikemukakan bahwa sehubungan dengan peranan pengajar menjadi ?Pengajar?, ?Pendidik? & ?Pembimbing?, senantiasa akan mendeskripsikan pola tingkah laku yang diperlukan dalam banyak sekali interaksinya, baik dengan murid, pengajar maupun menggunakan staf yang lain, menurut berbagai kegiatan hubungan belajar mengajar, dapat dicermati pengajar sebagai sentral bagi peranannya, sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian berdasarkan waktu & perhatian guru banyak dicurahkan buat menggarap proses belajar mengajar dan hubungan menggunakan siswanya.

Selanjutnya, Syaiful Bahri Djamarah (2000: 37) dalam bukunya yg berjudul ?Pengajar Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif?, menjelaskan & mengungkapkan peranan guru pendidikan kepercayaan Islam merupakan seperti diuraikan dalam sejumlah kiprah di bawah ini:

1. Korektor

Sebagai korektor, seseorang guru harus mampu membedakan mana nilai yang baik & mana nilai yg buruk, ke 2 nilai yang tidak selaras itu wajib benar -betul dipahami dalam kehidupan pada masyarakat, kedua nilai mungkin siswa sudah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yg berbeda-beda sinkron dengan sosiokultural masyarakat dimana anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya.

Semua nilai yang baik harus pengajar pertahankan & seluruh nilai yang jelek harus disingkirkan berdasarkan jiwa dan tabiat murid. Jika pengajar membiarkannya, berarti guru sudah mengabaikan peranannnya sebagai seseorang korektor, yang menilai & mengoreksi seluruh perilaku, tingkah laris, dan perbuatan siswa, koreksi yg wajib guru lakukan terhadap perilaku dan sifat murid tidak hanya disekolah, namun diluar sekolahpun wajib dilakukan.

Dua. Inspirator

Pengajar sebagai inspirator, maknanya pengajar wajib bisa memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar siswa, problem belajar adalah perkara primer anak didik, pengajar wajib dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik, petunjuk itu nir mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun sanggup dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yg baik. Yang krusial bukan teorinya, namun bagaimana melepaskan perkara yang dihadapi murid.

Tiga. Informatory

Sebagai infomatory, pengajar harus sanggup memberikan keterangan perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran buat setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum, kabar yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan kabar merupakan bagaikan sebuah racun bagi anak didik, untuk sebagai informatory yang baik dan efektif, dominasi bahasalah menjadi kunci, yg ditopang menggunakan dominasi bahan yang akan diberikan pada anak didik, informatory yang baik merupakan pengajar yang mengerti apa kebutuhan siswa & mengabdi buat siswa.

4. Organisator

Sebagai organisator, adalah sisi lain menurut peranan yang diharapkan berdasarkan guru, pada bidang ini pengajar mempunyai kegiatanpengelolaan aktivitas akademik, menyusun rapikan tertib sekolah, menyusun kelender akademik, dan sebagainya, yg semuanya diorganisasikan sebagai akibatnya dapat mencapai efektivitas dan efesiensi dalam belajar dalam diri anak didik.

5. Motivator

Sebagai motivator pengajar hendaknya bisa mendorong anak didik supaya bergairah & aktif belajar, pada upaya memberikan motivasi, guru bisa menganalisis motif-motif yg melatarbelakangi anak didik malas belajar & menurun prestasinya di sekolah, setiap saat pengajar harus bertindak menjadi motivator, karena pada interaksi edukatif nir mustahil terdapat diantara murid yang malas dan sebagainya.

Motivasi dapat efektif jika dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik buat lebih bergairah dalam belajar. Peranan pengajar menjadi motivator sangat penting dalam hubungan edukatif, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran social, menyangkut performance dalam personalisasi & sosialisasi diri.

Pengajar sebagai motivator hendaknya dapat mendorong agar siswa mau melakukan kegiatan belajar, guru wajib menciptakan syarat klas yang merangsang murid melakukan kegiatan belajar, baik kegiatan individual maupun kelompok. Stimulasi atau rangsangan belajar para sisa bisa ditumbuhkan berdasarkan dalam diri murid dan sanggup ditumbuhkan berdasarkan luar diri siswa.

6. Inisiator

Dalam peranan guru sebagai inisiator,  guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru harus diperbaiki, ketrampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai dengan kemajuan media komunikasi dan informasi pada saat ini, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari yang dulu-dulu, bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.

7. Fasilitator

Sebagai fasilitator pengajar hendaknya bisa menyediakan fasilitas yg memungkinkan kemudahan aktivitas belajar anak didik, lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yg pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yg kurang tersedia, mengakibatkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas pengajar bagaimana menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkungan belajar yg menyenangkan anak didik. Pengajar hanya berperan menjadi fasilitator, seperi yang diungkapkan Piaget (Paul Suparno, 2001:145) belajar yg baik terletak dalam keaktifan anak didik dalam membangun pengetahuan, kiprah guru pada sini merupakan menjadi mentor atau fasilitator dan bukan mentrasfer ilmu pengetahuan.

8. Pembimbing

Peranan guru yang tidak kalah pentingnya menurut semua peran yang telah disebutkan pada atas, merupakan guru sebagai pembimbing, peranan yg harus lebih dipentingkan, karenakehadiran pengajar disekolah merupakan buat membimbing siswa sebagai manusia dewasa susila yang cakap, tanpa pembimbing, anak didik akan mengalami kesulitan pada menghadapi perkembangan dirinya, kekurang mampuan murid menyebabkan lebih poly tergantung dalam bantuan guru, tetapi semakin dewasa, ketergantugan murid semakin berkurang. Jadi, bagaimanapun jua bimbingan menurut pengajar sangat diharapkan pada waktu murid belum sanggup berdiri sendiri (berdikari).

9. Pengelolaan kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya bisa mengelola kelas menggunakan baik, karena kelas merupakan tempat berhimpun semua siswa dan guru dalam rangka mendapat bahan pelajaran berdasarkan pengajar. Kelas yang dikelola menggunakan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya, kelas yang nir dikelola menggunakan baik akan menghambat aktivitas pedagogi, siswa tidak tidak mungkin akan merasa bosan buat tinggal lebih usang pada kelas. Hal ini akan mengakibatkan mengganggu jalannya proses interaksi edukatif, kelas yg selalu padat menggunakan siswa, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih poly tidak mengantungkan bagi terlaksananya interaksi edukatif yang optimal.

Hal ini nir sejalan menggunakan tujuan umum menurut pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan memakai fasilitas kelas bagi beragam aktivitas belajar mengajar supaya tercapai hasil yg baik & optimal. Jadi maksud dari pengelolaan kelas adalah agar murid betah tinggal pada kelas dengan motivasi yg tinggi buat senantiasa belajar di dalamnya.

10. Evaluator

Sebagai evaluator, pengajar dituntut buat sebagai seorang evaluator yg baik dan amanah, dengan menaruh penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik & instrinsik, penilaian terhadap aspek intrinsik lebih menyentuh dalam aspek kepribadian anak didik. Berdasarkan hal ini guru wajib bisa memberikan evaluasi pada demensi yg luas, jadi evaluasi itu dalam hakikatnya diarahkan pada perubahan kepribadian murid agar menjadi manusia susila yg cakap.

Sebagai evaluator, guru nir hanya menilai produk output pengajaran tetapi jua menilai proses (jalannya pengajaran). Dari ke 2 aktivitas ini akan menerima umpan pulang (feed back) tentang pelaksanaan hubungan edukatif yg telah dilakukan.

Demikian penerangan & sejumlah peranan pengajar pendidikan agama islam yg dapat kami share berdasarkan beberapa literatur. Semoga menambah wawasan pembaca yg mendalami peran guru dalam dunia pendidikan.

Tidak ada komentar:
Write komentar