Minggu, 10 Mei 2020

Sistem, Tujuan, dan Prinsip Ekonomi Islam Menurut Para Ahli

Sistem Ekonomi Islam - Sebelum diuraikan lebih jauh sampai pada pemahaman tentang prinsip ekonomi islam, terlebih dahulu kita perlu tahu arti kata tersebut mulai berdasarkan sistem. Mempersoalkan sistem sebenarnya bukan membahas hal yang baru. Memang di global ini tidak ada yang sama sekali baru. Kalau ada yang baru, sebenarnya sesuatu itu telah usang ada. Dinilai baru, karena baru ditemukan, baru diungkapkan, baru diketahui sang orang poly.

Sistem, Tujuan, dan Prinsip Ekonomi Islam Menurut Para Ahli Untuk hingga pada konvensi di antara orang-orang terhadap sesuatu yg tampaknya baru itu, terlebih dahulu terjadi pertentangan pendapat yang berlanjut dalam perdebatan. Perdebatan ini membentuk suatu keputusan yg seolah-olah baru, pada hakekatnya bukanlah hal yg baru (Onong Uchjana Effendy, Sistem Informasi pada Manajemen, Bandung: Penerbit Alumni, 1981, page 42).

Sistem merupakan sesuatu yg mempunyai bagian-bagian yg saling berinteraksi buat mencapai tujuan eksklusif melalui tiga tahapan, yaitu Input, proses dan hasil. Dalam arti luas ungkapan ?Sistem? Telah disamakan maknanya menggunakan ungkapan ?Cara?. Pada dasarnya sesuatu dapat disebut sistem jika memenuhi 2 kondisi. Pertama adalah mempunyai bagian-bagian yg saling berinteraksi menggunakan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Syarat yg kedua adalah bahwa suatu sistem harus mempunyai 3 unsur, yaitu input, proses dan hasil (Nugroho Widjajanto, Sistem Informasi Akuntansi, Jakarta: Erlangga, 2001, hlm. Dua)

Kata ekonomi diambil menurut bahasa Yunani kuno (greek), yang berarti ?Mengatur urusan tempat tinggal tangga?, dimana anggota keluarga yg sanggup, ikut terlibat pada menghasilkan barang-barang berharga dan membantu menaruh jasa (Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif;Perspektif Islam, Surabaya: Risalah Gusti, 1996, hlm. 47).

Meskipun ilmu ekonomi & sistem ekonomi sama-sama membahas ekonomi, kedua hal ini sangat tidak sinkron. Ilmu ekonomi pembahasannya mencakup kegiatan yang mengatur buat memperbanyak kekayaan. Sedangkan, sistem ekonomi nir dibedakan dari banyak sedikitnya kekayaan, bahkan sama sekali tidak terpengaruh oleh kekayaan. Sistem ekonomi masing masing memiliki hal corak, bentuk & tujuannya yang berbeda-beda. Sistem ekonomi sendiri terbagi menjadi 3 yaitu sistem kapitalis, sosialis & Islam.

Ekonomi Islam merupakan gugusan menurut dasar-dasar generik ekonomi yg diambil berdasarkan Al-Qur?An & sunnah Rasulullah serta berdasarkan tatanan ekonomi yg dibangun pada atas dasar-dasar tersebut. Dari ke 2 dasar tersebut secara konsep dan prinsip merupakan tetap, tetapi pada praktiknya buat hal-hal dan situasi dan syarat eksklusif bisa saja berlaku luwes terdapat juga yg mampu mengalami perubahan (Ahmad Izzan, Syahril Tanjung, Referensi Ekonomi Syariah Ayat-ayat Al-Qur?An yg Berdimensi Ekonomi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006, hlm. 32).

Yang dimaksud sistem ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang dilaksanakan dalam praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-hari pada rangka mengorganisasi faktor produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang dan jasa yang didapatkan tunduk dalam peraturan perundang-undangan Islam. Dengan demikian, peraturan perundangan perekonomian Islam adalah Al-Qur?An dan Sunnah (Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Cet. 1, Jakarta: Sinar Grafika, 2000, h. 14).

Sistem ekonomi Islam yang berlandaskan dalam Al-Qur?An dan sunnah dalam seluruh uraiannya selalu memandang insan secara utuh, sebagai akibatnya Al-Qur?An pada memaparkan ajarannya dengan memperhatikan kepentingan individu & warga . Individu dilihatnya secara utuh, fisik, logika, dan kalbu, dan masyarakatdihadapinya menggunakan menekankan adanya grup lemah & bertenaga, namun tidak menjadikan mereka dalam kelas-kelas yang saling bertentangan sebagaimana halnya komunis, tetapi mendorong mereka semua buat bekerja sama guna meraih kemaslahatan individu tanpa mengkorbankan rakyat atau kebalikannya (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur?An dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 194).

Sistem ekonomi Islam lahir sebagai sistem yang bisa memberikan kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Lantaran Islam memandang masalah ekonomi tidak berdasarkan sudut pandang kapitalis yg memberikan kebebasan dan hak pemilikan kepada individu & menggalakkan usaha secara perorangan. Tidak juga berdasarkan sudut pandangsosialis yg ingin menghapuskan seluruh hak individu dan membuahkan mereka misalnya budak ekonomi yg dikendalikan sang negara. Tetapi Islam membenarkan sikap mementingkan diri sendiri tanpa membiarkannya merusak warga (Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid I, Jakarta: PT. DanaBhakti Wakaf, 1995, h. 10).

Di bawah sistem ekonomi Islam, penumpukan kekayaan sang sekelompok orang dihindarkan & langkah-langkah dilakukan secara otomatis buat memindahkan aliran kekayaan kepada anggota rakyat yang belum bernasib baik.

Keberhasilan sistem ekonomi Islam terletak pada sejauh mana keselarasan atau ekuilibrium dapat dilakukan diantara kebutuhan & kebutuhan etika manusia. Sistem ekonomi berfungsi atau bekerja buat mencapai tujuan atau hasil eksklusif yg mempunyai nilai. Sistem ekonomi wajib tersusun menurut seperangkat nilai-nilai yang bisa menciptakan kerangka organisasi aktivitas organisasi aktivitas ekonomi menurut kerangka referensi eksklusif. Sehingga bisa diungkapkan tiga komponen penting yang menyusun eksistensinya suatu ekonomi yaitu filsafat sistem, nilai-nilai dasar sistem & nilai fragmental sistem (Ahmad M. Saefuddin, Studi Nilai-nilai Sistem Ekonomi Islam, Cet. 1, Jakarta: Media Dakwah, 1984, h. 15).

Filasafat sistem ekonomi yang Islami adalah cara lain jalur keluar bagi ahli pikir yang mempunyai sikap jujur pada mencari kebenaran. Filsafat dari ilmu ekonomi yg paradigmanya relevan menggunakan nilai-nilai logik, etik & estetik sebagai akibatnya dapat difungsionalkan pada tingkah laris ekonomi insan.

Tujuan Ekonomi Islam

Menurut As-Shatibi tujuan utama syariat Islam adalah mencapai kesejahteraan manusia yg terletak pada proteksi terhadap 5 kemashlahah-an, yaitu keimanan (ad-dien), ilmu (al-?Ilm), kehidupan (an-nafs), harta (al-maal), & kelangsungan keturunan (an-nasl). (Saefuddin, Studi Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam, h.79-104).

Mashlahah dicapai hanya apabila kehidupan manusia hidup dalam ekuilibrium, diantaranya meliputi keseimbangan antara moral & spiritual sebagai akibatnya terciptanya kesejahteraan yang hakiki. Tujuan ekonomi Islam lainnya memakai pendekatan antara lain :

(a) konsumsi manusia dibatasi hingga pada taraf yang diharapkan & bermanfaat bagi kehidupan insan, (b) alat pemuas kebutuhan insan seimbang dengan tingkat kualitas insan supaya beliau sanggup menaikkan kecerdasan dan kemampuan teknologinya guna menggali asal-sumber yang masih terpendam, (c) pada pengaturan distribusi & sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus diterapkan, (d) pemerataan pendapatan dilakukan dengan mengingat asal kekayaan seseorang yg diperoleh berdasarkan bisnis halal, maka zakat sebagai sarana distribusi pendapatan adalah wahana yang ampuh (Halide, Majalah, Mimbar Ummi, 1982, hlm. 15)

Secara umum tujuan ekonomi dalam Islam adalah buat menciptakan al-falah atau kemenangan, keselamatan dan kebahagian global dan akhirat. Untuk mencapai hal demikian maka insan harus bekerja keras mencari rezeki dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya baik yang bersifat materi juga non material (rohaniah), serta berbuat baik menggunakan harta yg dimilikinya menggunakan memperhatikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan ajaran Islam, berupa pelaksanaan perintahnya dan menjauhkan larangannya supaya tercipta kemashlahatan yang sesungguhnya baik buat dirinya sendiri dan orang lain (Anwar Abbas, Dasar-Dasar Sistem Ekonomi Islam, Jakarta: Fakultas Syariah Dan Hukum, Uin Syahid, 2009, h. 14)

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam

Salah satu bukti ketidakmampuan manusia membagi rezeki duniawi adalah cita-cita seluruh manusia buat meraih sebanyak mungkin untuk diri dan keluargnya. Namun ternyata, poly yg nir memperoleh dambaannya, bahkan manusia durhaka tidak pernah merasa puas menggunakan perolehanya. Lantaran itu Allah yang membaginya dengan cara dan kadar yang bisa mengantar terjalinnya hubungan timbal kembali antara anggota masyarakat.

Pada umumnya nilai-nilai Islam termasuk dalam bidang ekonomi terangkum dalam empat prinsip, yaitu tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, & tanggung jawab (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur?An Tafsir Maudhu?I, Bandung: Mizan,1998, h. 402.).

A. Tauhid

Prinsip pertama pada sistem ekonomi Islam adalah tauhid. Dari sinilah lahir prinsip-prinsip yang bukan saja dalam bidang ekonomi, namun pula menyangkut segala aspek kehidupan global & akhirat (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur?An dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 198).

Tauhid dapat diibaratkan sebagai matahari sebagai sumber kehidupan di bumi dan planet sekelilingnyA. Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah Swt. (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 402).

B. Keadilan & Keseimbangan

Prinsip ekonomi islam yg kedua ini dimaksudkan bahwa semua kebijakan & kegiatan ekonomi wajib dilandasi paham keadilan, yakni mengakibatkan imbas positif bagi pertumbuhan dan pemerataan pendapatan & kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Adapun yang dimaksud menggunakan ekuilibrium adalah suatu keadaan yg mencerminkan kesetaraan antara pendapatan & pengeluaran, pertumbuhan & pendistribusian dan antara pendapatan kaum yang sanggup kurang sanggup (Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, h. 415).

C. Kehendak bebas

Kehendak bebas merupakan prinsip yang mengantar seseorang Muslim menyakini bahwa Allah Swt. Mempunyai kebebasan mutlak, namun insan jua mendapatkan anugerah kebebasan buat memilih jalan yang terbentang dihadapannya baik dan jelek. Manusia yang baik pada sisi-Nya adalah manusia yang bisa memakai kebebasan itu dalam rangka penerapan tauhid & keseimbangan. (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur?An dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 403).

Setiap orang dapat menikmati kebebasan sepenuhnya buat berbuat sesuatu atau mengambil pekerjaan apapun atau memanfaatkan kekayaan dengan cara yang ia sukai. (Afzalur Rahman, Al-Qur?An Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. H. M. Arifin, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000, h. 194).

D. Tanggung Jawab

Menurut Islam, bahwa benar-benar manusia diberikan kebebasan buat menentukan jalan hidup & memilih bidang usaha ekonomi yg akan dilakukan, tetapi kebebasannya ini wajib bertanggungjawab. (Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, h. 419).

Konsepsi tanggung jawab dalam Islam secara komprehensif dipengaruhi. Ada 2 aspek menurut konsep ini yang harus dicatat semenjak awal. Pertama, tanggung jawab menyatu menggunakan status kekhalifahan manusia keberadaannya menjadi wakil Tuhan pada muka bumi. Kedua, konsep tanggung jawab dalam Islam pada dasarnyabersifat sukarela & nir wajib dicampuradukkan dengan ?Pemaksaan? Yg ditolak sepenuhnya sang Islam.

Demikian secara ringkas penerangan herbi sistem ekonomi islam, tujuan ekonomi islam dan sejumlah Prinsip Ekonomi Islam yang dapat kami share melalui blog ini. Semoga dapat member manfaat bagi para pembaca.

Tidak ada komentar:
Write komentar