Kamis, 25 Juni 2020

Cara Meramal Jodoh dan Apa Saja, Itu Cara Kuno!

Cara Meramal Jodoh dan Apa Saja, Itu Cara Kuno!

Cara meramal jodoh dan apa saja, ternyata adalah cara kuno. Suka meramal ternyata tradisi orang kuno. Tradisi meramal yang menjadi trend di era milenium ini, sejatinya merupakan tradisi purba warisan leluhur di zaman jahiliyah. Aneh memang, di zaman serba canggih dan serba rasional ini, orang-orang yang ngakunya intelek dan pintar malah kembali pola pikirnya ke zaman batu.

1. Zaman Pra Sejarah

Pada masa ini dikenal ramalan nasib melalui tangan. Orang Cina sudah

menggunakan kaedah ramalan ini sejak 5.000 tahun lalu. Aristu sudah menulis risalah berkenaan ramalan melalui tangan ini pada 350 Sebelum Masehi. Ilmu ramalan melalui tangan ini turut dipelajari oleh orang Roma, India (lihat Ramalan melalui Tangan Vedik), Cina (lihat Ramalan melalui Tangan Cina), Arab, Ibrani, Melayu & Mesir.

2. Zaman Jahiliyah pada Arab

Di zaman ini, poly pakar nujum yg menghubung-hubungkan segala insiden menggunakan kejadian alam seperti eklips matahari atau jatuhnya meteor ke bumi. Menurut mereka, gerhana mentari pertanda seorang pemimpin akan tewas dunia. Ketika meteor di langit bergeser & jatuh ke bumi atau tempat lainnya, maka pakar nujum menyampaikan bahwa telah lahir seorang anak yg cerdas dan hebat. Sedangkan anak yang lahir pada malam bulan purnama, diramalkan kelak akan sebagai orang kaya raga.

Hingga Nabi Muhammad Saw hayati pada 14 abad silam, eksistensi ahli nujum ini masih dipercayai sebagian masyarakat. Misalnya pada insiden meninggalnya putra Beliau Ibrahim, kebetulan bersamaan dengan itu terjadi eklips surya. Orang-orang ramai mengkaitkan terhadinya gerhana matahari itu menggunakan meninggalnya Ibrahim. Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah Saw agar mengumpulkan kaum muslimin pada masjid buat melaksanakan sholat kusuf (sholat gerhana mentari ). Seusai sholat Rasulullah bersabda: "Bahwa surya dan bulan itu merupakan 2 tanda menurut pertanda-pertanda kebesaran Allah dan eklips surya ini tidak terdapat kaitannya menggunakan kematian atau kehidupan seseorang." ( HR Bukhori Muslim ).

Tiga. Masa Khulafaur Rasyidin

Sepeninggal Rasulullah Saw, yakni dalam masa kejayaan Islam selama 13 abadpun, para pakar nujum alias tukang ramai masih pula berkeliaran. Misalnya pada masa Khulafaur Rasyidin. Dikisahkan, saat Khalifah Ali bin Abi Tholib ra beserta tentaranya ingin berangkat memerangi pasukan Khowarij, tiba- datang datang seseorang pakar nujum menemui Imam Ali. Berdasarkan posisi bintang-bintang dia meramalkan bahwa Imam Ali akan menemui kekalahan bila tetap berangkat berperanga waktu itu. Ali mengungkapkan: "Saya permanen akan pulang menggunakan berbekal iman kepada Allah & bertawakal pada-Nya saja, sekaligus buat membongkar kebohongan-mu."

Maka beliau tetap berangkat dan akhirnya bisa mengalahkan tentara Khowarij. Demikianlah, tradisi ramal-meramal adalah kebiasaan kuno yang mestinya ditinggalkan oleh orang-orang yang mengaku modern. Jadi, cara meramal jodoh dan apa saja, itu cara kuno! Tradisi itu memang bukan bagian dari syariat Islam.

Tidak ada komentar:
Write komentar