Kamis, 11 Juni 2020

Hati-Hati Jajanan Anak Sekolah, Berbahaya!

Jajanan anak sekolah perlu lebih diperhatikan keamanannya ka­rena berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sekolah. Makanan yang sering menjadi sumber keracunan adalah ma­kanan ringan dan jajanan, karena biasanya makanan ini merupakan hasil produksi industri makanan rumahan yang kurang dapat menja­min kualitas produk olahannya.

Makanan jajan anak sekolah cenderung menggunakan bahan pengawet, pewarna, aroma, penyedap, & pemanis, sebagai akibatnya meng?Ancam kesehatan anak. Duduk perkara itu adalah perkara keamanan dimana masih ditemukannya produk kuliner yg tidak memenuhi persyaratan mutu & keamanan yang menyebabkan banyaknya perkara keracunan makanan. Disamping masih rendahnya pengetahuan pa?Ngan dan tanggung jawab penghasil dan rendahnya pengetahuan dan kepedulian konsumen mengenai mutu dan keamanan pangan.

Menurut penelitian Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) tahun 2004, sebagian kuliner jajanan anak sekolah itu mengandung bahan kimia berbahaya. Dari 163 sampel jajanan anak yg diuji pada 10 provinsi, sebanyak 80 sampel atau 50 persennya tidak memenuhi syarat mutu & keamanan. Kebanyakan jajanan yang bermasalah itu mengandung boraks, formalin, zat pengawet, zat perwarna berbahaya, serta tidak mengandung garam beryodium. Sedikitnya 19.465 jenis ma?Kanan dijadikan sampel pengujian tersebut. Hasilnya, sebanyak lima,6% sampel nir layak diedarkan. Sebanyak 185 item mengandung pewar?Na berbahaya, 94 item mengandung boraks, 74 item mengandung formalin, & 52 item mengandung benzoat atau pengawet pada kadar berlebih. Badan POM lalu menariknya menurut sirkulasi buat dimusnahkan.

Hati-Hati Jajanan Anak Sekolah, Berbahaya!

Di samping itu, Badan POM juga menilik sebanyak 1.335 unit sarana industri kuliner. Hasilnya, sebesar 36 berdasarkan 267 industri yang terdaftar produknya, belum memenuhi persyaratan. Dari 927 unit in?Dustri rumah tangga berizin SP yang diperiksa, ternyata ditemukan sebesar 542 unit sarana belum memenuhi persyaratan.

Berdasarkan data insiden luar biasa (KLB) dalam JAS tahun 2004?-2006, gerombolan murid sekolah dasar (Sekolah Dasar) paling seringkali mengalami keracunan pangan. Hasil survei yang dilakukan pada Bogor dalam tahun 2004 menyatakan sebesar 36% kebutuhan tenaga anak sekolah diperoleh menurut pangan jajanan yg dikonsumsinya. Akan tetapi, tingkat keamanan pangan jajanan memprihatinkan. Penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin & rhodamin B oleh pembuat pa?Ngan jajanan adalah galat satu model rendahnya taraf pengetahuan pembuat mengenai keamanan pangan jajanan. Ketidaktahuan produ?Sen mengenai penyalahgunaan tadi dan praktik higiene yg ma?Sih rendah merupakan faktor utama penyebab perkara keamanan pangan jajanan. Kondisi seperti ini bisa mengakibatkan penyakit akibat pangan dalam anak-anak baik secara akut juga kronis.

Hasil survei sang Badan POM tahun 2007 menampakan 45% pro?Duk pangan olahan dan siap saji pada lingkungan sekolah ternoda baik fisik, mikrobiologis, juga kimia. Selain ternoda mikroba, banyak produk pangan mengandung formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.

Pada penelitian yang dilakukan pada Bogor sudah ditemukan Salmo?Nella Paratyphi A pada 25%-50% sampel minuman yg dijual pada kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi pada daerah Ja?Karta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yg seringkali dikon?Sumsi sang anak-anak sekolah merupakan lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso menggunakan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji laboratorium, pada otak-otak & bakso ditemukan boraks, memahami goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, & es sirop merah positif mengan?Dung rhodamin B.

Belakangan pula terungkap bahwa reaksi simpang makanan ter?Tentu ternyata dapat memengaruhi fungsi otak termasuk gangguan konduite pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut mencakup gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, asma, alergi, hiperaktif, & memperberat gejala dalam penderita antis. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini mengakibatkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan ke?Sulitan buang air besar . Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) berdasarkan WHO yang mengatur & mengevaluasi baku BTP melarang penggunaan bahan kimia tadi pada makanan. Standar ini pula diadopsi oleh Badan POM & Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes Nomor 722/Menkes/Per/IX/1998.

Hiroshi Osawa, seorang profesor dari Universitas Iwate, Jepang, sejak tahun 1984 telah meneliti konduite kekerasan remaja Jepang. Hasil penelitian menampakan bahwa tindakan kekerasan tadi diakibatkan oleh konsumsi minuman ringan dalam kaleng atau botol & kuliner junk food yg terlalu banyak. Selain itu, hasil penelitian jua menunjukkan hubungan antara konduite pemarah & menu?Runnya konsentrasi dengan ketidakseimbangan metabolisms glukosa pada otak. Ketidakseimbangan ini erat kaitannya dengan konsumsi gala & karbohidrat olahan hiperbola.

Bagi anak yang sensitif, pengawet dan pewarna bisa mencetus?Kan tanda-tanda alergi baik dalam tubuh & otaknya, pada samping itu pula menimbulkan tanda-tanda diare. Alergi dalam zat-zat aditif atau zat-zat ter?Tentu dalam kuliner, bisa memengaruhi suasana hati, perilaku, dan proses berpikir. Bahkan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko kanker. Zat-zat pada kuliner lain (secara nir eksklusif) yg dapat mengganggu kegiatan massa penghantar saraf otak (neu?Rotransmiter) pada otak, di antaranya: aroma sintetis, monosodium glu?Tamat (MSG), atau salisilat sintetis. Asupan MSG dalam jumlah ba?Nyak yg monoton pada jangka pendek akan membuat anak jadi haus, pusing, & mual.

Pengaruh konsumsi MSG berlebihan terhadap tubuh bisa melalui beberapa cara, yaitu:

  1. Memengaruhi aktivitas otak atau mengacaukan pembentukan serta pengeluaran neurotransmiter yang memodifikasi suasana hati.
  2. Mengganggu atau mengharnbat aliran neurotransmiter sehingga saraf penerima pesan tidak dapat memahami sinyal listrik yang dikirim.
  3. Memengaruhi enzim-enzim yang mengatur aktivitas neurotrans­miter.

Gejala atau pengaruh yg disebabkan oleh zat-zat produsen alergi tadi bisa bervariasi, misalnya kurang gairah belajar, kurang kon?Sentrasi, meningkatnya kenakalan, mudah mengantuk, cemas, & daya ingat berkurang. Karma efeknya samar dan nir begitu konkret, orangtua seringkali mengabaikan. Kalau anak malas belajar, dipercaya ka?Rena terlalu sering nonton televisi atau main video game.

Wawancara menggunakan PKL, menunjukkan bahwa mereka nir tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual. BTP ilegal sebagai primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima hukuman alam harganya murah, bisa menaruh penampilan makanan yg me?Narik (misalnya warnanya sangat cerah sebagai akibatnya menarik perhatian anak-anak) dan gampang didapat. Lebih jauh lagi, kita ketahui bahwa kuliner yg dijajakan sang PKL umumnya tidak dipersiapkan de?Ngan secara baik & higienis.

Kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman, mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air higienis serta fasilitas cuci & buang sampah. Terjadi nya penyakit. Bawaan kuliner dalam jajanan kaki lima bisa berupa kontaminasi baik berdasarkan bahan standar, penjamah kuliner yg nir sehat, atau alat-alat yg kurang bersih, pula ketika & temperatur penyimpanan yg tidak tepat.

Menurut survei Yayasan Kusuma Buana, sebuah LSM pada Jakarta yang beranjak pada bidang kesehatan, relatif banyak anak yang berang?Kat ke sekolah tanpa sarapan (16,9% berdasarkan 3.495 anak didik yang diteliti). Akibatnya, mereka jajan pada warung dekat sekolah atau pedagang kaki 5 di sekitar sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2001/2002 di 13 Sekolah Dasar pada Jakarta, ternyata kesibukan orang tua di pagi hari atau belum adanya kesukaan makan pada pagi hari sebagai alasan anak berangkat sekolah tanpa sarapan. Tetapi demikian, pola jajan pada sekolah ternyata dilakukan pula sang murid yg sudah sarapan pada rumah masing-masing.

Ketika jajanan ana k di kurang lebih sekolah-sekolah tadi diteliti di La?Boratorium Institut Pertanian Bogor, menurut 34 sampel kuliner & 15 sampel minuman yang diteliti, tenyata 58,8% makanan & 73,3% mi?Numan mengandung bakteri E. Coli & enterobacter (penyebab diare), zat pewarna, zat pengawet, atau pemanis buatan sakarin.

Sementara para siswanya, tiga.160 orang, waktu diperiksa darahnya, sebanyak 1.565 anak ternyata mengidap anemia (kurang darah). Saat 332 orang di antaranya diperiksa secara rambang, sebesar 18,1 % menderita kurang gizi.

Setelah rakyat Indonesia dihantui ketakutan mengonsumsi mie basah, tahu, & ikan, karena kandungan formalinnya tinggi sekarang per?Hatian tampaknya akan beralih ke jajanan anak sekolah. Pasalnya, Ba?& Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan berita barn. Sekitar 60% jajanan anak sekolah seperti minuman ringan, es cendol, & kue ringan lainnya nir layak konsumsi karena mengandung zat pewarna tekstil serta 50% pada antaranya mengandung unsur mikroba. Kedua unsur ini membahayakan kesehatan manusia karena zat pewarna tekstil dan mikroba pada anak-anak akan menyebabkan reaksi alergi, asma, & hiperaktif dalam anak dan pengaruh kurang baik terhadap otak dan perilaku anak. Survei dilakukan BPOM Pusat tahun 2005 dan di?Lakukan di 18 provinsi berpenduduk padat pada Indonesia pada mana 816 sampel yg diambil terindikasi zat tersebut.

Demikian uraian tentang bahaya jajanan anak sekolah , semoga anak-anak kita dapat terus diawasi demi kesehatannya. Tulisan ini bersumber dari Buku Pengantar Gizi Makanan Cetakan Ke-2, Mei 2013 yang ditulis oleh Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Universitas Airlangga yang juga adalah Ketua Dewan Pakar Gizi Klinik Rumah Sakit Tropis UNAIR, Prof. dr. Bambang Wijatmadi. M.S.,MCN.,Ph.D.,Sp.Gk bersama Dr. Merryana Adriani, SKM., M.Kes yang juga adalah peneliti di bidang kesehatan masyarakat dan diterbitkan oleh Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Semoga bermanfaat !

Tidak ada komentar:
Write komentar