Kamis, 25 Juni 2020

Jauhi Sifat Sombong

Orang yg merasa dirinya kudus termasuk bagian berdasarkan kesombongan, karena sudah menempatkan dirinya dalam posisi tertentu yang secara spiritual lebih tinggi dibanding yang lain. Apabila perasaan suci itu dinampakkan secara pasif diklaim ujub, akan tetapi bila telah dimanifestasikan secara aktif menjadi kibr atau takabur (kesombongan). Baik kesombongan yg disembunyikan (pasif) maupun kesombongan yang dinampakkan (aktif) sama bahayanya, baik buat diri mereka sendiri juga bagi orang lain.

Makhluk pertama yg memperlihatkan secara terang-terangan kesombongannya adalah iblis, hanya lantaran dia merasa asal penciptaannya lebih baik dibanding menggunakan berasal penciptaan Adam. Ia menolak dipersamakan menggunakan Adam, apalagi harus sujud kepadanya. Perbedaan berasal penciptaan itulah yang menginspirasi iblis menyombongkan diri di hadapan penciptanya sendiri, Allah Subhanahu wa Ta?Ala. ?Aku lebih baik

daripadanya, Engkau ciptakan aku berdasarkan api, sedang beliau Engkau ciptakan berdasarkan tanah.? (Al-A?Raf [7]: 12).

Inspirasi kesombongan itu mampu tercetus dari banyak sekali hal yg dipercaya istimewa atau lebih dari yg lain. Seseorang bisa menyombongkan kekuasaan yg dimilikinya, sebagaimana Fir?Aun yang menyampaikan, ?Bukankah kerajaan Mesir itu milikku?.?? (Az-Zukhruf [43]: 51).

Bisa pula orang menyombongkan kekayaannya, sebagaimana Qarun yg mengklaim, ?Sesungguhnya saya diberi harta itu hanya lantaran ilmu yg ada padaku.? (Al-Qashash [28]: 78).

Orang berilmu mampu jadi menyombongkan kepandaiannya, padahal ilmu yg diberikan kepada manusia itu amat sangat sedikit.

Wahai orang-orang yg arogan, bukan karena hijab dari Allah Ta?Ala sesungguhnya tidak sedikitpun tampak kebaikan pada diri kalian. Seandainya Allah membuka hijab kita, akan terbukalah banyak sekali skandal akbar dan mini yg sangat memalukan. Ilmu yg kita sombongkan melalui gelar, sertifikat, tingkatan kesarjanaan, & lain sebagainya sanggup jadi output dari sebuah kecurangan. Pernahkan kita menyontek? Menyadur karya orang lain secara sembunyi-sembunyi? Mendebat tanpa ilmu? Berlagak tahu padahal tidak tahu?

Kalau bukan lantaran Allah menutupi kelemahan kita, sungguh tak seseorang pun hormat pada kita. Boleh jadi kita saat ini sebagai pemimpin yg dihormati, tapi di kembali itu benar-benar banyak konduite tidak terpuji yg tidak patut ditiru atau diteladani. Kalau orang lain mengetahui, benar-benar kita membuat malu sendiri.

Ketahuilah, orang-orang yg telah berceloteh mengenai kemuliaan garis keturunannya adalah orang yang gagal. Orang yg berbicara tentang kejayaan masa lalunya adalah orang-orang yg ndeso. Sedangkan orang-orang yang membanggakan kesalehannya dan mempersaksikan kepada orang lain merupakan orang yg tertipu. Orang yang mengungkapkan dirinya suci adalah orang yang patut disangsikan kebenarannya.

Biarlah Allah yg menilai apakah kita termasuk golongan yang kudus, karena Dia-lah yg Maha Tahu dan mempersaksikan setiap konduite, perilaku, dan apa pun yg tersembunyi menurut pikiran dan perasaan kita yg paling pada. Sebagaimana ditegaskan-Nya :

?Dan janganlah engkau menduga dirimu kudus, Dia-lah yg paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.? (An-Najm [53]: 32).

Tidak ada komentar:
Write komentar