Friday, June 12, 2020

Keruntuhan Kerajaan Demak

Raden Patah berlangsung dalam akhir abad ke-15 hingga awal abad ke 16. Beliau wafat pada tahun 1518 ketika usaha Raden Patah melawan Portugis belum selesai, sepeninggalan Raden Patah kepemimpinan diserahkan kepada puteranya, Adipati Unus ( Pangeran Sebrang Lor ). Gelar Pangeran Sabrang Lor diberikan bukan tanpa alasan, gelar ini dihasilkan oleh Adipati Unus lantaran lantaran beliau pernah menyeberang/ melakukan ekspedisi penyerangan ke utara buat menyerang Portugis yang berada pada sebelah utara ( Malaka ).

Selain menerima gelar Pangeran Sabrang Lor, Adipati Unus pula diketahui memiliki julukan lain diantaranya merupakan Cu Cu Sumangsang atau Harya Penangsang. Kepemimpinannya Adipati Unus ini hanya berlangsung selama tiga tahun sehingga usahanya sebagai negarawan nir banyak diceritakan pada sejarah kerajaan Demak, tetapi Adipati Unus tidak hilang begitu saja namanya bahkan terkenal karena keberanian & kegagahan pada ekspedisi penyerangan Portugis di Malaka. Dalam beberapa cerita dikatakan bahwa Harya Penangsang memiliki armada laut yg terdiri menurut 40 kapal juang yg dari menurut daerah-daerah taklukan, terutama yang diperoleh menurut Jepara. Daerah yg mempunyai kemampuan pembuatan kapal menggunakan bahan yg rupawan & aerodinamis pada air yg baik jua.

Kemudian pemerintahan berdasarkan Adipati Unus diserahkan pada saudaranya yaitu Sultan Trenggono/ Tranggana. Dia memerintah lebih kurang selama 34 tahun yaitu antara tahun 1512-1546. Dimasa pemerintahannya, kerajaan telah diperluas ke barat dan ke hulu Sungai Brantas atau pada ketika ini dikenal dengan kota Malang. Sebagai lambang kebesaran Islam, Masjid Demak pun dibangun pulang dalam masa pemerintahannya.

Perjuanagan Pangeran Trenggono tidak kalah oleh para pendahulunya jika ditinjau dari penjelasan tersebut diatas. Meskipun Pangeran Trenggono merasakan bahwa keberadaan orang-orang Portugis di Malaka sebagai ancaman dan bahaya. Akan tetapi Sultan Trenggono belum sanggup menggempur langsung bangsa Portugis tersebut. Mengetahui kondisi yang tidak memungkinkan tersebut Pangeran Trenggono berusaha pelan-pelan memperluas daerah kekuasaannya dengan mencoba merebut daerah-daerah yang dikuasai oleh Portugis di Sumatra Utara, hal ini diharapkan dapat melemahkan dukungan baik dari posisi maupun bala bantuan yang akan membantu Portugis ketika suatu saat kerajaan Demak akan menyerang.

Sejarah kerajaan Demak jua nir terlepas berdasarkan nama Fattahilah, Fattahilah adalah seseorang ulama terkemuka berdasarkan Pasai yang sempat melarikan diri berdasarkan kepungan orang Portugis, pada pelariannya ke Demak beliau diterima baik sang Trenggono dan lalu dinikahkan menggunakan adiknya. Dalam sumbangsihnya pada kerajaan Demak Fattahilah dapat menghalau kemajuan orang-orang Portugis menggunakan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pejajaran pada Jawa Barat yaitu Banten & Cirebon. Yang dalam kelanjutan sejarahnya merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Banten dan Cirebon Islam.

Fattahilah yang berjuang dalam perluasan wilayah untuk mengurangi kekuatan daerah-daerah yang dikuasai oleh Portugis, Sultan Trenggono juga tidak mau kalah, bahkan terhitung memiliki prestasi yang bagus dengan berhasil menaklukan kerajaan Mataram kuno dipedalaman Jawa Tengah dan juga kerajaan Singasari Jawa Timur bagian selatan. Sedangkan Pasuruan dan Panukuan dapat bertahan dari gempuran pasukan Sultan Trenggono, untuk Kadipaten Blambangan menjadi bagian dari Kerajaan Bali yang tetap menganut Agama Hindu. Namun dalam usahanya untuk menyerang Pasuruan pada tahun 1546, Trenggono Wafat. setelah wafatnya Sultan Trenggono, timbulah perselisihan yang habat di Demak terkait siapa yang berhak menggantikannya.

Kekacauan lain yang terjadi dampak meninggalnya Sultan Trenggono bertambah parah dengan adanya pertempuran antara para calon pengganti Raja. Bahkan Ibukota Demak mengalami kerusakan yg relatif parah hancur karena perang saudara tersebut. Para calon pengganti raja yang bertikai itu antara lain anak Trenggono, Sunan Prawoto dan Arya Penangsang anak berdasarkan Pangeran Sekar Ing Seda Lepen, saudara termuda tiri sultan trenggono yg dibunuh sang Sunan Prawoto waktu membantu ayahnya merebut tahta Demak. Arya penangsang menerima dukungan berdasarkan gurunya Sunan Kudus buat merebut takhta Demak, mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud buat membalas kematian ayahnya.

Pada tahun 1549 berdasarkan Babad Tanah Jawi, diceritakan bahwa pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke pada kamar tidur Sunan Prawoto. Dihadapan Rangkud Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen. Ia rela dieksekusi tewas asalkan keluarganya diampuni, mendengar penerangan tadi Rangkud lalu menikam dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Tanpa disadari ternyata istri Sunan sedang berlindung di pulang punggungnya. Akibatnya dia pun tewas terkena tusukan berdasarkan Rangkud. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto murka & dengan residu tenaganya beliau membunuh Rangkud.

Arya Penangsang tidak berhenti dengan membunuh Sunan Prawoto saja, dia juga membunuh adipati Jepara yang sangat besar pengaruhnya dikerajaan yaitu Sultan Hadlirin, istri dari adipati Jepara yaitu Ratu Kalinyamat bersumpah akan membalaskan dendam suaminya terhadap Arya Penangsang. Kemudian Ratu Kalinyamat meminta bantuan kepada Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ), menantu Sultan Trenggono yang berkuasa di Pajang ( Boyolali ). Akhirnya, Joko Tingkir dapat membuuh Arya Penangsang. Hingga Pada tahun 1586, Keraton Demak pun dipindah ke Pajang. Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan cara dalam penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang Blambangan yang merupakan bekas kekuasaan kerajaan Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran berharga dari sejarah cerai-berai yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan

Bourbon

No comments:
Write comments