Tuesday, June 16, 2020

Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Demak

Raja ? Raja yang memerintah di kerajaan Demak diantaranya :

1. Raden Patah ( 1500 ? 1518 )

Nama kecil Raden Patah adalah Pangeran Jimbun dan setelah menjadi raja Raden Patah bergelar Sultan Alam Akbar al Fatah. Kerajaan Demak menjadi kerajaan besar dan menjadi pusat penyebaran agama Islam yang penting  Pada masa pemerintahan Raden Patah. Untuk itu atas perintah para wali, dibangunlah Masjid Agung Demak sebagai lambang kekuasaan Islam di daerah Demak.

Menjadi laba tersendiri bagi Demak saat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, dikarenakan posisi Demak sebagai semakin penting, baik pada arti dan peranannya menjadi pusat penyebaran agama Islam juga menjadi penghubung pada perdagangan rempah-rempah yang sudah berlangsung ratusan tahun sebelumnya. Namun, pada sisi lain berkembangnya Demak menjadi pusat perdagangan rempah-rempah juga merupakan ancaman bagi kekuasaan Demak karena pasti akan sebagai perhatian dari Portugis. Oleh karenanya sebelum Portugis tiba ke Demak, pada tahun 1513 Demak terlebih dahulu mengirimkan armadanya buat menyerang Portugis pada Malaka dibawah pimpinan Pati Unus, putra Raden Patah. Serangan yg dibantu sang Aceh & Palembang itu gagal lantaran kualitas persenjataan yg kurang memadai.

Dua. Pemerintahan Pati Unus ( 1518 ? 1521 )

wafatnya Raden Patah Pada tahun 1518 menjadikan Pati Unus yang tidak lain adalah putra dari Raden Path itu sendiri menjadi penerus kerajaan. Pati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan juga pemimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka dengan ratusan kapal dari Jawa. Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. Ia juga terbilang cerdik dalam strategi perang, Pati Unus mengirimkan Katir untuk mengadakan blokade terhadap Portugis di Malaka, sehingga mengakibatkan Portugis kekurangan bahan makan.

Tiga. Pemerintahan Sultan Trenggono ( 1521 ? 1546 )

Pati Unus nir mempunyai putra. Ketika beliau wafat, sebagai akibatnya tahta kerajaan digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Trenggono. Di bawah pemerintahan Sultan Trenggono inilah Demak mencapai masa kejayaan. Ia dikenal menjadi raja yang bijaksana & gagah berani seperti kakaknya Pati Unus. Wilayah kekuasaan yg berhasil ditaklukkannya bahkan terbilang sangat luas dibandingkan dengan masa pemerintahan Raden Patah yaitu mencakup Jawa Timur dan Jawa Barat.

Pada masa pemerintahan Raden Trenggono Portugis mulai memperluas pengaruhnya ke Jawa Barat dan merencanakan mendirikan benteng Sunda Kelapa untuk berlindung dari serangan yang mungkin dilakukan oleh Demak. Sesuai prediksi oleh Portugis akhirnya pada tahun 1522 Sultan Trenggono benar-benar mengirimkan tentaranya ke Sunda kelapa dibawah pimpinan Fatahillah. Pengiriman pasukan Demak ke Jawa Barat bertujuan untuk mengusir bangsa Portugis. Tahun 1527 Fatahillah beserta para pengikutnya berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Dan mulai saat itulah Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan yang sempurna, sekarang kota Jayakarta kita kenal dengan sebutan Jakarta.

Sultan Trenggono mempunyai asa buat menyatukan pulau Jawa pada bawah kekuasaan kerajaan Demak. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut Sultan Trenggono merogoh langkah sebagai berikut :

a. Menyerang Jawa Barat ( Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon ) dipimpin Fatahillah

b. Menyerang wilayah Pasuruan di Jawa Timur ( kerajaan Hindu Supit Urang ) dipimpin Sultan Trenggono sen diri, serangan ke Pasuruan nir membawa output bah kan Sultan Trenggono sendiri mangkat dalam peperang an tadi.

C. Mengadakan perkawinan politik.

Misalnya :

1. Fatahillah dijodohkan menggunakan adiknya

2. Pangeran Hadiri dijodohkan menggunakan puterinya ( adipati Jepara )

tiga. Joko Tingkir dijodohkan menggunakan puterinya (adipati Pajang)

4. Pangeran Pasarehan dijodohkan dengan puterinya ( sebagai Raja Cirebon ).

Sebuah pelajaran dari sejarah bahwa perebutan kekuasaan dan perpecahan dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan. Bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah Kerajaan Demak jika tidak ingin hancur, bukan tidak mungkin jika para penguasa negeri ini melakukan kesalahan yang sama maka nasib negeri ini akan seperti Kerajaan Demak.

Sumber: Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia oleh Binuko Amarseto

Bourbon

No comments:
Write comments