Wednesday, June 17, 2020

Sebuah Kajian Tentang Kemunduran dan Keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah

Kemunduran yg dialami oleh Kekhalifahan Utsmaniyah pada sepanjang abad ke-19 sampai pada berdirinya Republik Turki dalam awalan abad ke-20 pada tahun 1924. Perjalanan ini diwarnai oleh intrik dinasti, ketelatan pada memodernisasi birokrasi & industri, perang dalam setiap wilayah perbatasan daerah kekuasaan, & pemberontakan yang terjadi di daerah jajahannya seperti dalam Yunani yg terjadi di antara tahun 1821 sampai 1830.

Merupakan sebuah keharusan bagi penulis buat merangkai artikel ini dengan niatan menghadirkan bahan pertimbangan dan argumentasi pada para pembaca tentang insiden-insiden yg terjadi seputar kemerosotan perlahan yang terjadi pada Kekhilafahan Utsmaniyah. Hal ini penulis lakukan buat menaruh anti-tesis terhadap warta-berita yg poly didistribusikan dalam ketika peringatan pembubaran Khilafah Utsmaniyah yang terjadi setiap lepas 3 dalam bulan Maret.

Informasi-informasi yang tersebar menyediakan narasi yang bias dengan penjabaran yang condong menghadirkan pembahasan adanya sebuah konspirasi besar terhadap Kekhilafahan Utsmaniyah dan menyalahkan kemunduran tersebut secara keseluruhan kepada kekuatan-kekuatan Barat, Gerakan Turki Muda, gerakan-gerakan nasionalis, dan Mustafa Kemal Atatürk sebagai penyebab utama; terkadang sebagai penyebab satu-satunya yang berkontribusi  terhadap keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah. Hal ini meninggalkan sedikit ruang untuk penalaran dan pendalaman multi-dimensional untuk mencari dan mempertimbangkan penyebab yang berkontribusi terhadap keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah yang berasal dari dalam Kekhilafahan itu sendiri. Atas dasar ini, penulis didorong untuk menghadirkan artikel ini.

Ketika diadakan kajian & pendalaman tentang 124 tahun terakhir kekuasaan Khilafah Utsmaniyah, harus dipertimbangkan bahwa Kekhilafahan ini menghadapi banyak sekali permasalahan yang tiba dari internal Khilafah juga eksternal, misalnya: ketidakmampuan Negara Utsmaniyah buat melakukan reformasi birokrasi & modernisasi buat menyamai kecepatan langkah perkembangan teknologi & politik saingannya pada Eropa, perang yg terjadi secara monoton selama tujuh atau delapan abad?Bila menghitung jeda pada antara Perang Krimea dan Perang Rusia-Turki yang terjadi pada tahun 1877 hingga 1878, pemberontakan yg terjadi lantaran ketidakpuasaan terhadap kemunduran birokrasi & ekonomi seperti yg dikobarkan oleh Mesir pada bawah gubernur Muhammad Ali; atau karena disparitas mazhab agama seperti yg dikobarkan oleh Abdullah bin Saud & Muhammad bin Abdul Wahab pada Perang Wahabi yang terjadi pada tahun 1811 sampai 1818, kebangkitan nasionalisme di daerah-wilayah jajahan-jajahannya seperti pada wilayah Balkan dan Levant, dan tuntutan reformasi pada bentuk konstitusi dan republikanisme oleh kalangan kaum belia yg berkeinginan buat memperkuat Negara Utsmaniyah dan menghentikan kemacetan yang terjadi.

Perjalanan menurut kemunduran Kekhilafahan Utsmaniyah awalnya adalah bangkitnya kesadaran bangsa Arab pada Mesir & Suriah akan kondisi mereka yg terbelakang dibanding negara-negara Eropa dalam bidang sosial dan saintek. Kesadaran ini ada ketika pasukan Perancis yg dipimpin oleh Napoleon Bonaparte menyerbu Mesir dalam yahun 1798 dan mengikutsertakan sebuah Misi Kebudayaan buat membuatkan semangat Revolusi Perancis. Nilai-nilai humanisme & ilham-inspirasi kesadaran yang dibawa sang Napoleon disambut dengan kontradiksi dari rakyat & cendekiawan Mesir lantaran nir sesuai menggunakan ajaran Islam, meski demikian, para cendekiawan muslim misalnya Abdurrahman al-Jabarti dan Al-Thahthawi menyadari urgensi global Islam dan bangsa Arab buat mengejar tingkat saintek & perkembangan ilmu sosial yang dicapai oleh bangsa Eropa agar tetap bisa bersaing.

Setelah pasukan Perancis berhasil dikalahkan oleh pasukan Utsmaniyah menggunakan donasi Inggris, Mesir dipimpin sang gubernur yg dipilih secara populer oleh rakyat Mesir, yaitu seseorang laki-laki dari Albania yang bernama Muhammad Ali. Mesir ketika itu meski merupakan jajahan Utsmaniyah, merupakan daerah Arab pertama yg berada pada bawah jajahan Utsmaniyah yg memodernisasi dan berhasil pada melaksanakan hal tadi. Pencerahan iptek yang dibawa sang Misi Kebudayaan Perancis menghilangkan agama diri bangsa Arab dan masyarakat di bawah kekuasaan Utsmaniyah yang selama ini menggangap bahwa diri mereka merupakan peradaban paling maju pada bumi. Hilangnya agama diri ini mendorong Muhammad Ali buat mengirim pelajar ke negara-negara Eropa buat menilik teknologi, ilmu pengetahuan, strategi militer, dan secara nir sengaja pula membawa ide-ide sosial-politik yang nantinya akan memulai 'Al-Nahda' atau renaisans kebudayaan yg terjadi pada wilayah jajahan Utsmaniyah di Suriah, Mesir, & global Arab.

Antara 1813 sampai 1849, Muhammad Ali mengirimkan mahasiswa ke negara-negara Eropa dan menghabiskan porto sebanyak ?E 273.360. Para mahasiswa memelajari secara spesifik: strategi militer, teknik mesin, kedokteran, farmasi, kesenian, & kerajinan; para cendekiawan seperti Al-Thahthawi meneliti gejala sosial yang sedang melanda negara-negara Eropa yg dalam saat itu sedang mengalami perubahan kekuasaan menurut absolutisme raja-raja sebagai monarki konstitusional & republikanisme. Al-Thahthawi menerjemahkan Konstitusi Perancis 1814 sebanyak 74 pasal dan menuliskan jurnal yg memihak dalam pengikutsertaan bunyi masyarakat yg diatur oleh konstitusi dan hukum dalam urusan pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan negara. Para mahasiswa membawa balik menurut negara-negara Eropa kitab -kitab berbahasa asing, & Muhammad Ali mendirikan sebuah biro penerjemahan buat menerjemahkan & mempermudah sosialisasi ilmu-ilmu baru ini kepada warga Mesir. Tindakan-tindakan ini membuka pulang pintu ijtihad, yg nantinya akan menginspirasi Tanzimat.

'Al-Nahda' yg menjalar ke dunia cendekiawan & akademisi Arab ini nir diterima menggunakan baik sang kaum penguasa Utsmaniyah yg tidak menggangap indah prospek ijtihad. Hal ini menghambat laju modernisasi & restrukturisasi birokrasi Negara Utsmaniyah sebagai akibatnya sanggup dibilang tertinggal oleh Mesir. Bangsa Arab sudah merasakan bumbu-bumbu konstitusionalisme, hukum yang terkodifikasi & egaliter, birokrasi yang tersusun, dan semangat humanisme dan perilaku menghargai semua bangsa tanpa subordinat, tentunya mereka tidak akan terus membuktikan sikap jinak mereka terhadap Konstantinopel dan perlahan menuntut konsesi yg adil di bawah kekuasaan Utsmaniyah, hal ini akan mencapai puncaknya saat Pemberontakan Arab Besar diproklamasikan oleh Wangsa Hasyimiyah di Hijaz dalam tahun 1916.

Abad ke-19 bukanlah abad yg ringan bagi Kekhilafahan Utsmaniyah, propagasi wangsit-inspirasi baru seperti nasionalisme dan aplikasi agama yg puritan mengancam integritas daerah Utsmaniyah. Dimulai berdasarkan abad ke-18, daerah jajahan Utsmaniyah pada Arab dan Afrika Utara diberi otonomi lebih dari masa-masa sebelumnya, hal ini dimaksudkan buat menambah efisiensi birokrasi, pemungutan pajak, dan perekrutan tentara. Namun para penguasa Arab lokal belum siap secara mental buat diberikan otonomi, hal ini menyebabkan ketidakstabilan politik & kebobrokan ekonomi seperti di Mesir. Pertarunga ini nantinya akan sebagai bibit kemerosotan imbas & wilayah Utsmaniyah di Timur Tengah dan Afrika Utara ketika pemerintah sentra Utsmaniyah yang diberi nama 'Porte Agung' nir bisa mengatasi kasus ini. Konflik ini diperparah dengan skema-skema politik yg ambigu mengenai kebijakan geopolitik daerah vasal mereka pada Timur Tengah.

Pada tahun 1821 kaum revolusioner Yunani memberontak terhadap kekuasaan Utsmaniyah, Porte menjanjikan kepada penguasa Mesir, gubernur Muhammad Ali wilayah kekuasaan di Suriah jika bersedia membantu upaya perang Utsmaniyah di Yunani. Meski memperoleh hasil yang memuaskan di awal-awal perang, intervensi Inggris dan Perancis atas desakan dari rakyat mereka yang–merasa miris dengan kekejaman koalisi Utsmaniyah-Mesir– berhasil mengalahkan  pasukan Utsmaniyah dan menghancurkan angkatan laut Mesir. Ketika perang berakhir, Muhammad Ali menuntut kembali janji yang diberikan oleh Sultan Mahmud II untuk memberi wilayah Suriah. Sultan Mahmud II menolak permintaan sang gubernur dan membawa negara beliau ke dalam api peperangan kembali. Dalam keadaan marah dan kecewa, Muhammad Ali mengutus anaknya; Ibrahim Pasya untuk memimpin 30.000 pasukan dengan persenjataan modern untuk menyerang Utsmaniyah, peperangan ini merupakan keberhasilan besar bagi pasukan Mesir. Sultan Mahmud II menyerah kepada tuntutan Muhammad Ali ketika beliau mendengar bahwa pasukan Mesir sudah mencapai Kota Konya.

Keberhasilan Mesir pada Perang Mesir-Utsmaniyah 1831-1833 tidak memuaskan ambisi Muhammad Ali. Beliau memimpikan sebuah Kerajaan Mesir merdeka yang merembet dari Sudan ke Suriah beserta penguasaan penuh atas wilayah Hijaz yang merupakan tempat dua kota suci; Makkah dan Madinah.  Dalam rangka memenuhi ambisi beliau, Muhammad Ali kembali mengobarkan perang melawan Sultan, namun kali ini Inggris yang khawatir akan runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah dan menyaksikan hadirnya kekuatan modern yang baru yaitu Mesir yang dekat dengan saingannya yaitu Perancis, membantu Kekhilafahan Utsmaniyah dan dengan koalisi ini, Muhammad Ali berhasil dikalahkan. Dalam Konvensi London yang diadakan pada tahun 1840, Muhammad Ali diberikan kuasa penuh atas Mesir dan Sudan serta diberikan hak untuk mendirikan dinasti yang diberi hak khusus untuk memerintah Mesir yang semi-merdeka mewakili Porte.

Perang Mesir-Utsmaniyah Kedua yg berkobar dalam tahun 1839-1841 sangat melemahkan pemerintahan & wibawa Kekhilafahan Utsmaniyah. Kekuatan-kekuatan pada Eropa menaruh penamaan "Sick Man of Europe" menggunakan melihat kondisi miris yg dihadapi sang pemerintahan Utsmaniyah. Menghadapi permasalahan ini, pemerintahan Utsmaniyah di bawah Sultan Abdulmejid I memulai Tanzimat atau 'reorganisasi' buat memperkuat dan memodernisasi Kekhilafahan Utsmaniyah. Dokumen pertama Tanzimat berisi tujuan-tujuan dasar yaitu: memastikan "Keamanan yg paripurna bagi kehidupan, kehormatan, & properti" bagi semua rakyat Utsmaniyah; membangun "Sebuah sistem evaluasi pajak regulerdanquot;: dan reformasi dinas militer.

Tanzimat dilakukan buat memperkuat birokrasi & administrasi Kekhilafahan Utsmaniyah yang bobrok. Sudah merupakan keharusan bagi negara-negara yg mengupayakan modernisasi saat itu untuk juga mengenalkan reformasi administrasi seperti penyederhanaan & pemerataan hukum, & pendataan penduduk buat membentuk birokrasi yg efisien, menggunakan ini aturan yg terkodifikasi & egaliter bersama konstitusi dikenalkan kepada kehidupan Utsmaniyah.

Tentunya reformasi-reformasi tersebut ditentang oleh kaum agamawan dan rakyat beragama Suni Utsmaniyah yg relijius. Hal ini terjadi akibat minimnya pengenalan & perencanaan matang yg kemudian reformasi-reformasi ini diperkenalkan secara impulsif kepada warga yang dogmatis & telah lama nir berijtihad dan berinovasi pada bidang sosial-politik Tidak sampai tahun 1850an & 1860an pengaruh dari Tanzimat mulai terasa ketika timbul gerakan-gerakan pemuda yang progresif misalnya 'Utsmani Muda' dan mencapai zenit konvoi reformasi menggunakan keluarnya 'Turki Muda' yg menggulingkan Sultan Abdul Hamid II?Yg memerintah dengan absolutisme?Dalam tahun 1908

Organisasi-organisasi pemuda ini beranggotakan mahasiswa-mahasiswa Utsmaniyah yg memelajari kedokteran dan ketentaraan, para elit-elit belia ini sehabis belajar ke Eropa beranggapan bahwa rahasia pada pulang kesuksesan negara-negara pada Eropa merupakan pemerintahan yang bertenaga yang ditopang sang organisasi politik yg teratur serta terorganisir serta hadirnya kekuasaan yg konstitusional. Mereka kecewa dengan ketidakstabilan politik yg terjadi dalam masa pemerintahan Sultan Abdulaziz. Pergerakan reformis beranggapan bahwa Sultan pengganti Sultan Murad yaitu Sultan Abdul Hamid II akan bekerjasama dengan 'Utsmani Muda', dan beliau dalam masa awal-awal pemerintahan memang berafiliasi dengan para reformis pada mendirikan pemerintahan yang konstitusional dan mempunyai parlemen, namun beberapa ketidaksepakatan beliau dengan parlemen dan dihadapkan dengan disintegrasi daerah Utsmaniyah akibat pemberontakan nasionalis dan peperangan menggunakan Rusia?Atas polemik minoritas Kristen di Lebanon dan Palestina yang pada mana Utsmaniayah dibantu oleh Perancis & Inggris?Menciptakan beliau membubarkan parlemen & menangguhkan konstitusi.

Hal tersebut dan peralihan pada absolutisme di bawah Sultan Abdul Hamid II mengecewakan kaum reformis dan berujung menggunakan Kudeta Turki Muda pada tahun 1908 yg digerakan oleh 'Komite untuk Persatuan & Kemajuan' yg berisikan anggota-anggota Turki Muda & 'Partai Kebebasan dan Kesesuaian' yang dipimpin oleh salah satunya anggota dari Dinasti Osman sendiri yaitu Sultanzade Sebahaddin. Dua kekuatan ini beserta konvoi mini lainnya yg tergabung di bawah 'Uni Liberal' beraspirasi untuk mengembalikan konstitusi & mendirikan parlemen kembali yg sudah ditangguhkan oleh Sultan Abdul Hamid II.

Nasionalisme merupakan sebuah pedang yang menghunus ke dua arah bagi Kekhalifahan Utsmaniyah; pada satu sisi wajib dipahami bahwa Utsmaniyah dalam perjalanannya sebagai kekuatan imperial mempunyai daerah kedaulatan plural yang multi-etnis dan multi-nasional, didiami bangsa Turki, bangsa Arab, bangsa Armenia, bangsa Kurdi, bangsa Slavia, & berbagai minoritas seperti minoritas Druze pada Lebanon. Nasionalisme merupakan ilham yang menginspirasi bangsa-bangsa ini buat memberontak melawan Utsmaniyah & membentuk rasa kebangsaan sendiri. Hal ini berakibat daerah Balkan yg didiami oleh bangsa Slavia; setelah menemukan jati diri bangsa mereka, manunggal melawan Utsmaniyah pada Perang Balkan Pertama pada tahun 1912-1913.

Di sisi yg lain, bangsa Turki yg memiliki pemikiran seperti Tiga Pasya: Talaat, Djemal, & Enver menyadari bahwa buat memperkuat Negara Utsmaniyah dan mempertahankan penguasaan bangsa Turki dalam perpolitikan Utsmaniyah maka wajib menyuarakan jua semangat kebangsaan Turki. Gerakan Turki Muda yg dipimpin sang Triumverat Pasya di awal abad ke-20an melalui Komite buat Persatuan & Kemajuan bekerja buat mensentralisasi kekuasaan politik ke Istanbul & secara perlahan men-"Turkifikasidanquot; penduduk multi-budaya pada daerah Utsmaniyah.

Upaya Turkifikasi budaya mereka yang berada di wilayah jajahan membangkitkan kembali semangat Al-Nahda yang dimulai di Mesir. Aspirasi nasionalisme dan modernisasi bangsa Arab yang diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh beserta ingatan akan pemberontakan tokoh-tokoh reformis seperti Saad Zaghlul  di Mesir kembali bergema di kalangan bangsa Arab. Namun pada awal masa pergerakannya, para nasionalis Arab terpaksa berkumpul secara rahasia dan dengan memperhatikan kehati-hatian  yang tinggi, karena Utsmaniyah di bawah pimpinan Triumverat Pasya gencar membungkam oposisi-oposisi politik  bahkan sekutu lamanya di Partai Kebebasan dan Kesesuaian; para nasionalis Arab tidak lepas dari pembungkaman dan sensor pemerintah. Membutuhkan sebuah percikan agar pergerakan nasioanl Arab dapat naik ke permukaan dinamika politik. Percikan ini adalah pecahnya Perang Dunia 1 dan bergabungnya Utsmaniyah di sisi Kekuatan Poros.

Kengerian yg membayangi tragedi humanisme pada Armenia dan tindakan Djemal Pasya pada Suriah & Lebanon terhadap tokoh-tokoh pro-kemerdekaan Arab mengakibatkan sensasi paranoia dan kekhawatiran pada kalangan bangsa Arab pada Levant, Mesopotamia, dan Hijaz. Djemal menjatuhkan tuduhan penghianatan tingkat tinggi pada sejumlah tokoh di Suriah & Lebanon. Sebuah pengadilan militer didirikan di Lebanon dalam tahun 1915, dalam waktu setahun, puluhan orang digantung pada Beirut & Damaskus, serta menjebloskan ratusan orang lainnya ke penjara, dan ribuan orang diasingkan. Tindakan ini yang memberikan gelar "al-Saffah" atau "penumpah darahdanquot; kepada Djemal Pasya meyakinkan lebih poly orang Arab buat memerdekakan diri.

Sebuah ucapan disampaikan oleh Presiden Liga Progres Lebanon, Naroum Mokarzel dalam tahun 1913 dalam Kongres Arab di Paris bahwa revolusi yang akan terjadi wajib adalah revolusi literasi dan reformasi, dan bahwa kekerasan hanya adalah pilihan terakhir. Tetapi dalam tahun 1916, Wangsa Hasyimiyah pada Hijaz dipimpin sang Sharif Hussein bin Ali yang dibantu sang Inggris melalui Korespondensi Hussein-McMahon; didorong oleh rasa takut terhadap prospek akan terjadinya pembantaian terhadap orang Arab seperti yg terjadi di Armenia menentukan buat mengobarkan perang & merogoh pilihan pertumpahan darah. Wangsa Hasyimiyah jua melakukan hal tadi karena menggangap bahwa Turki Muda & Triumverat Pasya pada upaya mereformasi Utsmaniyah sudah melenceng menurut Islam.

Di waktu yang sama seseorang perwira berasal Thessaloniki yang adalah veteran Perang Italia-Utsmaniyah pada Italia dalam tahun 1911-1912 mencetak prestasi militer di medan pertempuran, dia adalah tokoh instrumental dalam kemenangan Utsmaniyah di Galipoli melawan Sekutu & waktu Utsmaniyah mulai kalah pada perang, beliau mengupayakan pengungsian pasukan Utsmaniyah menurut Mesopotamia dan Suriah menuju Anatolia. Beliau nantinya akan sebagai Presiden Republik Turki yang petama, nama beliau merupakan Mustafa Kemal. Seorang ahli strategi militer & negarawan, beliau tidak berdiam diri waktu Sultan Utsmaniyah melewati delegasi yang dikirim ke S?Vres menyetujui pengucilan daerah Utsmaniyah & memaksakan Utsmaniyah untuk membayar porto yg mahal dampak keikutsertaan mereka dan serangan mereka dalam tahun 1914. Perjanjian S?Vres membagi daerah Asia Minor menjadi zona yg diadministrasi oleh Yunani, Perancis, dan Italia; menyisihkan daerah buat Armenia & Negara Kurdi. Utsmaniyah hanya dibatasi pada kantong mini pada utara Anatolia; & keuangan Utsmaniyah dikendalikan oleh para pemenang perang melewati OPDA?Yg diperkuat, Administrasi Utang Umum Utsmaniyah yang didirikan pada masa Sultan Abdul Hamid II buat mengurus pembayaran utang Utsmaniyah ke negara-negara dan perusahaan pada Eropa.

Mustafa Kemal mendirikan Majelis Agung Nasional bersama kaum nasionalis dan mengobarkan perang kemerdekaan melawan tentara asing di wilayah Turki dan Kekhilafahan Utsmaniyah yang tidak berdaya yang tergabung dalam koalisi tentara sekutu selama tiga tahun. Beliau berhasil mengusir tentara Yunani dsri Izmir, hal ini merupakan kemenangan penting bagi kaum nasionalis, kemudian pada tanggal 3 Maret 1924 memasuki Istanbul dan membubarkan Negara Utsmaniyah dan mengasingkan Dinasti Osman. Keberhasilan Mustafa Kemal dalam mengupayakan kemerdekaan Turki memberikan kepada beliau nama kehormatan "Atatürk" atau "Bapak bangsa Turki" dan memaksa para pemenang Perang Dunia 1 untuk kembali ke meja perundingan. Perjanjian Lausanne yang dirumuskan setelah Perang Kemeedekaan Turki membentuk perbatasan  Turki modern dan menghapus banyak dari sanksi yang dijabarkan sebelumnya dalam Perjanjian Sèvres. Meski sesama kaum nasionalis, Atatürk melarang Turki Muda dan Enver Pasya untuk kembali ke perpolitikan Turki.

Sebagai kalimat terakhir dari penulis, bepergian yg mengiringi kemunduran Kekhilafahan Utsmaniyah merupakan usaha panjang yang tidak dapat dinafikan segmen dan bagian-bagian tertentu, Mustafa Kemal Atat?Rk merupakan paku terakhir yang dipalukan ke peti mangkat Utsmaniyah, lonceng kematiannya telah berbunyi sejak Utsmaniyah nir mampu menyaingi kemajuan negara-negara saingannya di Eropa, & tidak ada Imperium yang dapat bertahan selamanya.

Penulis:  Lee Kuan Yew

OA: Historypedia Line

No comments:
Write comments