Saturday, July 11, 2020

11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai - Kerajaan Samudera Pasai atau dikenal juga dengan sebutan Samudera Darussalam merupakan kerajaan Islam yang berada di pesisir Utara Sumatera yakni disekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kerajaan Ini dibentuk oleh Marah Silu yang diberi gelar sebagai Sultan Malik As-Saleh pada kisaran tahun 1267.

Adanya kerajaan ini pula tertulis pada buku Rihlay ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) yang ditulis sang Abu Abdullah ibn Batuthah (1304-1368) yakni seseorang musafir dar Maroko yg sempat singgah pada negeri dalam tahun 1345. Setelah masa-masa kejayaan, akhirnya kerajaan ini mengalami keruntuhan atau kehancuran dalam tahun 1521 dampak agresi dari Portugal.

Walaupun kerajaan ini sudah mengalami keruntuhan, akan tetapi masih dapat kita temukan peninggalan-peninggalan sejarah berupa makam, mata uang juga peninggalan-peninggalan lainnya yg masih bisa kita jumpai dalam saat ini. Untuk itu Abang Nji akan memberikan informasi pada sahabat sekalian tentang 11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah.

1. Lonceng Cakra Donya

Sumber: @acehlon_ via Instagram

Cakra Donya merupakan sebuah lonceng terbuat berdasarkan besi yang bentuknya menyerupai stupa, yang dibuat oleh negeri cina dalam tahun 1409 Masehi yang adalah sebuah bentuk pemberian dari kaisar China pada Kesultanan Samudera Pasai. Lonceng ini memiliki ukuran tinggi yaitu 125 cm dengan lebar 75 centimeter.

Pada bagian luar lonceng ini terdapat suatu hiasan berupa simbol-simbol aksara arab dan cina. Aksara Arab tidak dapat terbaca lagi sedangkan aksara cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang artinya Sultan Sing Fa yang sudah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.

Lokasi Lonceng Cakra Donya terletak di Jl. Sultan Alaudin Mahmudsyah, No. 12 Kel. Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Prov. Aceh.

2. Makam Sultan Malik As-Saleh

Makam sultan Malik As-Saleh atau lebih dikenal dengan sultan Malikussaleh berada di kec. Samudera, Aceh Utara yang letaknya kurang lebih 17 km sebelah timur dari kota Lhokseumawe serta berdampingan dengan makam anaknya sultan Muhammad Malik Al-Zahir.

Makam ini merupakan situs bersejarah yang sangat monumental di daerah Nusantara, dan pula pada Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan sultan Malikussaleh merupakan pendiri ataupun raja pertama dari kerajaan Samudera Pasai. Ia juga sangat gigih dalam membuatkan Islam di Asia Tenggara dimulai berdasarkan tahun 1270 hingga 1297 Masehi.

Apabila dipandang berdasarkan batu nisan Sultan Malikussaleh, bisa ditinjau adanya peralihan pengaruh berdasarkan arsitektur Budha pada imbas arsitektur Islam. Dari ornamen batu nisan tersebut terlihat jelas bahwa batu nisan dari dari Gujarat (India). Dengan adanya hal ini, membuktikan bahwa kerajaan Samudera Pasai sangat terbuka dalam mendapat budaya wilayah lain, yakni menggunakan memadukan budaya India dengan Islam.

Tiga. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Sumber: ajnn.Net

Sultan Muhammad Malik Al-Zahir atau dikenal pula menggunakan nama Sultan Malikul Dzhahir merupakan anak pertama berdasarkan Sultan Malikussaleh yg merogoh alih kepemimpinan kerajaan Samudera Pasai berdasarkan tahun 1297 hingga 1326 Masehi.

Batu nisan makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir sendiri terbuat dari batu granit yang terdapat pahatan surah At-Taubah ayat 21-22. Terukirnya ayat ini adalah suatu ungkapan bahwa sultan yang memiliki gelar "Syamsuddunya waddin (Matahari Dunia Dan Agama)" ini merupakan seseorang yang memiliki peran besar dalam menyiarkan dan menyebarkan agama Islam seperti ayahnya.

Selain itu, di batu nisan juga terdapat suatu tulisan yang artinya Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia, yang syahid bernama Sultan Malik Al-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama. Muhammad bin Malik Al-Saleh, wafat malam Ahad 12 zulhijjah tahun 726 Hijriah (19 November 1326 Masehi). Makam Sultan Malik Al-Zahir sendiri tepat berada di sebelah makam ayahnya Sultan Malik Al-Saleh.

Makam ini berlokasi pada Kec. Samudera, Aceh Utara atau lebih tepatnya pada Desa Beuringen.

4. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam ini merupakan peninggalan sejarah menurut dinasti Abbasiyah. Teungku Sidi adalah cicit dari khalifah Al-Muntasir yang pulang meninggalakan negeri asalnya yakni Irak dikarenakan diserang oleh tentara Mongolia. Teungku Sidi memiliki jabatan yang sangat krusial pada kerajaan Samudera Pasai, dimana dia diberikan amanah menjadi menteri keuangan.

Batu nisan teungku Sidi berbahan dasar batu marmer yg berhiaskan ukiran kaligrafi, dimana terdapat ayat kursi yang ditulis melingkar pada pinggiran batu nisannya. Pada permukaan nisan pula masih ada gesekan Surah At-Taubah ayat 21-22 & kalimat Bismillah.

5. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Sumber: blogdellyaan.blogspot.com

Naskah ini adalah surat goresan pena berdasarkan sultan Zainal Abidin dalam tahun 1581 Masehi atau 932 Hijriah. Naskah surat ini dibentuk buat ditujukan kepada kapitan Moran yang bertugas atas nama wakil raja Portugis pada India. Naskah surat ini ditulis memakai bahasa Arab yang berisi mengenai kondisi kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1511 Masehi disaat Malaka jatuh atau takluk pada tangan Portugis.

Selain itu, di pada naskah surat juga tertulis nama-nama kerajaan yg memiliki hubungan erat dengan kesultanan Samudera Pasai. Sehingga, dapat diketahui nama-nama negeri ataupun kerajaan-kerajaan tadi. Adapun kerajaan yg disebut atau tertera dalam naskah surat tadi yakni Negeri Fariyaman (Pariyaman) dan Negeri Mulaqat (Malaka).

6. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla merupakan puteri dari Sultan Muhammad Malik Al-Zahir yang mangkat pada tahun 1380 Masehi. Makam ini berada di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli, kec. Matangkuli dengan jarak kurang lebih 30 km dari sebelah timur kota Lhokseumawe. Batu nisan dari makam ratu ini dihiasi dengan kaligrafi yang sangat indah yang menggunakan bahasa Arab dan Kawi.

7. Stempel Kerajaan Samudera Pasai

Sumber: acehkita.com

Stempel ini diperkirakan milik dari sultan Muhammad Malik Al-Zahir seperti yang dikemukakan oleh tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Stempel ini pertama kali ditemukan di kec. Samudera, kab. Aceh Utara yang lebih tepatnya di desa Kuta Krueng. Saat ditemukan kondisi stempel telah rusak dikarenakan patah pada bagian gagang atau pegangannya.

Stempel ini mempunyai ukuran dua x 1 centimeter dan diperkirakan pembuatan berbahan dasar tanduk hewan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa stempel ini dipakai hingga masa pemerintahan terakhir kerajaan Samudera Pasai yg ketika itu dipimpin oleh sultan Zainal Abidin.

8. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Makam ini diberi julukan Makam Teungku 44 (Peuet Ploh Peuet) dikarenakan di dalam makam ini dikuburkan jasad 44 orang alim ulama kerajaan Samudera Pasai. Mereka mati dibunuh dikarenakan mengharamkan dan menentang perkawinan raja menggunakan putri kandungnya sendiri.

Makam ini berlokasi Gamponh Beuringen, kec. Samudera dengan jarak lebih kurang 17 km sebelah timur kota Lhokseumawe. Pada batu nisan makam ini masih ada tabrakan yg sangat latif, dimana terdapat tabrakan surah Ali Imran ayat 18.

9. Makam Sultanah Nahrasiyah

Sumber: acehtourism.travel

Nama sultanah Nahrasiyah tidak begitu dikenal pada sejarah kerajaan Samudera Pasai nir misalnya raja Malikussaleh & Malikudzahir yg begitu dikenal. Padahal sultanah ini berkuasa pada kerajaan Samudera Pasai berdasarkan tahun 1416-1428 Masehi serta dikenal sebagai ratu yg adil dan bijaksana pada memegang pucuk kepemimpinan kerajaan Samudera Pasai.

Makam ratu ini terletak pada Gampong Kuta Krueng, kec. Samudera lebih kurang 18 km sebelah timur kota Lhokseumawe dan nir begitu jauh dari lokasi makam sultan Malikussaleh. Pada batu nisan makamnya masih ada gesekan kaligrafi surah Yasin, surah Al-Baqarah ayat 285-286, surah Ali Imran ayat 18-19 serta penerangan yang ditulis menggunakan aksara Arab yang artinya,

"Inilah makam kudus, ratu yg mulia Nahrasiyah yang digelar menurut bangsa Chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, meninggal dalam senin 17 Zulhijjah 831 Hdanquot; (1428 M).

10. Mata Uang Emas

Sumber: boombastis.com

Dalam Ying Yai Sheng Lan Karya berdasarkan Ma Huan, seorang juru tulis sekaligus penerjemah Laksamana Muslim Cheng Hi. Pada karya tersebut dijelaskan bahwa mata uang Samudera Pasai ketika itu dinar emas menggunakan kadar sebesar 70 % dan pula mata uang keueh yang berbahan dasar timah, dimana perbandingan 1 dinar sama menggunakan 1600 keueh.

Kerajaan Samudera Pasai pertama kali mencetak mata uang emas ini pada masa pemerintahan sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Mata uang ini tetap digunakan hingga bala tentara Nippon mendarat atau tiba di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Mata uang ini berukuran kecil dimana diameternya hanya 10 mm dengan berat 0,6 gram setiap koinnya.

11. Hikayat Raja Pasai

Hikayat raja Pasai adalah karya sastra sejarah kerajaan Samudera Pasai yg isinya menceritakan peristiwa-peristiwa yg terjadi pada tahun 1250-1350 Masehi. Pada zaman tadi adalah masa pemerintahan raja Malikussaleh.

Berdasarkan perkiraan Dr. Russel Jones, hikayat ini ditulis saat abad ke 14. Hikayat ini menceritakan  masa dari berdirinya  kerajaan Samudera Pasai hingga penaklukannya oleh kerajaan Majapahit.

Itulah informasi tentang 11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian.Semoga dengan adanya artikel ini semakin menambah wawasan kita tentang kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri atau eksis di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments