Thursday, July 9, 2020

11 Peninggalan Kesultanan Banten Paling Bersejarah Beserta Penjelasan

Peninggalan Kesultanan Banten - Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah ada di daerah Tatar Pasundan, prov. Banten, Indonesia. Berkisar tahun 1526, saat kesultanan Cirebon dan juga kesultanan Demak melakukan perluasan pengaruhnya ke daerah pesisir Barat pulau Jawa, dengan cara menaklukan beberapa pelabuhan yang kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer dan juga kawasan transaksi perdagangan, sebagai bentuk antisipasi terwujudnya perjanjian antara kerajaan Portugis dan Sunda yakni pada tahun 1522 Masehi.

Saat itu, Maulana Hasanudin yang merupakan anak menurut sunan Gunung Jati berperan krusial pada proses penaklukan tersebut. Setelah terjadinya penaklukan, kemudian Maulana Hasanudin mendirikan benteng pertahanan yg dikenal dengan nama benteng Surowosan yg dibangun pada tahun 1600 Masehi. Lambat laun Surowosan tadi sebagai wilayah kota pesisir, dan saat Banten sebagai kesultanan yg berdiri sendiri daerah tersebut sebagai sentra pemerintahan.

Selama kurang lebih tiga abad kesultanan Banten menjadi kerajaan yg sanggup bertahan bahkan dapat mencapai puncak kejayaannya, dimana dalam ketika yang sama para penjajah berdasarkan eropa sudah menanamkan pengaruhnya. Akan namun, setiap kerajaan pastilah mempunyai berbagai macam perseteruan internal nir terkecuali kerajaan Banten.

Pertarunga kerajaan Banten yakni adanya perang saudara serta persaingan menggunakan dunia pada memperebutkan perdagangan dan jua sumber daya. Selain itu, kerajaan ini pula memiliki ketergantungan persenjataan yg tidak eksklusif menaruh pengaruh melemahkan kekuatan kesultanan Banten terhadap wilayah kekuasaannya.

Dikarenakan permasalahan internal kerajaan akhirnya kerajaan ini mengalami keruntuhan pada tahun 1813 hal ini juga terjadi setelah sebelumnya simbol kekuasaan kerajaan yakni istana Surowosan  dihancurkan. Pada masa-masa terakhir pemerintahan kesultanan Banten, raja-rajanya hanya sebatas bawahan dari pemerintahan kolonial Belanda karena tidak mempunyai kekuatan saat masa jayanya.

Dengan kisah pemerintahan kerajaan Banten di atas tidak hanya menyisakan cerita sejarah belaka, akan tetapi juga ada peninggalan-peninggalan sejarah baik itu dalam bentuk masjid, istana, benteng dan lainnya. Untuk itu pada artikel kali ini Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat kalian tentang 11 Peninggalan Kesultanan Banten Paling Bersejarah Beserta Penjelasan.

1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten merupakan keliru satu bukti peninggalan sejarah kerajaan Banten yg adalah salah satu kerajaan Islam pada bumi Indonesia. Masjid ini terletak pada desa Banten Lama, kec. Kasemen dan tentunya masih kokoh dan kita lihat sampai sekarang.

Masjid Agung Banten dibangun pertama kali pada tahun 1556, yakni ketika pemerintahan sultan Maulana Hasanudin yg adalah anak menurut sunan Gunung Jati. Masjid ini mempunyai keunikan dibandingkan masjid lain, dimana masjid memiliki bentuk menara yang menyerupai mercusuar serta atapnya menyerupai atap pagoda spesial Cina yang adalah karya menurut arsitek cina bernama Tjek Ban Tjut. Selain juga terdapat 2 serambi yang melengkapi sisi utara & selatan bangunan primer.

Selain bangunan di atas terdapat juga tambahan bangunan yang juga terletak di kawasan masjid Agung Banten. Nama bangunan tersebut adalah Tiyamah, yakni sebuah paviliun yang memiliki bentuk persegi panjang  khas arsitektur Belanda Kuno. Bangunan ini dirancang oleh arsitektur dari Belanda yang bernama Hendick Lucasz Cardeel.

2. Istana Keraton Kaibon Banten

Sumber: wahyu_ajak via Instagram

Istana Keraton Kaibon merupakan peninggalan kesultanan Banten yang tujuan dibuatnya yaitu menjadi tempat tinggal Ratu Aisyah yg merupakan ibunda menurut sultan Syaifudin yang ketika itu tengah mengasuh sultan Syaifudin yang masih berumur lima tahun.

Saat ini bangunan istana Kaibon hanya meninggalkan sisa-sisa reruntuhan karena pada tahun 1832 bangunan ini dihancurkan sang pemerintahan Belanda yang waktu itu bentrok dengan kerajaan Banten. Penyebab kerajaan ini diserang sang Belanda sehingga mengakibatkan penghancuran istana dikarenakan, dalam waktu Du Puy yg adalah utusan gubernur jenderal Daendels meminta pada sultan Syaifudin buat melanjutkan pembangunan jalan dari Anyer hingga Panarukan dan pelabuhan armada Belanda yg berada di wilayah Teluk Lada.

Akan tetapi, sultan Syaifudin menolak hal tersebut dengan tegas bahkan memancung kepala Du Puy dan mengembalikan kepala tersebut kepada jenderal Daendels. Hal ini membuat jenderal Daendels marah besar dan menyerang kerajaan Banten dan hal inilah yang menjadi asal muasal penghancuran istana keraton Kaibon.

Sumber: wahyu_ajak via Instagram

Arsitektur Istana Keraton Kaibon

Keraton Kaibon merupakan bangunan yg sangat unik dikarenakan keraton Kaibon disekelilingnya merupakan saluran air & keraton ini pun dibangun seolah-olah berada pada atas air. Seluruh jalur masuk baik berdasarkan depan maupun belakang sahih-sahih harus melewati jalur air. Pada bangunan ini juga terlihat ciri-ciri bangunan ke-Islamannya, dimana bangunan inti berdasarkan bangunan ini yaitu sebuah masjid menggunakan pilar-pilar tinggi yang terlihat sangat indah dan megah.

3. Istana Keraton Surowosan Banten

Sumber: @museumbantenlama via Instagram

Selain istana keraton Kaibon, peninggalan sejarah kerajaan Banten satu ini pula tidak kalah menariknya. Peninggalan tersebut yakni Istana keraton Surowosan namanya. Jika tujuan dibuatnya keraton Kaibon menjadi loka tinggal berdasarkan ratu Aisyah, tujuan dibuatnya keraton ini yakni menjadi tempat tinggal sultan Banten & jua menjadi sentra dari pemerintahan.

Istana ini dibangun pada kisaran tahun 1522-1526 saat masa kepemimpinan Maulana Hasanudin yang selanjutnya dikenal merupakan pendiri kesultanan Banten. Berikutnya saat kepemimpinan Banten berikutnya bangunan ini dilakukan perbaikan sekaligus ditingkatkan kualitasnya yang juga melibatkan ahli bangunan saat itu  yang bernama Hendrik Lucasz Cardeel yang berasal dari Belanda.

Perlu kita ketahui, bahwa Hendrik Lucasz Cardeel seorang arsitek bangunan tersebut telah memeluk agama Islam yang kemudian diberi gelar pangeran Wiraguna. Saat ini, bangunan yang berada di dalam dinding keraton juga mengalami kerusakan dan yang tersisa hanyalah runtuhan dinding dan puluhan pondasi kamar berbentuk persegi empat .

Arsitektur Bangunan

Bangunan keraton ini mempunyai tiga gerbang masuk, dimana masing-masing gerbang berada pada sisi Utara, Selatan dan Timur. Akan tetapi pintu sisi selatan sudah ditutup dengan tembok batu yg belum diketahui apa alasannya adalah. Pada tengah keraton pula terdapat bangunan kolam yang didalamnya berisi air yang berwarna hijau karena telah dipenuhi dengan lumut & pula ganggang. Di pada bangunan keraton pula terdapat bekas kolam taman yang bernama Bale Kambang Rara Denok.

4. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk adalah peninggalan kerajaan Banten yg berlokasi pada jalan Bio Banten No.42 kampung Pamarican, desa Banten, kec. Kasemen, kab. Serang, prov. Banten. Tujuan menurut dibangunnya benteng ini yakni sebagai pertahanan berdasarkan serangan bahari. Benteng ini pun juga dipakai buat mengawasi kegiatan-aktivitas pelayaran di sekitaran Selat Sunda.

Benteng Speelwijk pertama kali dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel yakni dalam tahun 1684 sampai 1685 saat masa pemerintahan sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar yg berkuasa dari tahun 1672 sampai 1684. Nama Speelwijk sendiri digunakan dalam rangka menghormati gubernur jenderal VOC yang bernama Cornelis Janson Speelman. Speelman pertama kali menjabat pada 25 November 1681 menggantikan Rijkloff Van Goens yg telah mangkat pada 11 Januari 1684 di wilayah Batavia.

Arsitektur Bangunan

Benteng Speelwijk dahulunya dilingkupi oleh parit dengan lebar 10 meter menggunakan tujuan untuk mempersulit pasukan musuh yang hendak menyerang benteng, namun saat ini eksistensi parit hanya tinggal sebagian & telah sempit.

Benteng ini pula mempunyai ruang bawah tanah yg dahulu digunakan menjadi penjara. Benteng Speelwijk mempunyai tinggi yg tidak kurang dari 5 meter dengan pintu masuk yang sempit pada setiap sisinya. Hal ini dilakukan buat menciptakan penyerbu benteng akan sulit buat masuk ke pada benteng secara beramai-ramai. Untuk lebar dinding benteng sendiri yakni berkisar 1 meter dan lebih sempat jika dibandingkan dengan dinding benteng Istana keraton Surowosan.

5. Danau Tasikardi

Sumber: @wisatabanten.co via Instagram

Danau Tasikardi merupakan sebuah danau buatan yg proses pembuatannnya terjadi dalam tahun 1570-1580 yakni dalam masa kepemimpinan sultan Maulana Yusuf. Danau ini jua dilapisi menggunakan ubin dan batu bata. Danau ini terletak pada desa Margasana, kec. Kramatwatu, kota Serang, prov. Banten.

Danau Tasikardi dulunya memiliki luas mencapai lima hektar. Akan tetapi, saat ini luasnya telah berkurang dikarenakan bagian pinggirnya telah tertimbun tanah sedimen yg asal karena dibawa sang arus air hujan dan sungai pada sekitar danau Tasikardi tadi.

Pada zamannya, danau Tasikardi memiliki fungsi menjadi sumber air bagi keluarga kesultanan Banten yg tinggal pada istana keraton Kaibon sekaligus juga digunakan buat saluran irigasi air persawahan di lebih kurang kesultanan Banten. Air tersebut dialirkan ke keraton menggunakan pipa yang dibuat menurut tanah liat dengan diameter 2,40 meter. Sebelum digunakan famili kerajaan, air diendapkan dahulu di loka penyaringan yang dianggap dengan pengindelan saudara tertua.

6. Vihara Avalokitesvara

Sumber: @tryonopambudi via Instagram

Vihara Avalokitesvara merupakan tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa yg berada pada seberang kanal benteng Speelwijk. Bangunan ini memiliki kisah yg luar dari latar belakang pembuatannya. Vihara yang berlokasi di kec. Kasemen di daerah Banten Lama ini dikisahkan berkaitan dengan kisah asmara Syarif Hidayatullah yang jua dikenal menggunakan sunan Gunung Jati.

Salah satu wali berdasarkan wali Songo ini dahulu mempunyai istri yang adalah keturunan berdasarkan kaisar Tiongkok yang bernama putri Ong Tien. Saat menikahi putri Ong Tien yg sudah memeluk kepercayaan Islam, masih banyak pengikut putri yang masih memegang teguh keyakinannya.

Melihat hal ini sunan Gunung Jati menggunakan kebijaksanaanya akhirnya membangun sebuah vihara dalam tahun 1542 yg berada di wilayah Banten yg lebih tepatnya berada pada desa Dermayon. Akan tetapi, akhirnya pada tahun 1744 bangunan ini dipindahkan ke daerah Pamarican sampai ketika ini.

7. Meriam Ki Amuk

Sumber: jelajah_serang via Instagram

Meriam Ki Amuk merupakan sebuah meriam kuno kepunyaan kesultanan Banten yang waktu ini posisinya terletak di depan masjid Agung Banten, prov. Banten. Dahulu kala, meriam ini dipakai buat menjaga pelabuhan Karanghantu yang terletak di Teluk Banten. Meriam Ki Amuk berbahan dasar Perunggu dengan panjang tiga meter, diameter luar sebanyak 0,70 meter, diameter dalam 0,34 meter dan beratnya mencapai 7 ton.

Berdasarkan legenda, meriam Ki Amuk merupakan jelmaan dari prajurit kesultanan Demak yang dikutuk. Selain itu, menurut versi sejarah meriam ini dibuat di Jawa Tengah pada abad 16 sekitaran tahun 1527 Masehi dan bisa dikatakan inilah pendapat yang mendekati fakta.  Setelah dibuat, kemudian meriam dihadiahkan untuk kesultanan Banten dari sultan Trenggono yang pada awalnya dikenal dengan nama Ki Jimat.

8. Kerkhoff

Sumber: @diella.dachlan via Instagram

Salah satu peninggalan yang unik dan bisa menaruh informasitentang kehidupan masa lampau contohnya merupakan makam. Di area benteng Speelwijk dapat ditemukan beberapa makam peninggalan Belanda. Makam-makam inilah yg disebut menggunakan Kerkhoff. Kerkhoff berlokasi pada kampung Pamarican, kel. Banten, kec. Kasemen, kota Serang, Banten.

Kata Kerkhoff sendiri asal menurut bahasa Belanda yg jika dipecah sebagai dua suku istilah, dimana kerk merupakan gereja dan hoff adalah laman. Sudah menjadi hal yg biasa bahkan dapat dikatakan tradisi bahwa orang Belanda yg beragama Kristen menguburkan keluarganya yang meninggal pada samping Gereja.

Seiring berjalannya ketika kata Kerkhoff berubah menjadi sebutan buat kuburan/pemakaman. Berbeda halnya dengan makam Belanda yang berada di samping Gereja, beberapa makam di kota Serang Banten berada pada lingkungan benteng Speelwijk.

Makam-makam ini terbuat dari batu. Sebagian makam masih utuh dan sebagian lagi sudah nir utuh atau rusak pada bagian atasnya karena terpengaruhi usia. Di lihat berdasarkan pengelompokan jenisnya makam ini terbagi menjadi 2. Pertama, makam menggunakan batur tinggi yang pada bagian atasnya masih ada sebuah bentuk persegi dilengkapi menggunakan profil lengkung pada bagian atasnya. Ke dua, makam yang memiliki bentuk persegi, sederhana dengan identitas yg dimakamkan ditulis pada atas bagian atas batu.

9. Pelabuhan Karangantu

Sumber: @adekial via Instagram

Pelabuhan Karangantu adalah pelabuhan paling akbar kedua sesudah pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta yang tercatat dalam kitab Mengenal Peninggalan Sejarah & Purbakala Kota Banten Lama karya Uka Tjandrasasmita, Hasan M Ambary dan Hawany Michrob.

Perlu kita ketahui, pada abad ke 16 pelabuhan ini pernah menjadi tempat singgah para pedagang yang akan menuju benua Australia. Bahkan, saat pertama kali masuk ke pulau Jawa pada tahun 1596 Belanda menggunakan jasa pelabuhan ini untuk berlabuh. Tidak hanya tercatat dalam buku, akan tetapi peninggalan sejarah berupaa barang berharga yang pernah diperdagangkan dapat kita lihat di museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Nama Karangantu berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat dikarenakan ada seorang Belanda yang membawa guci berisikan hantu. Kemudian, pada suatu hari guci itu pecah dan hantu yang berada di dalam guci keluar. Sejak saat itulah, pelabuhan ini dikenal dengan pelabuhan Karangantu.

10. Makam Sultan Maulana Hasanudin

Berdasarkan sejarah Banten, Maulana Hasanudin merupakan keturunan berdasarkan sunan Gunung Jati. Dikisahkan, dia ikut berperan dalam penaklukan Sunda Kelapa kisaran tahun 1527 yang ketika itu adalah pelabuhan primer berdasarkan kerajaan Sunda.

Setelah berhasil melakukan perluasan kekuasaan, beliau menciptakan sebuah benteng pertahanan yg dikenal dengan benteng Surowosan yang kemudian berubah menjadi sentra pemerintahan kerajaan Banten setelah sebagai kerajaan Sendiri.

Makam ini berada di komplek makam para sultan kerajaan Banten yang berlokasi di lingkungan masjid Agung Banten. Selain makam sultan Maulana Hasanudin, pada kompleks makam ini pula terdapat makam sultan Ageng Tirtayasa, sultan Abdul Mufachir Muhammad Aliyudin & masih poly lagi.

11. Bale Kambang Rara Denok

Bale Kambang Rara Denok merupakan kolam taman yang berada pada dalam keraton. Di pada kolam taman ini masih ada pancuran pemandian yang disebur dengan nama pancuran Mas.

Kolam ini berbentuk persegi empat dengan berukuran panjang & lebar masing-masing 30 meter dan kedalaman mencapai 4,5 meter.Untuk sumber air, kolam taman ini berasal berdasarkan danau Tasikardi yg berbentuk sumur dan danau menggunakan jarak lebih kurang 2 kilometer menurut istana Surowosan.

Itulah 11 Peninggalan Kesultanan Banten Paling Bersejarah Beserta Penjelasan yg dapat Abang Nji informasikan buat sahabat sekalian. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan serta kecintaan kita terhadap peninggalan-peninggalan sejarah bangsa ini.

Semoga berguna.

No comments:
Write comments