Friday, July 10, 2020

13 Peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam Paling Bersejarah Beserta Penjelasan

Peninggalan Kesultanan Aceh - Kesultanan Aceh adalah suatu kerajaan Islam yang pernah berdiri di prov. Aceh, Indonesia. Kesultanan Aceh berlokasi di sisi Utara pulau Sumatera dengan ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh sultan pertamanya yang bernama sultan Ali Mughayat Syah yang diangkat pada 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau 8 Sepetember 1507.

Kesultanan Aceh dibuat sang sultan Ali Mughayat Syah yakni dalam tahun 1496. Pada mulanya, kerajaan ini berdiri pada atas wilayah kerajaan Lamuri yg lalu disatukan menggunakan beberapa kerajaan sekitarnya meliputi Pedir, Daya, Lidie dan Nakur lantaran berhasil ditundukan sang kesultanan Aceh. Setelah itu pun wilayah Pasai pada tahun 1524 menjadi bagian dari kedaulatan kesultanan Aceh yang kemudian disusul menggunakan Aru.

Tampuk kepemimpinan kesultanan Aceh pun selalu berganti kepemimpinan, dimana kesultanan ini dipimpin oleh Ali Mughayat Syah sekaligus sultan pertama hingga tahun 1528, kemudian digantikan oleh putra sulungnya yakni sultan Salahuddin yg berkuasa sampai tahun 1537 dan kemudian digantikan lagi menggunakan sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahar yg berkuasa hingga tahun 1571.

Itulah sejarah ringkas berdirinya kesultanan Aceh sekaligus sultan-sultan pioner berdirinya kesultanan Aceh. Dengan sejarah panjang kerajaan ini, tentunya poly juga peninggalan-peninggalan sejarah baik pada bentuk masjid, benteng maupun peninggalan-peninggalan lainnya. Untuk itu, Abang Nji akan menaruh berita pada sahabat sekalian 13 Peninggalan Kesultanan Aceh Paling Bersejarah Beserta Penjelasan.

1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang posisinya berada di sentra kota Banda Aceh, prov. Aceh, Indonesia. Masjid ini bisa dikatakan menjadi suatu simbol kepercayaan , semangat, budaya & perjuangan rakyat Aceh. Masjid ini jua termasuk sebagai galat satu bangunan yang selamat saat terjadinya Tsunami aceh yang terjadi dalam tahun 2004.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1612 waktu pada bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda. Tetapi, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa masjid ini dibangun lebih awal ketika di bawah kepemimpinan sultan Alaidin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Saat kolonian Belanda melalukan serangan pada kesultanan Aceh pada 10 April 1873, warga aceh berakibat masjid ini sebagai benteng pertempuran & menyerang balik pasukan belanda berdasarkan pada masjid. Pasukan Belanda pun semakin gencar dan serangannya dengan menembakan suar ke atap masjid yg saat itu terbuat dari jerami sampai mengakibatkan masjid terbakar habis.

Sebagai permintaan maaf, jenderal Van Swieten yang merupakan tokoh militer Belanda berjanji pada pemimpin lokal akan membangun balik masjid yang telah rusak. Akhirnya, pada tahun 1879 Belanda mendirikan balik masjid Raya Baiturrahaman yang adalah bentuk permintaan maaf & juga niat buat mengurangi kemarahan warga Aceh.

Konstruksi bangunan yang dimulai dalam tahun 1879 dengan peletakan batu pertama yg dilakukan sang teungku Qadhi Malikul Adil yg lalu jua ditunjuk menjadi imam masjid raya Baiturrahman ini. Setelah dilakukan proses pembangunan, akhirnya masjid ini diselesaikan dalam 27 Desember 1882 saat kepemimpinan di bawah sultan terakhir Aceh yang bernama Muhammad Daud Syah.

Saat pembangunan selesai, banyak warga Aceh yg menolak beribadah pada masjid raya Baiturrahman ini lantaran dibangun oleh orang Belanda yg dahulunya sebagai musuh. Akan tetapi, waktu ini hal tersebut sudah dilupakan & masjid Raya Baiturrahman sudah menjadi kebanggan bagi warga Aceh.

Desain Bangunan

Pada mulanya, masjid raya Baiturrahma didesain sang arsitek Belanda yakni Gerrit Bruins yg lalu diadaptasi oleh L.P. Luijks yg bertugas mengawasi pekerjaan konstruksi yg dilaksanakan sang kontraktor yg bernama Lie A Sie. Desain yang dipakai yaitu gaya Kebangkitan Mughal yang cirinya masih ada kubah akbar yg dilengkapi menggunakan menara-menara.

Interior masjid dihiasi menggunakan dinding yg terdapat pilar yang berelief, ventilasi kaca patri menurut Belgia, lantai dan tangga marmer menurut Tiongkok, batu bangunan yang asal menurut Belanda, lampu hias gantung perunggu dan pintu kayu yg berdekorasi.

2. Masjid Kuno Indrapuri

Sumber: @masjidinfo via Instagram

Masjid Indrapuri merupakan suatu bangunan candi yang asal mulanya berawal dari kerajaan Hindu Lamuri dalam abad ke 12 Masehi serta jua dipakai sebagai tempat pemujaan yang kuasa sebelum masuknya agama Islam. Masjid ini terletak pada bantaran Krueng (sungai) Aceh di keude Indrapuri, kab. Aceh Besar. Bangunan ini dibangun pada atas tanah yg memiliki luas 33.875 meter persegi dengan keringgian berada pada 4,8 MDPL.

Masjid ini diperkirakan didirikan pertama kali pada tahun 1207 Hijriah/ 1618 Masehi yg dibangun diatas bekas reruntuhan pura masa pra Islam. Ada sebuah riwayat yg menyatakan bahwa masjid Indrapuri didirikan oleh sultan Iskandar Muda, yaitu sultan Aceh yang memimpin menurut tahun 1607 sampai 1636 Masehi.

Dahulu, sebelum didirikan masjid, wilayah ini merupakan salah satu Pura sekaligus jua dipakai menjadi benteng kerajaan Lamuri. Perlu kita ketahui bersama, Lamuri sendiri merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha yg dipercaya pernah jaya di ujung pulau Sumatera sebelum masuk & berkembangnya Islam. Keberadaan Pura ini diperkirakan telah didirikan semenjak abad 10 Masehi.

Arsitektur Masjid

Bangunan masjid kuno Indrapuri dibangun memakai adonan batu & tanah liat. Saat pendirian masjid, sultan Iskandar Muda memasang 36 tiang penyangga menjadi penopang bangunan masjid.

Pada tiang masjid, masih terlihat jelas hasil ukiran khas masa kerajaan kuno.  Masjid ini juga memiliki atap yang mirip piramida dengan susunan 4 atap dari bawah hingga ujungnya, dan hal ini adalah sebagai ciri khas dari masjid-masjid tradisional Aceh.

Bangunan masjid dengan 4 susunan atap tidak hanya sebuah desain semata, akan tetapi pula mengandung makna yang adalah empat tingkat tersebut melambangkan 4 strata ilmu pada Islam. 4 strata ilmu tadi dimulai menurut syari'at, tarikat, hakikat dan ma'rifat.

3. Situs Taman Sari Gunongan

Sumber: @zulahadi via Instagram

Taman Sari Gunongan adalah peninggalan kesultan Aceh yang berada pada jalan Teuku Umar, kel. Sukaramai, kec. Baiturrahaman, kota Banda Aceh, prov. Aceh. Berdasarkan catatan sejarah taman sari Gunongan pertama kali dibangun sang sultan Iskandar Muda dengan tujuan buat menyenangkan hati permaisurinya bernama putri Pahang yang terkadang merindukan kampung laman.

Perlu kita ketahui beserta, sultan Iskandar Muda menikahi putri Pahang sesudah kesultanan Aceh menundukan kerajaan Pahang yg terdapat di Malaysia dalam tahun 1615 M. Sultan pun menjadikan putri Pahang menjadi istri keduanya setalah putri Tsani Reubee, Pidie. Dikarenakan kesibukan sultan Iskandar Muda pada pemerintahan, putri Pahang tak jarang merasa kesepian dan selalu teringat dengan kampung halamannya di Pahang.

Sebagai seorang suami, sultan Iskandar Muda pun mengetahui rasa kesepian dari ratu Pahang. Untuk membahagiakan permaisurinya tersebut, sultan akhirnya mendirikan sebuah gunung berukuran mini menjadi miniatur perbukitan yg mirip menggunakan bukit yang mengelilingi istana putroe Phang saat berada di Pahang.

Sultan Iskandar Muda pun memerintahkan para pekerja buat membentuk bukit tadi, bahkan masyarakat pun turut dan menciptakan bangunan tersebut menggunakan mengecat putih bangunan menggunakan kapur saat proses pembangunan. Hingga jadilah bangunan tersebut yang merupakan gambaran mini wilayah pahang yg bergunung-gunung. Disekitaran bukit tadi pula dibangun taman yg ditanami bungan dan pepohonan & dikenallah hingga kini dengan nama taman Sari Gunongan.

4. Pintu Khop

Sumber: @fotoriza via Instagram

Pintu Khop adalah suatu pintu gerbang kecil yg meyerupai bentuk kubah, dimana pintu ini memiliki fungsi untuk menghubungkan taman Sari Gunongan menggunakan istana. Pintu Khop jua dijadikan sebeagi loka peristirahatan putri Pahang sesudah selesai berenang. Pintu ini posisinya nir begitu jauh dengan Gundongan yang pula berada di dalam komplek taman putroe Phang atau putri Pahang.

Pintu Khop bisa diartikan jua pintu mutiara keindraan atau kedewaan. Pintu ini sendiri mempunyai panjang yg mencapai dua meter & lebar 3 meter, dimana bahan dasar pembuatan pintu ini merupakan kapur. Salah satu aturan yang harus dipatuhi tentang pintu ini yakni, hanya keluarga istana kerajaan saja yg boleh melewati pintu gerbang ini.

Pintu Khof berdiri sangat latif dan megah dengan dikelilingi kolam yang airnya higienis dan jua jernih, dimana sumber air dialirkan berdasarkan Krueng Daroy atau dikenal pula menggunakan sebutan sungai Darul Ashiqi. Areal lokasi pintu ini memiliki luasan yang cukup akbar yaitu 4.760 meter persegi yang waktu ini dikelola dan dijadikan taman rekreasi wisata sang pemerintah kota Banda Aceh.

Lima. Benteng Indra Patra

Sumber: @hikayat_pejalan via Instagram

Benteng Indra Patra adalah sebuah bangunan benteng bercorak Hindu yg lokasinya pada kab. Aceh Besar, Aceh. Benteng ini pada mulanya difungsikan menjadi bangunan pertahanan berdasarkan serangan musuh yang menyerang wilayah Aceh.

Perlu kita ketahui beserta bangunan benteng ini didirikan dalam masa kerajaan Lamuri, dimana kerajaan Lamuri ini adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di daerah Aceh sebelum masuknya masa kerajaan Islam. Pada abad ke 17, sudah banyak aktivitas perdagangan antar negara serta poly melibatkan berbagai pihak luar seperti bangsa Tamil, Arab, Siam & pula India.

Sumber: @hikayat_pejalan via Instagram

Benteng Indra Prata sendiri berlokasi pada wilayah Ladong, kab. Aceh Besar dan jaraknya sekitar 19 Kilometer berdasarkan kota Banda Aceh. Benteng ini memiliki berukuran luas sebesar 70 x 70 meter, yang dalam awalnya masih ada tiga bangunan benteng, akan namun ketika ini hanya tersisa dua bangunan benteng & 2 stupa.

Saat kerajaan Hindu mengalami keruntuhan, benteng ini tetap difungsikan sebagai benteng pertahanan dari agresi musuh ketika kepimpinan sultan Iskandar Muda & Laksamana Malahayati.

6. Makam Sultan Iskandar Muda

Sumber: reza_irfandi via Instagram

Makam Sultan Iskandar muda berlokasi bersebelahan dengan Meuligoe Aceh yakni tempat kediaman resmi gubernur Aceh dan juga berdampingan dengan museum Aceh. Makam ini dahulunya sempat  tidak diketahui keberadaannya karena dihilangkan jejaknya oleh pasukan Belanda saat terjadinya perang Aceh.

Kemudian, barulah pada 19 Desember 1952 lokasi berdasarkan makam sultan Iskandar Muda dapat ditemukan pulang, dikarenakan adanya petunjuk dari mantan permaisuri keliru seorang sultan Aceh bernama Pocut Meurah.

Saat tabuk kepemimpinan dipegang oleh sultan Iskandar Muda sejak tahun 1607 sampai 1636, beliau membawa kesultanan Aceh mencapai zenit kejayaan. Hal ini dibuktikan pada waktu abad ke 17, kesultanan Aceh masuk ke dalam peringkat 5 terbesar diantara kerajaan-kerajaan Islam yg ada pada global. Saat itu, kesultanan Aceh menjadi loka perdagangan internasional menggunakan disinggahi kapal-kapal asing yg membawa output bumi dari benua Asia ke benua Eropa.

Tidak hanya dikenal raja yang bisa membawa kesultanan Aceh pada puncak kejayaan, sultan Iskandar Muda jua dikenal menjadi raja yg adil dan bijaksana bahkan kepada keluarganya sendiri. Hal ini dia buktikan menggunakan memancung puteranya bernama Meurah Pupok di khalayak umum dikarenakan melakukan pelanggaran yang berat.

7. Meriam Sri Rambai

Salah satu bukti bahwa kerajaan ini sahih-sahih mencapai puncak kejayaan pada masanya merupakan adanya peninggalan sejarah berupa alat-alat militer yaitu meriam Sri Rambai. Meriam Sri Rambai waktu ini diletakan mengarah ke bahari di Fort Cornwallis, George Town, Penang, Malaysia.

Senjata ini merupakan senjata kebanggan berdasarkan sultan Iskandar Muda yg pernah jua digunakan oleh Francis Light pada tahun 1786 Masehi yang digunakan buat mempertahankan pulau Penang dari banyak sekali agresi musuh yang ingin menguasainya.

Meriam ini sendiri dibuat pada masa sultan Selim II Turki Utsmani yg mengirim teknisi dan produsen senjata menurut Turki ke wilayah Aceh. Dengan didatangkannya teknisi ini, Aceh lalu menyerap dan menyelidiki cara pembuatan meriam sebagai akibatnya sanggup memproduksi meriam sendiri yang dibentuk dengan bahan dasar kuningan yang kemudian difungsikan untuk mempertahankan kerajaan Aceh menurut berbagai agresi musuh.

Pada punggung meriam terdapat tabrakan yang ditulis dalam bahasa Jawi yang berbunyi :

Tawanan Sulthan kita Sri Sulthan Perkasa Alam Johan Berdaulat menitahkan Orang Kaya Sri Maharaja akan Panglima & Orang Kaya Laksamana dan Orang Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor Sanat 1023 H (1613 M).

8. Pedang Aman Nyerang

Pada masa lampau, terdapat seseorang rakyat yang bernama Nyerang, dimana ia mempunyai sebuah pedang yg pernah direbut sang pasukan Belanda. Aman Nyerang tetapkan buat hayati mengembara pada hutan selama kurang lenih 20 tahun. Akan namun, dalam tiga Oktober 1922 akhirnya tempat persembunyian Aman Nyerang ditemukan oleh pasukan Belanda dan dia pun dibunuh.

Setelah dibunuh, letnan Jordans yang adalah tentara pasukan Belanda membawa pedang tersebut ke Belanda. Hingga menjelang wafatnya, letnan Jordans meminta kepada putrinya supaya mengembalikan pedang yg pernah dibawanya balik ke Aceh & disimpan pada suatu loka seperti halnya museum Aceh.

Kemudian, pada tahun 2000 letnan Jordans pun wafat & putrinya pun melaksanakan pesan terakhir ayahnya buat mengembalikan pedang Aman Nyerang ke Aceh. Pedang tadi pun dikembalikan melalui pengurus yayasan Dana Peucut yang ada di Belanda pada gubernur Aceh & hal ini berlangsung dalam tanggal 14 Maret 2003.

9. Mata Uang Emas Aceh

Sumber: @instazamrony via Instagram
Seperti kita ketahui bersama, posisi Aceh terletak pada jalur pelayaran dan perdagangan yang sangat strategis, sehingga membuat berbagai komoditas dagang dari seluruh penjuru Asia berkumpul di Aceh. Dengan adanya hal tersebut, mendorong kerajaan Aceh untuk menciptakan mata uang sendiri.

Uang logam menjadi pilihan mata uang Aceh, dimana uang logam tersebut mengandung 70 % emas murni dan dicetak lengkap beserta nama raja-raja yang memimpin Aceh.  Karena kandungan emasnya yang tinggi, mata uang Aceh ini banyak diburu oleh orang dan termasuk salah satu peninggalan kerajaan Aceh yang mencapai punjak kejayaan pada masa tersebut.

10. Kerkhoff Peutjoet

Sumber: @kotabandaaceh via Instagram
Kerkhof Peutjoet merupakan pemakaman prajurit Belanda yang tewas dalam kejadian perang Aceh. Komplek pemakaman ini banyak tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan salah satunya berada di kota Banda Aceh.

Perlu kita ketahui beserta, waktu zaman penjajahan dahulu kerajaan Aceh yang dibantu dengan rakyatnya sangatlah gigih melawan serta memerangi Belanda. Rakyat Aceh rela berkorban jiwa dan raga demi membela tanah airnya. Dengan adanya perlawanan dalam waktu yg usang tersebut menciptakan poly jatuh korban di kedua belah pihak baik kerajaan Aceh maupun pasukan Belanda.

Pada pemakaman ini masih ada kurang lebih 2000 prajurit yang dikuburkan, baik itu berdasarkan serdadu Belanda & jua serdadu Batak, Jawa, Ambon, Madura & beberapa serdadu lainnya yg termasuk ke dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda.

Kuburan kerkhoff ini adalah kuburan militer Belanda yg berada pada luar Belanda menggunakan ukuran terluas di dunia. Dalam sejarah peperangan Belanda, perang Aceh adalah perang yang paling getir dirasakan sang Belanda, bahkan pahitnya pengalaman mereka pada waktu terjadinya perang Napoleon.

Hingga ketika ini, pemakaman tadi masih dirawat oleh masyarakat Aceh dan merupakan keliru satu peninggalan sejarah kerajaan Aceh yang poly dikunjungi.

11.  Sungai Darul Ashiqi/Krueng Daroy

Sumber: @kotabandaaceh via Instagram
Sungai ini memiliki fungsi untuk mengalirkan air ke pintu Khof yang dikelilingi kolam, yang sumber air kolam tersebut berasal dari sungai Darul Ashiqi. Sungai ini bukanlah sungai yang terbentuk secara alami akan tetapi sungai yang sengaja dibuat, dimana panjangnya kurang lebih 5 km dari pegunungan mata le yang berlokasi di kec. Darul Imarah, kab. Aceh Besar.

12. Cap Sikureung

Sumber: @cakradonja via Instagram
Cap Sikureung adalah segel atau cap sultan-sultan yang memimpin Aceh. Cap ini adalah cap resmi yang dipakai baik itu oleh sultan maupun sultanah Aceh yang berfungsi untuk mengesahkan perintah atau sebuah mandat. Dalam bahasa Aceh, Cap Sikureung memiliki arti Cap Sembilan.

Pemberian nama ini, menurut kepada bentuk cap yg mencantumkan nama-nama sultan yg berjumlah sembilan orang & sultan yang sedang memerintah ketika itu namanya tertulis pada tengah-tengah cap.

13. Hikayat Prang Sabi

Sumber: tengkuputeh.com
Hikayat Prang Sabi adalah bentuk peninggalan sejarah dari kerajaan Aceh yang berbentuk karya sastra. Hikayat ini menceritakan tentang jihad. Karya sastra ini ditulis oleh para ulama Aceh yang berisikan nasihat, ajakan serta seruan untuk menegakan agama Allah daripada gangguan orang Kafir. Hal ini lah yang membakar semangat juang rakyat Aceh yang tidak takut mati dalam mengusir para penjajah.

Itulah 13 Peninggalan Kesultanan Aceh Paling Bersejarah Beserta Penjelasan yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air ini.

Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments