Monday, July 13, 2020

15 Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya Yang Harus Kamu Ketahui

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya - Sriwijaya merupakan salah satu kemaharajaan Bahari yang pernah berkuasa dan berdiri di pulau Sumatera serta banyak memberi pengaruh di berbagai daerah Nusantara dengan daerah kekuasaan yang luas berdasarkan peta membentang dari Kamboja, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, Sumatera, Jawa Barat dan ada kemungkinan juga berkuasa di Jawa Tengah.

Dengan luasnya daerah kekuasan kerajaan Sriwijaya, tentunya kerajaan ini meninggalkan bekas-bekas peninggalan sejarah yang tentunya menarik untuk dipelajari dan diketahu. Untuk itu Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian 15 Peninggalan Sejarah  Kerajaan Sriwijaya Yang Harus Kamu Ketahui.

1. Prasasti Kota Kapur

Sumber: @ale.woh via Instagram

Prasasti Kota Kapur adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang posisi ditemukannya berada di pulau Bangka yaitu sebuah desa kecil yang dikenal dengan Kota Kapur. Prasasti ditulis dengan aksara Pallawa serta menggunakan bahasa Melayu Kuno yang terdiri dari 10 baris serta ditulis secara vertikal.  Pada baris terakhir prasasti terdapat informasi mengenai tarikh pembuatan prasastui yang menunjukan angka 28 April 686 Masehi atau 608 Saka.

Prasasti Kota Kapur memiliki bentuk seperti tugu segi enam nir beraturan ang semakin kecil bagian atasnya. Prasasti ini terbuat menurut batu andesit yg ukuran tingginya 177 cm, lebar bagian bawah 32 cm & lebar bagian atasnya 19 centimeter.

Prasasti ini termasuk kedalam dokumen tertulis yang menggunakan bahasa Melayu. Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh penemu bernama J.K. Van Der Meulen yakni pada bulan Desember tahun 1982 serta sebagai prasasti pertama kerajaan Sriwijaya yang pertama kali ditemukan.

Orang yang pertama kali menganalisis tentang prasasti ini yaitu H.Kern. Perlu diketahui H.Kern adalah seorang ahli Epigrafi bahasa Belanda yang bekerja diBataviaasch Genootschapyang terletak di Batavia. Pada awal analisisnya ia menganggap bahwa Sriwijaya merupakan nama dari seorang raja.

Akan tetapi , hal ini dibantah oleh George Coedes yg lalu menyatakan bahwa Sriwijaya merupakan nama berdasarkan sebuah kerajaan kuat & pernah menguasai bagian Barat Nusantara, Thailand bagian Selatan & Semenanjung Malaya dalam abad ke 7 Masehi.

Isi Dari Prasasti

Prasasti Kota Kapur merupakan galat satu berdasarkan lima prasasti kutukan yg dibentuk seorang bernama Dapunta Hyang yaitu seseorang penguasa Kadatuan Sriwijaya.

2. Gapura Sriwijaya

Sumber: warnainfo.blogspot.com

Gapura Sriwijaya merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berbentuk gapura.Gapura ini terletak pada dusun Rimba, Kec. Dempo Tengah, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Gapura ini terdiri berdasarkan 9 bagian gapura, akan namun telah roboh dampak menurut adanya bencana alam seperti gempa dan juga erosi.

Walaupun telah roboh, eksistensi gapura ini tetap diingat sang warga setempat. Untuk waktu ini kabar tentang gapura ini masih sangat terbatas, dikarenakan sedang dilakukan penelitian sang para sejarawan.

Tiga. Prasasti Leiden

Prasasti  Leiden adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang digores pada lempengan tembaga dengan angka tahun 1005 dengan bahasa Tamil dan Sanskerta. Prasasti ini berisi informasi tentang hubungan baik antara dinasti Sailendra dari Sriwijaya dan dinasti Chola dari Tamil.

4. Prasasti Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo pertama kali ditemukan oleh Louis Constant Westenenk yakni dalam tanggal 17 November 1920. Prasasti ini ditemukan pada kaki Bukit Seguntang serta merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan Sriwijaya.

Prasasti ini ditemukan dalam keadaan yg masih baik dengan bidang datar yang terdapat tulisan dengan berukuran 50 cm x 80 cm. Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa , bahasa Melayu Kuno yg terdiri menurut 14 baris.

Prasasti  ini ber angka tahun 606 Saka atau 23 Maret 684 Masehi. Seorang sarjana pertama yang sukses dalam membaca atau mengartikan aksara prasasti tersebut yaitu Van Ronkel Dan Bosch yang kemudian dimuat pada Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti ini telah disimpan di tempat penyimpanan peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia yaitu Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan D.145.p sebagai nomor inventarisnya.

Prasasti ini mengisahkan tentang pembangungan taman yang diperintahkan oleh raja Sriwijaya yaitu Sri Jayanasa dengan tujuan sebagai  tempat hiburan bagi rakyat pada abad ke-7. Dalam prasasti tertulis bahwa taman berada di tempat yang pemandangannya indah serta lahan yang dipakai terdapat bukit serta lembah. Taman ini dikenal dengan nama taman Sriksetra yang juga dituliskan dalam prasasti.

5. Prasasti Palas Pasemah

Sumber: sumbersejarah1.blogspot.com

Prasasti Palas Pasemah ini pertama kali ditemukan di Lampung Selatan tepatnya pada desa Palas Pasemah. Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa & berbahasa Melayu Kuno yg terdiri atas 13 baris.

Berdasarkan penelitian berdasarkan Boechari dalam tahun 1979, dia mengemukakan bahwa dari perbandingan bentuk huruf menggunakan prasasti-prasasti lainnya prasasti ini bertenaga dugaan dari dari pada abad ke 7 Masehi. Prasasti ini berisikan kabar tentang penaklukan Lampung dan jua kutukan kepada yang sudah berani berontak pada kerajaan Sriwijaya.

6. Prasasti Hujung Langit

Sumber: baabun.com

Prasasti Hujung Langit termasuk ke pada peninggalan sejarah kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini pertama kali ditemukan di Lampung tepatnya pada desa Haur Kuning.

Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini berasal menurut tahun 997 Masehi yang berisi mengenai adanya hadiah tanah Sima. Penetapan suatu area menjadi Sima, dalam umumnya berkaitan dengan terdapatnya bangunan suci yg terdapat di area tadi.

Prasasti Hujung Langit digoreskan pada sebongkah batu andesit. Pada bagian atasnya berukuran lebih kecil daripada bagian bawah serta sebagian batu bagian bawah sedikit terpendam dalam tanah. Prasasti ini memiliki bentuk yang mirip dengan kerucut  dengan tinggi 162 cm serta lebarnya yaitu 60 cm.

Pada prasasti ini terdapat 18 baris goresan pena dan pada sekitar prasasti masih ada rabat-rabat batu yg berserakan. Adanya rabat-rabat batu tadi ada dugaan bahwa dahulu pernah berdiri debuah monumen di sekitaran prasasti. Oleh Punku Haji Yuwa Rajya Sri Haridewa dimuntahkan dalam rangka untuk keperluan bangunan suci Wihara pada wilayah Hujung Langit.

7. Prasasti Telaga Batu

Sumber: situsbudaya.id

Prasasti Telaga Batu pertama kali ditemukan pada sekitaran kolam Telaga Biru, Kel. Tiga Ilir, Kec. Ilir Timur II Palembang. Prasasti ini digoreskan pada sebongkah batu andesit yg sudah dibentuk layaknya prasasti. Ukuran untuk prasasti ini yaitu tingginya 118 cm dan lebarnya 148 cm. Pada bagian atas prasasti terdapat hiasan yaitu tujuh ekor ketua ular kobra dan bagian bawahnya ada hiasan berbentuk pancuran.

Prasasti Telaga Batu terdapat tulisan yang berjumlah 28 baris dengan bahasa Melayu Kuno dan berhuruf Pallawa. Tulisan yang digoreskan pada prasasti cukup panjang, akan tetapi secara ringkas isinya berupa kutukan terhadap siapa saja  yang tidak taat dan melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya.

Johanes Gijsbertus de Casparis seseorang filolog menurut belanda berpendapat bahwasanya orang-orang yg disebutkan pada prasasti ini merupakan orang-orang yg mengkategorikan berbahaya serta berpotensi buat melawan ataupun memberontak pada kedatuan Sriwijaya sebagai akibatnya perlu dilakukan pengambilan sumpah.

Prasasti ini merupakan keliru satu prasasti kutukan yg relatif lengkap memuat nama-nama petinggi pemerintahan. Beberapa sejarawan menduga dengan adanya prasasti ini , ditarik kesimpulan bahwa sentra Sriwijaya itu terdapat di Palembang dan petinggi-petinggi yang disumpah tadi pastinya bertempat tinggal pada mak kota kerajaan.

8. Prasasti Kedukan Bukit

Sumber: @pariwisata.palembang via Instagram

Prasasti Kedukan Bukit pertama kali ditemukan oleh M. Batenburg yakni dalam tanggal 29 November 1920, pada tepi sungai Tatang yg mengalir ke sungai Musi, kampung Kedukan Bukit, Kel. 35 Ilir, Palembang.

Prasasti ini berbentuk batu dengan ukuram 45 x 80 cm, yg ditulis dengan aksara Pallawa serta memakai bahasa Melayu Kuno. Saat ini prasasti disimpan di museum Nasional dengan angka inventaris D.146.

Isi dari prasasti Kedukan Bukit mengisahkan tentang seorang utusan kerajaan Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan kudus (Sidhayarta) menggunakan bahtera. Saat perjalanan tersebut, beliau ditemani menggunakan jumlah pasukan yang relatif poly yakni 2000 pasukan. Saat bepergian kudus, dia berhasil menundukan beberapa wilayah lainnya.

9. Prasasti Karang Berahi

Sumber: baabun.com

Prasasti Karang Berahi adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yg pertama kali ditemukan oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada tahun 1904 pada tepian Batang Merangin. Prasasti ini berada pada desa Karang Berahi, Kec. Pamenang, Kab. Merangin tepatnya pada dusun Batu Bersurat.

Prasasti Karang Berahi teridentifikasi menggunakan bahasa Melayu Kuno & beraksara Pallawa. Isi menurut prasasti ini yaitu mengenai adanya kutukan bagi orang yang tidak setia, tunduk & orang yang berbuat dursila pada raja kerajaan Srwijaya. Kutukan pada prasasti ini seperti menggunakan kutukan yg terdapat pada Prasasti Telaga Batu & prasasti Kota Kapur.

Prasasti Karang Berahi sendiri nir bertarikh, akan namun para sejarawan memperkirakan bahwa prasasti ini dibentuk kisaran tahun 680 an atau sekitaran akhir abad ketujuh Masehi. Prasasti ini terbuat dari batu dengan berukuran 90 x 90 x 10 centimeter serta pada bagian bawahnya berbentuk misalnya separuh telur lantaran telah patah sebelumnya.

10. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan keliru satu candi peninggalan kerajaan Sriwijaya yg terletak di Kec. XIII Koto, Kab. Kampar, Riau. Pada kompleks candi tadi masih ada beberapa candi lainnya yakni candi Bungsu, candi Sulung, Palangka & Mahligai Stupa. Lantaran hal inilah poly sejarawan yang memprediksi bahwa kompleks ini adalah pusat daripada pemerintahan kerajaan Sriwijaya.

Candi Muara Takus dilingkupi tembok yg terbuat menurut putih dengan tinggi 80 cm dan ukuran 74 x 74 meter. Di luar area, terdapat juga tembok yang terbuat dari tanah yang berukuran 1,lima x 1,lima cm yg mengelilingi kompleks ini sampai ke tepi sungai Kampar Kanan.

Pada tahun 2009, candi Muara Takus dicalonkan buat sebagai galat satu dari situs warisan dunia UNESCO.

11. Candi Muaro Jambi

Sumber: @pentynadill via Instagram

Candi Muaro Jambi adalah sebuah komplek percandian kepercayaan Hindu & Budha menggunakan areal yang sangat luas dan diperkirakan sebagai candi peninggalan kerajaan Sriwijaya & kerajaan Melayu yg ada pada Sumatera. Candi ini dibangun sekitaran abad ke 11 serta terletak di kec. Maro Sebo, kab. Muaro Jambi, prov. Jambi.

Luas areal candi ini termasuk yang terluas pada Indonesia bahkan jua di Asia Tenggara dengan luasan yg mencapai 3981 hektar. Dan sejak tahun 2009 kompleks candi Muaro Jambi ini sudah dicalonkan menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Di dalam kompleks candi jua ditemukan parit ataupun kanal kuno, gundukan tanah yang di dalamnya masih ada struktur bata zaman dahulu serta kolam tempat penampungan air yg dibuat sang insan pada zaman tadi. Selain peninggalan berupa bentuk bangunan, dalam kompleks tadi juga dijumpai dwarapala, arca prajnaparamita, umpak batu, lesung batu, keramik asing, perunggu tembikar & banyak benda bersejarah lainnya.

12. Candi Biaro Bahal

Sumber: @omar.mohtar via Instagram

Candi Biaro Bahal jua termasuk ke pada peninggalan sejarah kerajaan Sriwijaya yang terletak di kec. Padang Bolak, kab. Tapanuli Selatan, prov Sumatera Utara atau lebih tepatnya berada di desa Bahal. Candi ini diperkirakan dibangun dalam abad ke 11 menggunakan struktur/bahan bata merah. Kompleks candi ini jua terdiri berdasarkan kumpulan candi dimana juga masih ada candi Bahal I, II dan III yang saling terhubung dan terdiri pada satu garis lurus.

Biaro Bahal I memiliki berukuran paling besar . Pada kaki candi masih ada hiasan papan-papan yg sekelilingnya berukirkan tokoh yaksa dengan kepala hewan dalam keadaan menari. Diantara papan yg yg berhiasan itu masih ada ukiran singa yang sedang duduk. Biaro Bahal II pernah ditemukan suatu arca Heruka yg mendeskripsikan tokoh pantheon agama Budha beraliran Mahayanan. Sedangkan Biaro Bahal III masih ada gesekan daun.

13. Prasasti Nalanda

Sumber: arkenas.kemdikbud.go.id

Prasasti Nalanda adalah prasasti yang didirikan  oleh raja Sriwijaya dengan kerajaan Nalanda. Prasasti Nalanda mengisahkan bahwa raja Balaputra Dewa yang merupakan raja terakhir dinasti Syailendra yang terasing dari Jawa Tengah akibat suatu kekalahan melawan kerajaan Mataram dari dinasti Sanjaya.

Di pada prasasti Nalanda jua diceritakan bahwa Balaputra Dewa meminta pada raja Nalanda agar mengakui haknya pada dinasti Syailendra. Prasasti ini pula menceritakan bahwasanya raja Dewa Paladewa mau membebaskan 5 desa dari pungutan pajak dalam upaya membiayai penuntut ilmu Sriwijaya yang belajar di wilayah Nalanda.

14. Prasasti Ligor

Sumber: kerisku.id

Prasasti Ligor adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang terletak di daerah Ligor, Selatan Thailand. Prasasti ini adalah pahatan yang ditulis dengan pada kedua sisinya. Sisi pertama dikenal dengan Ligor A atau disebut juga  dengan nama manuskrip Viang Sa.

Untuk sisi satunya lagi dikenal menggunakan nama Ligor B yang berangka tahun 775 serta ditulis menggunakan aksara Kawi. Menurut para pakar, prasasti Ligor B dibuat sendiri sang maharaja Dyah Pancapana Kariyana Panamkarana yang merupakab galat satu raja dari wangsa Sailendra kerajaan Sriwijaya.

15. Prasasti Amoghapasha

Sumber: @lacultureindo via Instagram

Prasasti Amoghapasha merupakan galat satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yg dijumpai di daerah Jambi. Prasasti ini diprediksi sudah terdapat dari tahun 1826 M. Isi berdasarkan prasasti ini mengisahkan adanya sebuah penyerahan hibah yg diberikan oleh raja Kartanegara kepada raja Suwarnabhumi.

Demikianlah 15 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yg dapat Abang Nji informasikan pada sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kita beserta.

Semoga Bermanfaat.

No comments:
Write comments