Tuesday, July 7, 2020

17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan

Peninggalan Kesultanan Cirebon - Kesultanan Cirebon ialah kesultanan Islam terkenal di Jawa Barat pada era ke-15 serta 16 Masehi. Kesultanan ini memiliki peranan penting sebagai pangkalan  bagi  jalur perdagangan serta pelayaran antar pulau. Lokasinya yang berada di pantai utara pulau Jawa yang merupakan daerah perbatasan di antara Jawa Tengah dan juga Jawa Barat, membuat wilayah ini menjadi pelabuhan ataupun jembatan di antara kebudayaan Jawa dan juga Sunda.

Dengan adanya hal tersebut terbentuklah suatu kebudayaan yang memiliki kekhasan, yakni kebudayaan Cirebon yang tak didominasi baik dari kebudayaan Jawa ataupun kebudayaan Sunda. Kesultanan Cirebon dibangun di dalem agung pakungwati yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan negara islam kesultanan cirebon. letak dalem agung pakungwati saat ini berubah menjadi keraton kasepuhan cirebon.

Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain, tentunya kesultanan Cirebon juga meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tentunya dapat kita temukan pada era saat ini. Untuk itu Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan.

1. Keraton Kacirebonan

Sumber: @pricess_mimi1409 via Instagram

Keraton Kacirebonan dibuat pada tahun 1800 M, Bangunan kolonial ini poly menyimpan beberapa benda peninggalan sejarah seperti Keris, Wayang, peralatan Perang, Gamelan & sebagainya.

Keraton Kacirebonan merupakan keraton yang dibangun atas prakarsa Pangeran Muhamad Haerudhin. Ia adalah Putra Mahkota Sultan Kanoman ke-IV yang melaksanakan perlawanan sengit pada pemerintahan kolonial Belanda.

Sejarah dibuatnya Keraton Kacirebonan memang tidak terlepas berdasarkan peperangan yang sempat berkecamuk pada wilayah Cirebon. Waktu itu, tahun 1670, Belanda mulai masuk ke dalam kedaulatan Keraton Kanoman yang waktu itu pada pimpin oleh Pangeran Haerudhin. Perihal ini ditentang oleh putra mahkota kesultanan yang nir lain artinya Pangeran Muhamad Haerudhin.

Menyertakan rakyat Cirebon yg memberi dukungan, peperangan menentang kolonial Belanda berjalan selama kurang lebih lima tahun. Akan namun, dalam tahun 1696 Pangeran Muhamad Haerudhin sukses ditaklukkan dan diasingkan ke wilayah Ambon, Maluku.

Pengasingan itu membuat Pangeran Haerudin yg telah tua nir mempunyai putra mahkota buat diangkat jadi Sultan Kanoman. Hal ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda menggunakan sepihak buat mengusung Pangeran Imamudin yang pro kolonial menjadi Sultan Kanoman yang ke-V.

Tetapi, penobatan yang tidak disetujui rakyat Cirebon tersebut menjadikan peperangan makin menjalar dan menyebar sampai ke daerah luar Cirebon. Selanjutnya, Pangeran Muhamad Haerudhin pun dipulangkan buat menurunkan amarah masyarakat kota dengan julukan kota udang ini.

Keraton Kanoman yang sudah menentukan Pangeran Imamudin menjadi pemangku tahta, menciptakan Pangeran Muhamad Haerudhin membangun Kesultanan Kacirebonan pada tahun 1800 Masehi dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin.

Seperti Keraton Kasepuhan serta Keraton Kanoman, Kecirebonan pula masih menjaga, melestarikan & melakukan rutinitas serta upacara tradisi seperti Upacara Pajang Jimat & lain-lain.

Kacirebonan posisinya terletak pada kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan, persisnya 1 km samping barat daya dari Keraton Kasepuhan sekitar 500 meter sisi selatan Keraton Kanoman. Keraton Kacirebonan sendiri posisinya memanjang berdasarkan utara ke selatan dengan luas tanah kira-kira 46.500 meter persegi

Sumber: @pricess_mimi1409 via Instagram
Desain Bangunan

Bangunan Kacirebonan sendiri menggunakan model jenis percampuran Cina, Bangunan zaman Kolonial dan Tradisional. Bentuk bangunannya misalnya bangunan pembesar pada jaman kolonial Belanda menggunakan efek arsitektur Eropa yang bertenaga.

2. Keraton Kanoman

Sumber: @pojokjendela via Instagram
Perlu kita ketahui bersama, bangunan keraton Kanoman sendiri termasuk ke dalam salah satu antara dua bangunan peninggalan kesultanan Cirebon, seusai berdirinya keraton Kanoman pada tahun 1678 Masehi, kesultanan Cirebon pun terdiri dari keraton Kasepuhan serta keraton Kanoman. Kebesaran Islam di Jawa bagian barat tentunya tidak terlepas dari Cirebon.

Sunan Gunung Jati artinya orang yg bertanggungjawab menebarkan agama Islam pada Jawa Barat, sehingga jika berbicara tentang Cirebon nir akan pernah terlepas menurut figur Syarif Hidayatullah atau jua dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

Keraton Kanoman dibangun sang Pangeran Mohamad Badridin/Pangeran Kertawijaya, yg bergelar Sultan Anom I pada kisaran tahun 1678 Masehi. Keraton Kanoman masih patuh memegang tata cara-adat serta pepakem, salah satunya melakukan norma Grebeg Syawal, yang dilakukan satu minggu sehabis Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati yang lokasinya berada di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah yang terdapat di Keraton Kanoman sangat erat hubungannya dengan syiar agama Islam yg gencar dilaksanakan Sunan Gunung Jati, yg dikenal jua menggunakan nama Syarif Hidayatullah.

Komplek berdasarkan Keraton Kanoman sendiri memiliki luasan yg cukup akbar yakni sekitar 6 hektare yang posisinya berada pada belakang pasar. Di Keraton ini ,tinggallah sultan ke dua belas yg bernama Raja Muhammad Emiruddin yang ditemani dengan keluarganya. Keraton Kanoman merupakan komplek yang ruang lingkupnya luas, pada dalamnya masih ada bangunan antik, diantaranya saung yang dikenal dengan nama bangsal witana yg disebut menjadi cikal bakal berdasarkan keraton yang luasnya hampir mencapai lima kali lapangan sepak bola.

Di keraton ini masih ada barang barang peninggalan sejarah cirebon, misalnya dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yg masih tertangani baik dan tersimpan pada museum.Terdapat peninggalan yang menyerupai bentuk burak, yaitu fauna yg dikendarai Nabi Muhammad waktu dia Isra Mi'raj.

Tak jauh berdasarkan kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo yang digunakan untuk menerima tamu, penetapan sultan dan anugerah restu pada sebuah program misalnya Maulid Nabi. Di sisi tengah Keraton, pula dapat kita temukan sebuah kompleks bangunan yang dikenal menggunakan nama Siti Inggil.

Perihal yang menarik menurut Keraton di wilayah Cirebon merupakan terdapatnya piring-piring porselen asli Tiongkok menjadi penghias dinding semua keraton yang terdapat di daerah Cirebon. Tidak hanya pada keraton, piring-piring keramik itu juga bersebaran hampir pada seluruh situs bersejarah pada daerah Cirebon. Serta yang tidak kalah krusial berdasarkan Keraton pada Cirebon ialah keraton senantiasa menghadap ke utara.

Di halaman keraton ini, juga terdapat patung macan yang  menjadi simbol dari Prabu Siliwangi. Di bagian depan keraton senantiasa ada alun alun sebagai tempat bagi rakyat untuk berkumpul serta pasar dijadikan sebagai pusat perekonomian, di samping timur keraton juga senantiasa terdapat masjid.

3. Keraton Kasepuhan Cirebon

Sumber: @nessiamegawati88 via Instagram
Keraton Kasepuhan ialah keraton termegah dan juga keraton paling terawat di erah daCirebon. Arti di tiap-tiap pojok arsitektur keraton ini juga paling bersejarah. Perlu anda ketahui, di halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah serta ada bangunan berbentuk pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan ialah kerajaan islam tempat beberapa pendiri cirebon bertahta, disini pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri pertama kali.

Keraton ini mempunyai museum yg cukup komplet dan berisi benda pusaka & pula lukisan koleksi kerajaan. Satu diantara koleksi yakni kereta Singa Barong dimana kereta tersebut merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta itu kini tidak lagi digunakan serta cuma dimuntahkan dalam setiap 1 Syawal untuk dibersihkan menggunakan cara dimandikan. Pada bagian pada keraton ini jua terdiri menurut sebuah bangunan krusial berwarna putih yg pada dalamnya terdapat ruangan tamu, ruangan tidur dan singgasana raja.

Sejarah Ringkas Keraton

Keraton Kasepuhan sendiri terdapat 2 komplek bangunan paling bersejarah yakni Dalem Agung Pakungwati yang dibangun dalam tahun 1430 Masehi oleh Pangeran Cakrabuana dan komplek keraton Pakungwati yang ketika ini dikenal menggunakan sebutan keraton Kasepuhan yg dibangun sang Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 Masehi.

Pangeran Cakrabuana dahulu senantiasa bersemayam pada Dalem Agung Pakungwati. Keraton Kasepuhan dahulunya bernama Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati sendiri dinisbatkan dalam nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah menggunakan Sunan Gunung Jati.

Dewi Pangkuwati mati dunia dalam tahun 1549 Masehi, yakni di pada Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dengan umur yang sangat tua. Nama ia diabadikan serta dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati, sehingga namanya diabadikan menjadi nama Keraton yakni Keraton Pakungwati yang waktu ini dikenal menggunakan nama Keraton Kasepuhan

Desain Bangunan

Suumber: @dian_ismyama via Instagram

Keraton Kasepuhan merupakan satu berdasarkan bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terurus secara baik, misalnya pada keraton-keraton yang berada di wilayah Cirebon, bangunan keraton Kasepuhan sendiri menghadap ke sisi utara.

Pada bagian depan keraton Kesepuhan jua bisa ditemukan alun-alun yg dalam saat jaman dulu bernama alun-alun Sangkala Buana yang dikenal sebagai tempat latihan keprajuritan yang diselenggarakan pada hari Sabtu atau istilahnya dalam saat itu adalah Saptonan dan menjadi titik pusat tatanan letak kompleks pemerintahan keraton.

Dan jua pada alun-alun inilah dahulunya dilakukan acara perayaan kesultanan. Alun-alun ini pun pula dijadikan menjadi loka buat masyarakat berdatangan menggunakan tujuan buat memenuhi panggilan atau pun sekilas mendengarkan suatu pengumuman dari Sultan.

Di samping barat Keraton kasepuhan ada Masjid yang relatif istimewa hasil karya berdasarkan para wali yakni Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Di samping timur alun-alun dahulunya artinya loka perekonomian yakni pasar yg waktu ini dikenal menggunakan nama pasar kesepuhan yg benar-benar terkenal menggunakan pocinya.

Model bentuk keraton sendiri, menghadap ke arah utara menggunakan bangunan Masjid di samping barat serta pasar di samping timur & juga alun-alun ditengahnya adalah suatu model tatanan letak keraton dalam saat itu khususnya yg masih ada pada daerah pesisir. Bahkan sampai waktu ini, model ini pun banyak diikuti modelnya sang semua kabupaten/kota khususnya di wilayah Jawa. Pada bagian depan gedung pemerintahan pun ada alun-alun & jua di samping baratnya masih ada sebuah masjid.

Perlu kita ketahui beserta, keraton Kasepuhan memiliki 2 butir pintu gerbang, pintu gerbang primer berdasarkan keraton Kasepuhan berlokasi di sisi utara serta pintu gerbang ke-2 ada di sisi selatan kompleks. Gerbang primer dikenal menggunakan nama Kreteg Pangrawit yang artinya adalah jembatan kecil. Gerbang ini berbentuk jembatan, sedangkan pada sisi selatan disebutkan Lawang sanga yg ialah pintu sembilan. Seusai melalui Kreteg Pangrawit kita akan menuju atau sampai di bagian depan keraton. Pada bagian ini dapat dijumpai dua bangunan yakni Pancaratna dan jua Pancaniti.

Bangunan Pancaratna berlokasi di kiri depan kompleks arah barat yg mempunyai ukuran 8 x 8 meter. Lantai tegel, konstruksi atap ditopang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi serta du belas tiang pendukung pada bagian atas lantai yg lebih rendah. Atap bangunan sendiri berbahan dasar genteng yang ujungnya terdapat mamolo. Bangunan ini mempunyai fungsi menjadi loka seba atau loka untuk bertemu para pembesar desa yang diterima sang Demang atau Wedana.

Pancaniti bermakna jalan atasan, adalah sebuah bangunn pendopo sisi timur yg difungsikan sebagai loka perwira-perwira keraton melatih prajurit-prajurit ketika dilaksanakannya latihan keprajuritan di alun-alun dan juga dijadikan menjadi loka pengadilan. Bangunan ini mempunyai ukuran 8 x 8 meter. Bangunan ini sendiri keadaanya terbuka tanpa adanya dinding. Tiang-tiang dengan jumlah enam belas btg menjadi penopang bagi atap sirap. Bangunan ini pun pula dilengkapi menggunakan pagar kisi-kisi besi untuk menaikkan keamanannya.

4. Keraton Kaprabonan

Sumber: @rachmawatiindah via Instagram
Selain terkenal dengan julukan kota udang, kota Cirebon dikenal juga sebagai kota wali, dikarenakan Cirebon jadi pusat penebaran agama Islam di Jawa Barat kisaran abad ke-16. Ada banyak kerajaan Islam yang berdiri di kota Cirebon, atau lebih dikenal dengan nama keraton. Diantaranya ialah Keraton Kaprabonan.

Keraton pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna yaitu tempat tinggal ratu atau raja; istana raja, kerajaan. Keraton Kaprabonan adalah satu antara empat keraton yang berada pada kota Cirebon. Tidak sama misalnya halnya 3 keraton lain, Keraton Kaprabonan sendiri pernah menuai kasus lantaran dicermati tidak termasuk ke dalam golongan keraton.

Kaprabonan tercipta karena adanya konflik pada Keraton Kanoman yang waktu itu pada pimpin sang Sultan Badrudin. Pembangunannya direncanakan pertama kali pada tahun 1696 Masehi. Karena terdapatnya pertarungan, Sultan Badrudin membuat keputusan untuk memisahkan diri dari Keraton Kanoman serta didirikanlah Kaprabonan.

Arti dari Kaprabonan merupakan kebonnya Cirebon. Juga dikenal sebagai peguron atau loka berguru. Keraton Kaprabonan mempunyai fungsi menjadi loka penobatan bila terdapat raja yang akan diberi gelar, karenanya beliau mesti dikukuhkan pada Keraton Kaprabonan. Sampai kini Kaprabonan masih dihuni oleh famili sultan ke-10, yakni Sultan Pangeran Hempi Raja Kaprabon. Kaprabonan waktu itu pun, dijadikan menjadi loka pengukuhannya raja ketika akan dilakukannya sebuah proses pengukuhan. Akan tetapi, waktu ini loka tinggal raja atau istana tidak dibuka bagi khalayak umum.

Areal yg berada Keraton Kaprabonan tidaklah terlalu luas jika dibandingan menggunakan keraton lain di kota Cirebon, yakni kurang lebih 1 hektar. Berlokasi pada Jalan Lemahwungkuk, gerbang spesifik keraton ini tidaklah terlalu akbar, bahkan pula tidaklah terlalu mencirikan sebuah bangunan keraton dikarenakan bercampur baur menggunakan area Pasar Kanoman.

Keraton ini dari sisi arsitektural dikatakan sebagai bangunan Ndalem, sebab Keraton Keprabon nir mempunyai struktur suatu komplek atau bangunan keraton, nir memiliki alun-alun, dan masjid agung, namun lebih kelihatan sebagai suatu tempat tinggal bagi pemangku tradisi (Ndalem).

Jalan masuk keraton ini yaitu melewati sebuah gang dengan lebar lebih kurang 3 meter diantara ruko-ruko. Bangunan ini pun pada dalamnya juga amat sederhana, tidak menunjukkan kemewahan dan kebesaran suatu keraton, lebih menyerupai bangunan tempat tinggal menggunakan laman kecil pada bagian dalamnya.

5. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Sumber: @melatiramadhana via Instagram
Perlu kalian ketahui, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikenal juga dengan nama Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon. Masjid ini merupakan masjid yang berlokasi di kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Konon katanya, masjid ini ialah masjid paling tua di Cirebon, yakni dibuat kira-kira tahun 1480 Masehi atau ketika para Wali Songo menebarkan agama Islam di tanah pulau Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang berarti keagungan, "cipta" yang bermakna dibuat, serta "rasa" yang bermakna dipakai.

Menurut adat setempat, pembangunan masjid ini dikisahkan libatkan kira-kira lima ratus orang yang dihadirkan dari kerajaan Majapahit, Demak, serta Cirebon khususnya. Dalam pembangunan masjid ini, Sunan Gunung Jati memberikan tanggung jawab kepada Sunan Kalijaga untuk menjadi arsiteknya. Tidak hanya itu, Sunan Gunung Jati juga  membawa Raden Sepat, yang merupakan arsitek handal Majapahit yang merupakan tawanan perang Demak-Majapahit, agar menolong Sunan Kalijaga dalam membuat serta mendirikan bangunan masjid itu.

Dahulu kala, dikisahkan masjid ini memiliki memolo atau diklaim juga menggunakan kemuncak atap. Akan namun, kala azan pitu salat Subuh diadakan guna menyingkirkan Aji Menjangan Wulung, kubah itu berpindah ke Masjid Agung Banten yg sampai waktu ini dapat kita lihat masih memiliki 2 kubah. Sebab kisah tersebutlah, hingga ketika ini setiap kali salat Jumat pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa diadakan Azan Pitu yakni lantunan azan yang dilaksanakan secara berbarengan sang tujuh orang muazin yang memakai seragam serba putih.

Desain Masjid

Sumber: @melatiramadhana via Instagram

Kekhasan masjid ini antara lain berada dalam atapnya, dimana atap masjid ini nir memiliki kemuncak atap seperti yang umum dijumpai dalam setiap atap masjid-masjid yang ada di di pulau Jawa. Masjid ini terbagi sebagai 2 ruang, yakni teras & pula ruang khusus.

Untuk menuju ke lokasi ruang utama/khusus ada sembilan buah pintu. Banyaknya pintu ini melambangkan Wali Songo yang berjumlah sembilan orang. Warga kota Cirebon tempo dahulu juga terbagi dalam beberapa etnik. Ini bisa kita lihat dan amati pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menggabungkan model arsitektur Demak, Majapahit, serta Cirebon.

Di bagian mihrab masjid, jua bisa kita temui ukiran berupa bunga teratai yang dibuat sendiri oleh Sunan Kalijaga. Tidak hanya itu, dibagian mihrab jua bisa ditemukan 3 butir ubin yang mempunyai pertanda khas guna melambangkan 3 ajaran inti kepercayaan , yakni Iman, Islam, dan juga Ihsan. Konon katanya, ubin itu dipasang bersama oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, serta Sunan Kalijaga dalam pertama kali masjid didirikan.

Di beranda sisi utara masjid, bisa kita lihat dan amati secara jelas sumur zam-zam atau dikenal jua dengan nama Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai didatangi orang, khususnya dalam bulan Ramadhan. Tidak hanya dianggap bermanfaat buat menyembuhkan beberapa penyakit, sumur yg terdiri dari 2 kolam ini bisa digunakan untuk mencoba atau menguji kejujuran berdasarkan seseorang.

6. Kereta Singa Barong Kasepuhan

Sumber: @iklan_jehh via Instagram
Kereta kencana kepunyaaa Keraton Kasepuhan ini dikenal dengan nama kereta singa barong. Kereta Singa Barong dibuat pada era ke-15 M oleh cucu dari Sunan Gunung Jati yang tujuan dibuatnya untuk dijadikan simbol persahabatan. Keraton Cirebon khususnya Keraton Kasepuhan mempunyai jalinan dan hubungan yang baik dengan bangsa-bangsa lain, salah satunya India, negeri Cina serta Mesir.

Kereta Singa Barong dibuat buat dijadikan sebagai salahsatu lambang atau simbol yang mengakrabkan keempat bangsa tadi. Singa Barong jadi bukti percampuran budaya lokal dan luar negeri. Saat ini, kereta itu terletak di Museum Singa Barong yang tempatnya tepat di Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat.

Kereta anggun ini mempunyai bentuk yg unik, dimana terdapat kepala naga dengan belalai gajah, serta satu sayap pada tubuh naga itu, ad interim waktu keluarga kerajaan menaikinya, syahdan kereta Singa Barong mesti ditarik sang 4 ekor kerbau putih.

Kepala naga merupakan simbol negeri Cina, belalai gajah merupakan perlambang bangsa Hindu pada wilayah India, dikarenakan sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tanah Cirebon dikuasai sang pemeluk agama Hindu, sedangan sayap serta tubuh buroq adalah perlambang/simbol dari negara Mesir.

Di bagian belalai naga, ada satu trisula. Trisula ini melambangkan rasa, cipta, & karsa insan. Tidak hanya itu, di trisula pula bisa kita temukan susunan serbuk emas serta intan pada badan kereta sampai membuatnya lebih latif waktu dipandang. Konon pungkasnya, Kereta Singa Barong mempunyai kekhasan lain.

Tidak hanya kecantikannya, kereta ini memiliki roda yg tidak kalah hebat, dimana rodanya bisa berputar sampai 90 derajat. Hal ini menciptakan kereta menjadi lebih mudah pada berbelok arah.

UNESCO  yang merupakan sebuah organisasi pendidikan serta kebudayaan dari PBB sudah memutuskan kereta Singa Barong jadi satu diantara kereta kencana paling cantik serta unik di dunia

7. Patung Macan Putih Cirebon

Sumber: instazu.Com

Dua Buah Patung Macan Putih merupakan sebuah peninggalan dari Kesultanan Cirebon yg ada pada keraton Kasepuhan, patung ini lokasinya berada pada depan keraton-keraton yang terdapat pada Cirebon khususnya Keraton Kasepuhan.

Makna dari Patung Macan Putih itu yakni melambangkan keluarga besar Pajajaran yang disebut sebagai keturunan Maharaja Prabu Siliwangi. Warga saat ini lebih memandang bahwa 2 patung itu merupakan makhluk penjaga dari suatu tempat yang mistis atau sakral, namun sesungguhnya peranan dari patung itu pada zaman dulu hanya dimanfaatkan sebagai simbol keturunan ataupun keluarga Prabu Siliwangi.

8. Mangkok Kayu Ukiran Cirebon

Sumber: cirebonmuseumtropen.Blogspot.Com

Peninggalan Kerajaan Cirebon berikut ini ialah kayu berukir yang disebut-sebut menjadi salah satu barang peninggalan kerajaan Cirebon yg dipakai sultan menjadi sebuah nampan, awal mulanya rona dari mangkuk itu masih ada beberapa macam rona & pada ketika ini yg masih ada pada museum Tropen Belanda hanyalah mangkuk kayu bercorak coklat yang mempunyai suatu goresan pohon kehidupan.

Mangkuk itu dipakai kerajaan menjadi tempat atau nampan buat membawakan keluarga raja kuliner atau lainnya , makna dari corak goresan itu melambangkan berasal-usul suatu kehidupan yg panjang yang dirasakan insan di global ini.

9. Makam Sunan Gunung Jati

Cirebon mempunyai keterikatan yg bertenaga mengenai histori penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama pulau Jawa. Satu menurut sembilan tokoh wali Songo yg berbagi agama Islam yang populer di Indonesia, yakni Syarief Hidayatullah yang diberi gelar sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati  adalah sultan pertama di Kasultanan Cirebon yang dahulu bernama Keraton Pakungwati. Tokoh ini merupakan ulama penting yang turut berjasa dalam menebarkan agama Islam di sisi barat pulau Jawa.

Sunan Gunung Jati dilahirkan dalam tahun 1450 M, akan namun terdapat jua yg mengemukakan jika dia lahir pada tahun 1448 M. Tokoh yang bertindak menjadi seseorang pemimpin spriritual, sufi, mubalig, dan ulama ini tewas global dalam tahun 1568 Masehi, yg kala itu umurnya mencapai 120 tahun. Beliau selanjutnya dikebumikan pada Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang mempunyai jarak lebih kurang 3 kilometer menurut kota Cirebon.

Perlu kita ketahui bersama, makam Sunan Gunung Jati berada dalam sebuah kompleks pemakaman yang berlokasi di atas area seluas lima hektar, yg dibagi jadi 2 kompleks pemakaman. Kompleks intinya ialah kompleks loka makam Sunan Gunung Jati dimakamkan, yakni di Gunung Sembung, yang berisi kurang lebih 500 makam.

Di loka ini, juga terdapat makam istri Sunan Gunung Jati, yakni Putri Ong Tien Nio yang jua dikenal menggunakan nama Nyi Ratu Rara Semanding. Putri Ong Tien Nio adalah puteri dari Kaisar Hong Gie yg asal berdasarkan Dinasti Ming. Jadi tidaklah heran jika sedemikian banyaknya keramik yg menghiasi kompleks pemakaman ini.

10. Kutagara Wadasan

Sumber: @cirebonwarta via Instagram

Kutagara Wadasan, mempunyai berukuran lebar dua,lima meter dan tinggi kurang lebih 2,5 meter, yg dibuat sang Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada kisaran tahun 1678 Masehi. Kutagara Wadasan ialah gapura yg bercat putih dengan ciri spesial kota Cirebon, contoh arsitek Cirebon terlihat di bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan serta sisi atas dengan ukiran mega mendung. Makna goresan itu merupakan seorang mesti memiliki dasar yg bertenaga jika sebagai seorang pemimpin atau sultan yang mesti menaungi bawahan dan jua rakyatnya.

11. Tajuq Agung dan Beduq Samogiri

Perlu kita ketahui, bangunan utama Tajug Agung memiliki ukuran 6 x 6 meter dengan luas teras 8 x 2,5 meter. Sisi terasnya sendiri terbuat dari kayu pada setengah permukaan lantai sedangkan setengah bagiannya lagi  diberikan terali yang terbuat dari kayu. Dinding bangunan utama adalah dinding tembok, mihrabnya memiliki bentuk melengkung yang mempunyai ukuran 5 x 3 x 3 meter.

Pada bagian mihrab bangunan ini, dapat kita temukan sebuah mimbar terbuat dari kayu yang memiliki ukuran 0,90 x 0,70 x 2 meter. Atap Tajug Agung adalah atap tumpang dua yang dilengkapi dengan sirap. Konstruksi atapnya sendiri disangga dengan empat  tiang pokok. Tajug Agung ini memiliki fungsi sebagai tempat beribadah para kerabat keraton. Bangunan Tajug Agung juga dilengkapi dengan pos atau tempat bedug Samogiri.

Pos bedug Samogiri posisinya ada di depan Tajug Agung serta menghadap ke timur, berdenah bujur sangkar yang memiliki ukuran 4 x 4 meter, dimana di dalamnya terdapat sebuah bedug. Pos bedug ini dibuat tanpa menggunakan dinding. Bangunan ini  memiliki atap yang menyerupai bentuk limas, sedangkan penutup atapnya disanggah oleh empat tiang pokok serta lima tiang pendukung.

12. Regol Pengada

Regol Pengada artinya pintu gerbang yg mempunyai bentuk paduraksa, yang bahan dasar bangunannya terbuat menurut batu. Bangunan ini daun pintunya terbuat dari bahan dasar kayu. Gapura Lonceng sendiri masih ada disamping timur Gerbang Pengada. Gerbang ini memiliki bentuk menyerupai kori agung atau gapura beratap yg menggunakan bahan dasar berupa batu bata.

Bangunan Pengada yang ada tepat di bagian depan gerbang Regol Pengada memiliki ukuran 17 x 9,5 meter yang memiliki fungsi sebagai tempat memberikan berkat dan juga sebagai tempat pengecekan sebelum menghadap ke raja.  Di bagian atas tembok, sekitar kompleks Siti Inggil ini juga terdapat Candi Laras yang berguna sebagai penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

13. Mande Malang Semirang

Mande Malang Semirang merupakan bangunan utama yg berlokasi ditengah-tengah komplek Siti Inggil dengan banyaknya tiang pokok sebanyak enam buah yang melambangkan rukun iman & apabila dijumlahkan total tiangnya berjumlah dua puluh butir. Banyaknya tiang tersebut tentunya melambangkan 20 sifat-sifat Allah. Bangunan ini merupakan loka sultan menyaksikan latihan keprajuritan atau pun menyaksikan pelaksanaan hukuman.

14. Bangunan Mande Pengiring

Bangunan Mande Pengiri yakni bangunan yg ada pada keraton Kasepuhan tepatnya pada kompleks Siti Inggil atau lebih tepatnya di belakang bangunan mande Malang Semirang, yang dahulunya dibuat sang Sunan Gunung Jati. Bangunan tersebut dahulunya dipakai menjadi loka kalem atau duduk buat pengiring sultan , karena itu mengapa bangunan tersebut dikenal menggunakan nama Mande Pengiring dimana nama tersebut sesuai kegunaan dari bangunan itu.

15. Mande Karesmen

Peninggalan sejarah kesultanan Cirebon satu ini adalah Bangunan Mande Karesmen yakni bangunan yang terletak disebelah Mande Pengiring, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan atau gamelan. Sampai saat ini ,bangunan ini masih digunakan untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini biasanya hanya dibunyikan sebanyak dua kali dalam setahun yaitu pada hari – hari tertentu saja seperti saat perayaan Idul Fitri dan  juga Idul Adha.

16. Mande Pandawa Lima Dan Semar Tinandu

Mande Pendawa Lima merupakan bangunan yg berlokasi pada samping kiri bangunan utama yakni mande Malang Semirang, dengan banyaknya tiang penyangga yakni 5 butir yg melambangkan jumlah rukun islam. Bangunan ini merupakan tempat beberapa pengawal pribadi sultan.

Sedangkan, Mande Semar Tinandu adalah bangunan yg berada di samping kanan bangunan utama yaitu mande Malang Semirang yang mempunyai dua buah tiang buat melambangkan 2 kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah loka penasehat Sultan atau Penghulu.

17. Alun-Alun Utara Keraton Kasepuhan Cirebon

Satu diantara peninggalan sejarah berdasarkan kesultanan Cirebon artinya Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan Cirebon. Alun-alun ini terletak di sisi Utara Keraton Kasepuhan Cirebon. Di sisi Barat Alun-alun bisa kita temui Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Dahulu, pada sisi Utara Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan masih ada satu penjara, dan masih ada juga sebuah pasar pada sisi Timur, akan namun ketika ini ke 2 loka itu telah nir mampu kita lihat lagi. Jika tengah berlangsung aktivitas resmi di Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan, Sultan Cirebon biasanya melihat menurut singgasananya pada Mande Malang Semirang yg ada pada kompleks Siti Inggil.

Nama Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan dahulunya artinya Alun-alun Utara Sangkala Buana Keraton Kasepuhan, yang biasa dipakai menjadi loka latihan keprajuritan dalam setiap hari Sabtu sampai-sampai disebut Saptonan, dan jadi tempat pelaksanaan sanksi pada masyarakat yg bersalah, misalnya hukum cambuk.

Sekarang, Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan baru kelihatan hidup jika sedang berjalan aktivitas tata cara tahunan Cirebon pada hari-hari khusus, dan program-acara festival seni budaya, contohnya Grebeg Maulud serta Festival Seni Pesisir Utara.

Itulah 17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat menambah wawasan serta referensi sahabat sekalian tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments