Monday, July 6, 2020

4 Pahlawan Nasional Dari Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia

Pahlawan Nasional Papua - Berbicara mengenai pahlawan nasional begitu banyak pastinya pahlawan-pahlawan pada jaman penjajahan yang ikhlas mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia, begitu juga halnya beberapa pahlawan Nasional dari Papua. Pada artikel ini, abang nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 4 Pahlawan Nasional Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia.

1. Marthen Indey

Sumber: direktoratk2krs.kemsos.go.id
Marthen Indey merupakan salah satu dari pahlawan nasional yang berasal dari Papua. Marthen Indey lahir di wilayah Doromena, Jayapura pada tanggal 14 Maret 1912 serta wafat di tempat yang sama dengan daerah kelahirannya yaitu di Doromena pada tanggal 17 Juli 1986 pada usianya yang mencapai 74 tahun.

Kisah Perjuangan Marthen Indey

Sebagai galat satu menurut anggota Polisi Hindia Belanda Marthen Indey pernah ditugaskan mengamati para Digulis di Tanah Merah (Digul). Di loka ini beliau mulai menerima pengaruh nasionalisme. Dengan lebih kurang 30 orang anak buahnya, Indey mempunyai planning buat menangkap para aparat pemerintah Hindia Belanda pada daerah Digul. Rencana itu tidak berhasil dan Indey dibawa penjajah Belanda ke Australia disaat Jepang masuk ke daerah Irian.

Pada tahun 1944, dia kembali lagi ke daerah Irian bersama menggunakan pasukan Sekutu dan menerima tugas buat melatih melatih para nggota Batalyon Papua yg dibuat oleh sekutu buat melawan Jepang. Meskipun secara resmi di antara tahun 1945 sampai 1947 beliau diberikan kepercayaan buat menjadi aparat pemerintah Belanda yakni menjadi Kepala Distrik Arso Yamay & pula Waris, akan namun menggunakan sembunyi-sembunyi Indey masuk ke pada barisan Sugoro yg adalah bekas digulis yg bekerja sebagai seorang Guru Sekolah Pamong Praja di Kota Nica yg saat ini dikenal dengan nama Kampung Harapan.

Dalam barisan ini Marthen Indey dan teman-temannya mempersiapkan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan Belanda serta mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di daerah Irian Barat, namun rencana mereka didapati oleh pasukan Belanda. Perlu kita ketahui, tepatnya pada bulan Oktober 1946 Marthen Indey bergabung dalam Anggota Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang saat itu dipimpin oleh Dr. Gerungan di Hollandia Binmen. Beberapa waktu kedepan Marthen Indey  yang selanjutnya menjadi ketua, akan tetapi  KIM selanjutnya berganti nama menjadi Partai Indoneia Merdeka (PIM). Dalam kedudukan menjadi seorang Ketua PIM.

Marthen Indey sendiri  memimpin delegasi yang terdiri dari 12 Kepala Suku yang menyampaikan protes pada maksud dan tujuan penjajah Belanda guna memisahkan Irian Barat dari negara Indonesia. Indey menyarankan anggota milker yang bukan orang Belanda agar melancarkan suatu serangan pada penjajah Belanda. Hal ini tentunya mengakibatkan Marthen Indey dipantau semakin ketat oleh pasukan Belanda.

Peluang untuk cuti ke daerah Ambon digunakan Indey buat mengabari grup-grup pro Indonesia pada wilayah Maluku guna menolong usaha rakyat Irian Jaya. Lantaran kegiatan itu dia diamankan pemerintah Belanda serta dipenjarakan selama lebih kurang tiga tahun.

Setelah tahun 1950 Marthen Indey masih memelihara interaksi baik dengan gerombolan -gerombolan pro Indonesia yang melaksanakan pergerakan bawah tanah. Bersama dengan J Teppy, dalam Januari 1962 beliau menyusun kekuatan gerilya sembari menunggu kehadiran pasukan Indonesia yang bakal pada drop di Irian Jaya pada rangka Trikora. Dia antara lain yang sukses dalam menyelamatkan sebagian orang anggota RPKAD yang didaratkan pada Teluk Merah serta membuat perlindungan buat mereka dirumahnya sendiri.

Perjanjian New York lepas 15 Agustus 1962 menyudahi Trikora & jua Irian Jaya ditempatkan pada bawah Pemerintahan sementara yakni PBB (UNTEA). Bulan Desember 1962 Marthen Indey bersama dengan E.Y. Bonay pergi ke New York buat mengusahakan pada PBB agar periode UNTEA disingkat serta Irian Jaya selekas mungkin dimasukkan ke Daerah Republik Indonesia. Setelah itu dia ke Jakarta menyampaikan Piagam Kota Baru pada Presiden Soekarno yang berisi ketegasan kemauan warga Irian Jaya buat terus setia pada Indonesia.

Sepanjang tahun 1963-1968 Marthen Indey duduk menjadi seorang Anggota MPRS sebagai wakil Irian Jaya, selain jabatannya menjadi seorang kontrolier ia juga  diperbantukan pada Residen Jayapura. la diangkat menjadi Mayor Trituler Marthen Indey.

Pemberian Penghormatan

Ia merupakan putra Papua yang diberikan penghormatan berdasarkan Pemerintah Indonesia sebagai galat satu dari pahlawan Nasional Indonesia dari SK Presiden No.077 /Taman Kanak-kanak/ 1993 tgl. 14 September 1993 beserta 2 putra Papua yang lain yakni Silas Papare & jua Frans Kaisiepo.

2. Frans Kaisiepo

Sumber: @abas_id via Instagram

Frans Kaisiepo merupakan salah satu pahlwanan nasional yang berasal dari Papua. Beliau lahir di Wardo, Biak, Papua, pada tanggal 10 Oktober 1921 serta  wafat di kota Jayapura, Papua, pada tanggal 10 April 1979 pada usianya yang mencapai 57 tahun. Frans sendiri berperan serta dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membahas tentang pembentukan ataupun pendirian Republik Indonesia Serikat sebagai perwakilan dari Papua.

Dia mengajukan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang bermakna tempat yang panas. Tidak hanya itu, dia sempat juga memegang jabatan sebagai Gubernur Papua di antara tahun 1964 hingga 1973 yang artinya dia telah memimpin Papua selama kurang lebih 9 tahun lamanya.  Dia disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Kisah Perjuangan Frans Kaisiepo

Pada tahun 1945, ia sempat berkenalan dengan Sugoro Atmoprasodjo sewaktu mengikuti pelatihan Kilat Pamong Praja di wilayah Kota Nica Holandia yang merupakan sebuah Kampung Harapan Jayapura. Dari perkenalannya inilah dia dan juga kawan – kawannya mulai meningkat rasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Selanjutnya,  dia dan juga rekan-rekannya kerap kali membuat suatu pertemuan dengan cara sembunyi-sembunyi dengan Sugoro yang membicarakan tentang penggabungan Nederlands Nieuw Guinea menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indo­nesia.

Jika ada kesempatan mereka berlatih serta menyanyikan lagu Kebagsaan Indonesia Raya yang dikomandoi oleh Sugoro. Frans Kaisiepo tidak sepakat dengan papan nama pelatihan atau sekolah yang diikutinya itu yang tertulis Papua Bestuur School. Kemudian, dia memerintahkan saudarannya yang bernama Marcus Kaisiepo untuk melepaskan tulisan tersebut  untuk ditukar dengan kata lain yakni kata Irian, sampai-sampai tulisan pada papan tersebut berubah menjadi Irian Bestuur School.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 ada suatu peristiwa yang terjadi di Kampung Harapan Jayapura, yakni telah dinyanyikan  lagu Indonesia Raya oleh Frans Kaisiepo bersama saudaranya Marcus Kaisiepo dan juga temannya Nicolas Youwe beserta teman-temannya yang lain. Gagasan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia selanjutnya semakin berkembang di kelompok para Siswa yang datang dari daerah maupun suku tertentu.

Guna membina Persatuan antara para murid, maka dibuatlah suatu pembinaan atau sekolah Bestuur dan selanjutnya dibentuklah suatu dewan perwakilan berdasarkan beragam suku. Dewan perwakilan ini ditujukan guna memudahkan hubungan dibawah komando Sugoro. Para anggotanya antara lain yaitu Frans Kaisiepo, Marthen Indey, SD Kawab, Silas Papare dan G. Saweri.

Pada lepas 31 Agustus 1945 di Bosnik, Biak Timur dilaksanakan suatu upacara pengibaran Bendera Merah Putih yg ketika itu dihadiri oleh paraTokoh Komite Indonesia Merdeka yaitu Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey & pula M. Youwe. Dalam upacara itu dinyanyikanlah lagu Kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya.

Pada tanggal 10 Mei 1946 di daerah Biak, dibentuklah sebuah Partai Indonesia Merdeka ( PIM ) yang diketuai oleh Lukas Rumkoren. Salah satu pencetusnya ialah Frans Kaisiepo yang kala itu menjabat  sebagai Kepala Distrik di wilayah Warsa, Biak Utara.

Pada bulan Juli 1946 Frans Kaisiepo menjadi bagian berdasarkan anggota delegasi dalam Konperensi Malino di provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai seseorang pembicara dia merubah nama Papua serta Nederlans Nieuw Guinea menjadi kata Irian yang diberi penerangan Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands. Konon pungkasnya nama Irian asal menurut bahasa Biak yang bermakna panas.

Frans Kaisiepo juga tergabung sebagai anggota delegasi yang melawan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dikarenakan NIT tersebut tanpa melibatkan Irian Jaya. Berkenaan dengan hal tersebut dia menyarankan supaya Irian Jaya masuk Karesidenan Sulawesi Utara. Pada bulan Maret 1948 berlangsung pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah Belanda, dan Frans Kaisiepo ialah salah satu orang yang merancang pemberontakan itu.

Pada tahun 1949 Frans Kaisiepo menolak jabatan sebagai Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konperensi Meja Bundar di Den Hag, dikarenakan tidak ingin didikte pada berkata yakni wajib sinkron kemauan Belanda. Sebagai bentuk konsekuensi dari penolakannya, ia kemudian dijatuhi sanksi selama 7 tahun di antara tahun 1954 sampai tahun 1961.

Pada tahun 1961, pada saat beliau diberikan jabatan menjadi Kepala Distrik Mimika (Fakfak) beliau membentuk Partai Politik Irian sebagian Indonesia yg disingkta dengan kata ISI, yang menuntut penggabungan balik Nederlands Nieuw Guinea ke dalam negara Republik Indonesia. Pada ketika TRIKORA, dia poly menolong juga sebagai pelindung bagi para infiltran Pejuang Indonesia yang didaratkan di Mimika hingga nir hingga diketahui oleh pemerintah Belanda.

Pada tahun 1964 saat menjabat sebagai Gubenur KDH provinsi Irian laya dan juga merangkap Ketua DPRDGR Frans Kaisiepo adalah salah satu mesin penggerak Musyawarah Besar Rakyat Irian Barat guna membahas beberapa langkah penggabungan Irian Barat menjelang kegiatan Pepera 1969. Sewaktu menjabat sebagai  Gubernur KDH Provinsi Irian Barat, Frans Kaisiepo berupaya sekuat – kuatnya untuk jadi pemenang Pepera pada tahun 1965, yakni dengan taktik pungutan suara dengan sistem perwakilan yang diawali dari kabupaten Merauke serta berakhir di Ibu Kota provinsi Jayapura.

Penyelenggaraan kegiatan Pepera di Irian Barat sukses dan juga Irian Barat adalah sisi mutlak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga tahun setelah sukses memenangi Pepera, pada tahun 1972 dia kembali diangkat menjadi bagian anggota MPR-RI Utusan dari Wilayah Irian Jaya. Tidak hanya sampai disitu dari tahun 1973-1979 Frans Kaisiepo kembali diangkat menjadi Anggota DPA-RI.

Pemberian Kehormatan Dan Gelar Pahlawan Nasional

Guna mengenang balik jasanya, namanya diabadikan menjadi sebuah nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak. Tidak hanya itu namanya jua pada abadikan di satu diantara KRI yakni KRI Frans Kaisiepo. Tidak hanya sebatas itu, ia juga diberikan balik sebuah penghargaan yg menciptakan namanya dikenal di seluruh wilayah Indonesia dikarenakan dalam lepas 19 Desember 2016, foto dan namanya diabadikan dalam selembar uang kertas Rupiah baru dengan nominal Rp. 10.000.

Atas jasa dan jua perjuangannya yang luar biasa, kemudian Pemerintahan Indonesai menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada beliau dari kepada SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.

Tiga. Silas Papare

Silas Papare adalah seseorang pahlwan nasional yg lahir pada Serui, Papua, pad tanggal 18 Desember 1918 serta wafat pada loka yg sama menggunakan loka kelahirannya yakni di Serui, Papua, pada tanggal 7 Maret 1978 dalam usianya yang mencapai 60 tahun. Beliau merupakan seseorang pejuang penggabungan Irian Jaya yang saat ini lebih dikenal dengan nama Papua sebagai bagian berdasarkan wilayah Indonesia.

Kisah Perjuangan Silas Papare

Dia merampungkan pendidikannya di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja menjadi seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda. Dia amat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua hingga-hingga dia seringkali berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam melawan kolonialisme Belanda. Dikarenakan hal tadi, dia dipenjarakan pada Jayapura karena mensugesti Batalyon Papua buat melakukan suatu pemberontakan

Sewaktu menjalani masa tahanan di wilayah Serui, Silas berteman dengan Dr. Sam Ratulangi yg merupakan Gubernur Sulawesi yang pula diasingkan sang Belanda ke tempat itu. Perjumpaannya itu makin meningkatkan keyakinan dia bahwasanya Papua mesti bebas menurut penjajahan Belanda dan masuk ke pada kesatuan Republik Indonesia.

Pada akhirnya, dia membangun Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Hal ini menyebabkan, dia kembali diamankan oleh Belanda dan juga dipenjarakan kembali di daerah Biak. Akan tetapi, dengan transportasi kapal laut, Silas Papare dan juga isterinya, Regina Aibui beserta keluarganya memilih jalan untuk melarikan diri ke arah Yogyakarta. Pada bulan Oktober 1949 di daerah Yogyakarta, dia membangun suatu Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka untuk menolong pemerintah  Indonesia guna memasukkan daerah Irian Barat menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Silas Papare yang waktu itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) diperintah sang Soekarno menjadi perwakilan delegasi Indonesia pada New York Agreement yg di tandatangani dalam 15 Agustus 1962, yg menyudahi konfrontasi Indonesia dengan kolonial Belanda mengenai daerah Irian Barat. Seusai penggabungan Irian Barat menjadi bagian menurut Indonesia, beliau lantas diangkat sebagai bagian anggota MPRS (MPR Sementara).

Pemberian Penghormatan dan Gelar Pahlawan Nasional

Silas Papare sendiri poly menerima penghormatan antara lain, namanya diabadikan jadi satu diantara nama Kapal Perang Korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare menggunakan angka lambung 386. Tidak hanya itu, namanya juga diabadikan menjadi nama monumen yakni Monumen Silas Papare pada dekat pantai dan pelabuhan laut Serui.

Sedangkan di Jayapura sendiri, namanya diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yg lokasinya berada pada Jalan Diponegoro. Tidak berhenti sebatas itu saja, namanya kembali diabadikan sebagai nama jalan pada kota Nabire

Atas jasa serta perjuangannya yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menganugerahi  Silas papare dengan gelar Pahlawan Nasional berdasar SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

4. Johannes Abraham Dimara

Mayor TNI Johannes Abraham Dimara adalah seseorang pahlawan nasional dari Papua yang lahir pada Korem, Biak Utara, Papua, dalam lepas 16 April 1916 dan wafat di daerah Jakarta, dalam tanggal 20 Oktober 2000 dalam usianya yang mencapai 84 tahun. Atas semua jasa-jasanya, bersama dengan Dr. J. Leimena dia diangkat jadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Kisah Kehidupan Johannes Abraham Dimara

Johannes Abraham Dimara menyelesaikan pendidikan dasarnya di daerah Ambon pada tahun 1930. Dia setelah itu masuk Sekolah Pertanian di daerah Laha sampai tahun 1940. Selanjutnya, ia masuk Sekolah Pedidikan Injil, serta sesudah lulus dia bekerja menjadi seorang guru injil di Pulau Buru. Pada tahun 1946, dia turut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di wilayah Namlea, pulau Buru. Dia turut serta dalam memperjuangkan pengembalian daerah Irian Barat menjadi bagian Republik Indonesia.

Pada tahun 1950, dia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Dia juga sebagai keliru satu anggota Tentara Nasional Indonesia yang mengerjakan penyusupan dalam tahun 1954 yg mengakibatkan dia diamankan oleh tentara lolonial Belanda yg lalu dibuang ke wilayah Digul hingga akhhinya dibebaskan balik dalam tahun 1960.

Disaat Presiden Soekarno mengumumkan operasi Trikora, dia menjadi contoh figur orang muda Papua  bersama-sama dengan Soekarno  turut menyuarakan Trikora di Yogyakarta. Dia ikut menyuarakan semua warga di daerah Irian Barat agar memberi dukungan penggabungan wilayah Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, dibuatlah Perjanjian New York.

Dia menjadi satu diantara delegasi beserta menggunakan Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi menurut perjanjian itu pada akhirnya mewajibkan pemerintah Belanda supaya bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Indonesia. Jadi dimulai menurut kala itu daerah Irian Barat masuk sebagai galat satu bagian menurut NKRI.

Disaat pawai 17 Agustus yang dilaksanakan pada depan istana yg ketika itu belum dibangun Monas, Dimara memakai rantai yang terputus. Bung Karno menyaksikan itu serta menerima ide buat mendirikan patung pembebasan Irian Barat. Lantaran itu, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat pada loka yg cuma berjarak kurang menurut 1,lima km berdasarkan lokasi Istana negara, yaitu di Lapangan Banteng. Dimara menceritakan kejadian tersebut pada dalam buku karya tulis Carmelia Sukmawati yang berjudul, Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua,J.A. Dimara.

Penghargaan Johannes Abraham Dimara

Beberapa penghargaan didapatkan oleh  Johannes Abraham Dimara, diantaranya Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu, Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua, Satyalancana Bhakti, Satyalancana Satya Dharma, Satyalancana Pelopor Gerakan kemerdekaan dan Satyalancana Gerakan Operasi Militer III.

Itulah artikel tentang 4 Pahlawan Nasional Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia yang dapat abang nji informasikan kepada sahabat-sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan serta kecintaan terhadap bangsa ini guna menghormati jasa-jasa pahlawan kemerdekaan.

Semoga berguna.

No comments:
Write comments