Monday, July 13, 2020

6 Peninggalan Kerajaan Pajang Yang Bersejarah

Peninggalan Kerajaan Pajang - Kerajaan Pajang berdiri pada sekitar akhir abad ke 16 Masehi. Berdirinya kerajaan Pajang bersamaan dengan berakhirnya kerajaan Demak.  Berdirinya kerajaan Pajang diduga karena konflik internal pada kerajaan Demak. Hal terbesar yang menjadi faktor runtuhnya kerajaan Demak adalah karena adanya konflik keluarga.

Konflik yg terjadi pada kerajaan Demak ditimbulkan oleh 2 tokoh yaitu Joko Tingkir & Ario Panangsang. Keduanya terlibat konflik & perang yang sengit yg dalam akhirnya mengakibatkan kematian Aryo Panangsang. Arya Panangsang yang saat itu berstatus raja Demak berhasil dibunuh sang Joko Tingkir yang berasal menurut Pajang.

Pada awalnya, naiknya Arya Panangsang sebagai raja Demak tidak disetujui oleh keluarga besar menurut kerajaan Demak. Lantaran hal tadi, Jaka Tingkir yang berstatus menantu menurut sultan Trenggono bertanggung jawab pada mengakhiri kekuasaan Aryo Panangsang.

Selepas wafatnya Aryo Panangsang, maka pusat kerajaan Demak digeser ke Pajang dan Joko Tingkir yang dinobatkan sebagai raja pertama. Pada awalnya, Joko Tingkir  adalah seorang adipati Pajang pada masa pemerintahan sultan Trenggono. Kerajaan Pajang sendiri berkuasa tidak terlalu lama dikarenakan posisinya yang berdekatan dengan kerajaan Islam lainnya yakni kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Pajang berada pada masa keemasan yakni pada masa sultan Hadiwijaya. Banyak pencapaian saat kerajaan Pajang saat dipimpin oleh sultan Hadiwijaya. Pindahnya kekuasaan Islam dari Demak ke Pajang adalah bukti dari kemenangan Islam Kejawen  dari Islam Ortodok pada saat itu.

Dengan sejarah kerajaan Pajang yang begitu luar biasa, tentunya kerajaan Pajang masih ada peninggalan sejarah yg menandakan eksistensi kerajaan Pajang pada masanya. Berikut saya informasikan 6 Peninggalan Kerajaan Pajang Yang Bersejarah.

1. Bandar Kabanaran

Situs ini berada di jalan Nitik RT. 04, RW. 01, kelurahan Laweyan, kecamatan Laweyan, Surakarta. Bandar Kabanaran adalah sebuah bandar yang berkembang saat masa kerajaan Pajang yang berlokasi di tepi sungai Jenes yaitu anak sungai Bengawan Solo.

Posisi sungai Jenes pada situs Bandar kebenaran juga sekaligus sebagai pembatas antara kabupaten Sukoharjo dan kota Solo. Dahulu warga sekitar mengenal sungai ini dengan sebutan sungai Kabanaran.  Saat zaman kerajaan Pajang, sungai Kabanaran menjadi jalur utama perdagangan dan juga transportasi yang terhubung secara langsung ke sungai Bengawan Solo.

Sejak pengelolaan Laweyang dipercayakan kepada Kyai Ageng Henis oleh raden Patah, daerah ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tidak hanya sebagai pusat dakwah Islam  Jawa bagian Selatan, akan tetapi daerah ini juga menjadi pusat perekonomian batik pada waktu itu. Hal ini terjadi karena didukung oleh dekatnya posisi Bandar Kabanaran dan juga karena adanya sungai Jenes.

Dahulu kala, pasar Laweyan termasuk pasar yang cukup ramai. Saat lahirnya kerajaan Pajang, pasar ini sanggup dikatakan sebagai penyokong primer perdagangan pada Laweyang. Selain itu, jeda yang dekat menggunakan Bandar Kabanaran yakni hanya berjarak 100 meter mengakibatkan pasar Laweyan terus berkembang pesat.

Dahulu, Laweyan pula terkenal sebagai produsen kapas yang bisa dibentuk sebagai batik & kain mori yg dijual ke loka lain. Tiap harinya berdasarkan Laweyan lewat jalur Bandar Kabanaran barang-barang tersebut diangkut oleh perahu-perahu yang terdapat di Bandar Kabanaran menuju daerah Bandar Nusupan yang lalu diangkut lagi menggunakan perahu dengan berukuran yang lebih besar menuju Bandar Gresik.

Terjadinya kemunduran Bandar Kabanaran ditimbulkan lantaran semakin berkurangnya debit air sungai Jenes yg diakibatkan lantaran adanya pendangkalan. Sungai yg dahulunya menjadi jalur utama semakin kecil kiprahnya lantaran berkurangnya volume air sungai tadi.

Selain alasan diatas, dibangunnya infrastruktur jalan yakni jalan Dr. Rajiman dan juga dibangunnya jalur kereta api oleh Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij tahun 1870 hingga 1872, menjadikan pengusaha Laweyan pun berpindah ke sarana transportasi yang tentunya lebih modern. Saat ini, Bandar Kabanaran sudah tidak menunjukan adanya aktivitas lagi.

Saat ini kita hanya sanggup melihat sebuah alur sungai yang dangkal menggunakan bau yg menyengat dan warnanya yang hitam pekat. Jika pada lokasi tadi tidak terdapat tulisan Bandar Kabanaran yang ditulis pada sebua papan nama, maka orang yang melintas disana tidak akan tahu bahwa dahulunya Bandar Kabanaran pernah sebagai pusat perdagangan yang menyokong perekonomian pada Laweyan khususnya kerajaan Pajang secara generik dalam ketika itu.

2. Pasar Laweyan

Sumber: wonderfulsolo.com

Laweyan adalah kecamatan yang posisinya berada pada Barat Kota Surakarta. Daerah ini dikenal lantaran penduduknyayang secara umum dikuasai menjadi pedagang batik. Nama Laweyan sendiri digunakan pada menyebut gerombolan tertentu yang dikenal menjadi kaum yang kaya atau wong Nglawiyan. Wajar saja sebutan itu disematkan pada gerombolan ini lantaran wilayah tersebut adalah tempat tinggal pengusaha batik tulis jawa dan juga sebagai sentra perdagangan batik.

Nama Laweyan sendiri ada pendapat yg menyampaikan dari berdasarkan kata Lawiyan yang ialah ali-alih (perpindahan), yg pada awal pengucapannya Ngaliyan yg akhirnya sebagai kata Lawiyan. Lawiyan sendiri adalah loka berpindahnya orang-orang desa Nusupan. Mereka berpindah disebabkan buat menghindari bala banjir dari Bengawan Sala yang dahulunya dikenal menggunakan nama Bengawan Nusupan atau Bengawan Semanggi.

Desa Nusupan pada masa kerajaan Pajang menjadi pelabuhan yang berperan sangat krusial. Akan namun, lantaran seringnya terjadi bala banjir, berpindah posisi ke Lawiyan. Sejak waktu itu sampai saat ini Wong Nglawiyan diberi julukan grup orang kaya oleh rakyat Sala. Setelah itu, terjadi perkembangan yang sangat pesat berdasarkan Lawiyan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya pengusaha batik yg pertama yang dikenal dengan Sarekat Dagang Islam yg dipelopori Kyai Haji Samanhudi.

Pasar Laweyan sendiri berada nir jauh menurut Bandar Kabanaran. Pasar ini dahulunya adalah pusat utama aktivitas dagang di Bandar Kabanaran. Sampai saat ini, pasar Laweyan masih dipakai rakyat sekitar untuk transaksi perdagangan. Walaupun demikian, nir terdapat peninggalan sejarah yang khusus dalam menyebutkan bagaimana pembangunan pasar tersebut.

3. Masjid Laweyan

Sumber: @laweyan.solo ia Instagram

Masjid Laweyan berada pada jalan Liris No. 1, dusun Belukan RT 04 RW 04, Kel. Pajang, Kec. Pajang, SurakartaMasjid Laweyan atau juga dikenal menggunakan sebutan masjid Ki Ageng Henis di daerah Solo menjadi bukti sejarah penyebaran agama Islam di kota Solo, Jawa. Walaupun dilakukan beberapa kali perbaikan, akan namun masih terlihat pada sudut Masjid beberapa peninggalan berupa Pura, yakni loka peribadatan umat Hindu.

Berdasarkan liputan dari ketua takmir masjid Laweyan yaitu Achmad Sulaiman didapat kabar bahwa, dalam masa pemerintahan kerajaan Pajang kisaran tahun 1546 masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya berdiri kokoh sebuah Pura yakni, tempat peribadatan umat Hindu pada wilayah Pajang.

Ringkasan Sejarah Masjid Laweyan

Masjid Laweyan dibangun pada tahun 1546, yakni disaat masa kerajaan Pajang sebelum berdirinya Surakarta (1745 Masehi). Kerajaan Pajang adalah cikal bakal lahirnya kesultanan Mataram yg sehabis itu pecah menjadi Kasunanan Ngayogyakarta dan Surakarta.

Berdirinya masjid ini terjadi saat pemerintahan sultan Hadiwijaya yaitu raja kerajaan Pajang. Masjid ini masih kokoh berdiri sampai waktu ini. Selain itu, jua masih ada peninggalan yang berusia ratusan tahun yaitu kentongan & jua beduk dan jua terdapat 12 tiang primer yg dibuat berdasarkan kayu Jati.

Masjid ini mempunyai bentuk seperti Kelenteng Jawa. Hal ini menciptakan masjid satu ini mempunyai keunikan tersendiri yang tidak sinkron menurut masjid lainnya. Selain tampak luar yang bernuansa Jawa, atap masjid ini pula mengandung arsitek Jawa dimana bentuk atap menggunakan tajuk (bersusun). Dinding menurut masjid ini terbuat menurut semen dan susunan batu bata yg tersusun rapi.

Penggunaan dinding dengan bahan batu baru dimulai kurang lebih tahun 1800, dimana sebelumya dinding berdasarkan masjid ini terbuat menurut kayu. Hal ini dibuktikan menggunakan adanya rumah menurut kuncen makam kuno yg terbuat berdasarkan kayu.

4. Kesenian Batik Laweyan

Sumber: @batik_maheswari via Instagram

Kampung batik Laweyan merupakan galat satu wisata yang dikelola eksklusif sang pemerintah Solo. Hal ini dilakukan buat menarik minat para wisatawan asing juga lokal buat melihat kesenian batik. Kampung ini adalah sentra batik pada kota Solo dan sudah terdapat semenjak masa pemerintahan kerajaan Pajang tahun 1546.

Kampung Laweyan sendiri di buat dengan konsep terpadu, yakni dengan memanfaatkan lahan menggunakan luasan sekitar 24 Hektar yang lalu dibagi pada tiga blok. Pada kampung batik ini, terdapat ratusan pengrajin batik yang mendagangkan hasil batiknya yg kaya akan motif. Contoh motifnya misalnya Truntum dan Tirto Tejo yg dijual dengan harga bervariasi.

Masyarakat yang tinggal di kampung Laweyan telah menjalani profesi dibidang kain ini dari abad ke 14. Pada saat itu pula masyarakat kampung Laweyan dikenal sebagai penghasil kain yang berkualitas karena masih dibuat dengan cara tradisional. Oleh sebab itu pula, nama Laweyan menjadi julukan bagi  daerah masyarakat ini karena dalam bahasa Jawa Lawe memiliki arti benang.

Profesi sebagai pembatik yg dilakukan secara turun temurun, akhirnya daerah ini sampai pada masa kejayaan yaitu dalam awal abad ke 20. Hal ini dapat tercapai lantaran seorang pebisnis yg bernama Samanhudi memperkenalkan tekhnik membatik yg lebih modern yakni membatik dengan teknik cap. Dengan diperkenalkan tekhnik ini maka proses membatik sebagai lebih efisien. Industri batik di Laweyan pun berkembang dengan sangat pesat.

Akan namun industri batik balik mengalami kemunduran lantaran hadirnya batik printing. Batik printing tentunya memiliki harga yg lebih murah dan proses pembuatan yg lebih cepat. Hal tadi menciptakan industri batik cap terjadi kemunduran yang luar biasa.

Bangkit kembalinya Laweyan sebagai sentra batik dimulai balik dalam tahun 2004. Hal ini dikarenakan dalam tahun tadi para tokoh pada tempat Laweyan berkumpul buat mengungkapkan kasus masa depan industri batik pada Laweyan. Sejak saat itu kegiatan usaha pada Laweyan pun semakin hari semakin membaik. Mereka membarui tekhnik berjualan, dimana Laweyan tidak hanya sebagai loka produksi tetapi jua sebagai tempat wisata.

Para tamu yg tiba pun semakin tinggi tingkat kepuasannya, lantaran nir hanya dapat membeli batik mereka jua bisa melihat proses pengerjaan batik bahkan mampu ikut terlibat dalam pembuatan batik. Penetapan Laweyan sebagai loka wisata pun semakin ditunjang karena adanya penetapan kawasan Laweyan menjadi cagar budaya.

5. Makan Para Bangsawan Pajang

Peninggalan yg tidak kalah pentingnya adalah terdapatnya kompleks pemakaman para bangsawan kerajaan Pajang. Di pemakaman ini terdapat 20 makam, dimana keliru satunya merupakan makam Ki Ageng Henis yg adalah galat satu perintis berdirinya kerajaan kerajaan Pajang. Makam-makam tersebut banyak dikunjungi para wisatawan seusai menunaikan ibadah di masjid Laweyan.

Perlu kita ketahui bersama, Ki Ageng Henis adalah anak dari Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo Sendiri populer akan kisah kesaktiannya yang sanggup menangkap petir. Ki Ageng Selo sendiri mengabdi Sultan Hadiwijaya atau lebih familiar menggunakan sebutan Joko Tingkir. Lantaran pengabdiaannya yang luar biasa kemudian beliau diberikan tanah perdikan di daerh Laweyan, & hal inilah yg dikemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya masjid Laweyan.

6. Makam Joko Tingkir/Sultan Hadiwijaya

Sumber: @bonohandoko via Instagram

Joko Tingkir atau dikenal jua dengean sebutan Mas Karebet memiliki nama orisinil Sultan Hadiwijaya. Joko Tingkir adalah pendiri sekaligus pula raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah Pajang mulai dari tahun 1549 hingga 1582 M.

Hanya sedikit saja orang yang tahu lokasi dari Makam Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja pertama sekaligus jua pendiri Kerajaan Pajang. Tidak sama misalnya halnya makam menurut raja-raja Solo dan jua Yogyakarta yang diketahui poly orang keberadaannya serta senantiasa ramai didatangi para peziarah yg asal dari wilayah lebih kurang maupun daerah luar.

Makam Jaka Tingkir jauh ada di pelosok perkampungan masyarakat. Lebih tepatnya makam ini berada di Butuh, Gedongan, Plupuh, Dusun II, Gedongan, Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Komplek pemakaman Jaka Tingkir diberi nama Makam Butuh yang ditandai dengan adanya sebuah bangunan masjid bernama Masjid Butuh.

Itulah berita yang bisa saya berikan terkait 6 Peninggalan kerajaan Pajang Yang Bersejarah. Dengan mengetahui sejarah tentang kerajaan-kerajaan Indonesia, maka kita tentunya lebih menghargai & mengetahui betapa luar umumnya bepergian bangsa ini. Dengan mengetahui sejarah kita juga dapat mengambil pelajaran agar dapat menjalani hidup yg lebih baik menurut hari ke hari.

Semoga Bermanfaat.

No comments:
Write comments