Thursday, July 9, 2020

7 Faktor Penyebab Runtuhnya Kesultanan Aceh Yang Harus Kamu Ketahui

Penyebab Runtuhnya Kesultanan Aceh -Kesultanan Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang pernah berdiri dan berkuasa di prov. Aceh, Indonesia. Kesultanan ini berlokasi di sisi utara pulau Sumatera yang ibu kotanya adalah Bandar Aceh. Sultan pertama kesultanan Aceh adalah sultan Ali Mughayat Syah yang mangkat pada hari Ahad, 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau pada tanggal 8 September 1507 Masehi.

Kesultanan Aceh dibangun sang seorang sultan yakni sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 yg sekaligus menjadi sultan pertama kerajaan Aceh. Pada tahun 1528, lalu sultan Ali Mughayat Syah digantikan sang putra pertamanya yang bernama Salahuddin & berkuasa hingga tahun 1537, kemudian digantikan kembali sang sultan Alauddin Riayat Syah AL-Kahar dan memegang tampuk kekuasaan sampai tahun 1571.

Kesultanan Aceh kemudian mencapai zenit kejayaannya pada bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda yg berkuasa menurut tahun 1607 hingga 1636. Di bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda kesultanan Aceh mengalami masa efek atau ekspansi terluas, dimana Aceh mampu menaklukan Pahang yg adalah kerajaan pembuat timah.

Di masa kepemimpinan sultan Iskandar Muda kesultanan Aceh benar-benar berada pada puncak kejayaan. Akan namun, setelah wafatnya sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, kesultanan Aceh seperti kehilangan jati diri & banyak masalah-perkara internal kerajaan yang justru semakin membuat kerajaan ini mengalami kemunduran & puncaknya terjadi keruntuhan.

Pada postingan artikel kali ini, Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian 7 Faktor Penyebab Runtuhnya Kesultanan Aceh Yang Harus Kamu Ketahui.

1. Tidak Memiliki Raja Yang Dapat Memimpin Dengan Baik

Salah satu faktor yang paling krusial menurut berhasil atau tidaknya suatu kerajaan merupakan dalam kualitas pemimpinnya. Setelah meninggalnya sultan Iskandar Muda dalam tahun 1636 M, kesultanan Aceh seolah-olah kehilangan sosok pemimpin yg bisa memimpin & membawa Aceh dalam masa-masa kejayaan seperti halnya sultan Iskandar Muda.

Kemampuan kepemimpinan dari sultan-sultan sehabis sultan Iskandar Muda dievaluasi nir sanggup membawa aceh permanen dalam masa kejayaan & bahkan terus mengalami kemunduran. Kemunduran menurut kesultanan Aceh terus terjadi sampai naik tahtanya sultan Mahmudsyah yg masih sangat muda & lemah dalam hal kepemimpinan.

Setelah naik tahtanya sultan Mahmudsyah, serangkaian bisnis terus dilakukan menggunakan diplomasi ke daerah Istanbul yang ketika itu dipimpin sang teuku Paya Bakong serta Habib Abdurrahman Az-Zahier pada rangka melawan pengaruh atau ekspansi menurut kerajaan Belanda tergolong gagal. Kemudian, setelah kembalinya Habib Abdurrahman Az-Zahier ke ibukota Banda Aceh, dia bersaing menggunakan seseorang yang dari menurut keturuna India yg bernama Teuku Panglima Maharaja Tibang Muhammad yg berniat buat menancapkan impak kekuasaannya dalam kesultanan Aceh.

Para kaum Moderat poly yang cenderung mendukung habib Abdurrahman Az-Zahier, akan namun dikarenakan sultan Mahmudsyah masih terlalu muda dan lemah dalam membaca situasi, dia menciptakan keputusan yg relatif membingungkan dimana dia lebih percaya & mendukung panglima Tibang yang di curigai melaksanakan planning persengkokolan atau kerja sama menggunakan kerajaan Belanda ketika melaksanakan negosiasi di Riau.

2. Perebutan Kekuasaan Tahta Kesultanan Aceh

Faktor lain yang menyebabkan runtuhnya kesultanan Aceh adalah adanya kudeta di para kalangan pewaris tahta menurut kesultanan Aceh. Hal ini terbukti, dimana ketika kemangkatan sultan Iskandar Tsanu hingga aneka macam macam rangkaian peristiwa lainnya, diman para bangsawan menginginkan hilangnya kontrol ketat berdasarkan kekuasaan sultan menggunakan cara mengangkat janda berdasarkan sultan Iskandar Tsani menjadi sultanah. Adanya beberapa asal yg menampakan bahwa ketakutan akan ada pulang raja yang bersikap Tirani sebagai akibatnya terjadilah pengangkatan sultanah ini.

Sejak waktu itu, para Uleebalang bebas pada melaksankan transaksi perdagangan dengan pedagang asing tanpa wajib melewati pelabuhan sultan di mak kota kesultanan. Lada yang termasuk sebagai tumbuhan utama banyak dilakukan budidaya oleh warga Aceh pada seantero pesisir Aceh, & hal ini membuahkan Aceh menjadi pemasok primer lada pada dunia pada kisaran abad 19 akhir. Walaupun demikian, beberapa masyarakat Aceh khususnya berdasarkan kaum Wujudiyah masih menginginkan pemimpin Aceh adalah seseorang lelaki yg bergelar sultan & bukanlah seseorang sultanah.

Kaum tadi berkata bahwa pewaris sah berdasarkan tahta kerajaan Aceh masih hayati & menetap beserta kaum ini pada daerah pedalaman Aceh. Hal ini, lantas mengakibatkan perang saudara, dan menyebabkan ketidak tentraman, terbakarnya masjid raya Aceh dan bandar Aceh saat itu mengalami kekacauan yg luar biasa.

Menanggapi kegaduhan ini, Kadhi Malikul Adil yg adalah seorang mufti agung yang bernama teungku Syech Abdurrauf As-Sinkily melakukan berbagai upaya reformasi khususnya dalam hal pembagian daerah kekuasaan dan akhirnya terbentuklah tiga sagoe. Dengan pecahnya wilayah kekuasaan sebagai 3 menciptakan kekuasaan sultan maupun sultanah sebagai sangat lemah. Dan hal inilah keliru satu faktor penyebab runtuhnya kesultanan Aceh.

3. Menguatnya Kekuasaan Asing

Menguatnya kekuasaan asing  di daerah Aceh juga menjadi faktor penting dibalik runtuhnya kesultanan Aceh. Kekuasaan Belanda pengaruhnya semakin kuat baik itu di daerah Sumatera maupun selat Malaka. Hal ini ditandai dengan takluknya daerah Siak, Tiku, Tapanuli, Mandaling, Deli, Minangkabau, Bengkulu serta Barus pada tahun 1840 ke dalam penguasaan penjajahan Belanda.

4. Banyak Kerajaan Kecil Yang Memisahkan Diri

Melemahnya kekuasaan Aceh juga diakibatkan lantaran terjadinya banyak pemisahan diri sang kerajaan-kerajaan Kecil yg dalam mulanya adalah bagian dari kekuasaan kesultanan Aceh. Alasan mengapa kerajaan mini itu memisahkan diri, merupakan akibat menurut kemunduran kesultanan Aceh sendiri. Nama kerajan-kerajaan yang memisahkan diri tadi antara lain kerajaan Pajang, Johor, Siak, Perak dan juga Minangkabau.

Lima. Terjadinya Perang Saudara

Banyak kerajaan-kerajaan terdahulu yg mengalami kemunduran bahkan keruntuhan dikarenakan adanya perang sesama anggota famili kerajaan, begitu juga halnya menggunakan kesultanan Aceh. Pertikaian di antara keluarga kerajaan & jua bawahannya terus terjadi yg sangat berdampak negatif bagi kerajaan sendiri.Tujuan berdasarkan perebutan tadi bukanlah buat menjadikan kerajaan lebih baik, akan namun hanya untuk mendapatkan kekuasaan dan harta berdasarkan rakyat.

Pada masa kepemimpinan sultan Alauddin Jauhar Alamsyah yg memimpin Aceh dari tahun 1795 hingga 1824, terdapat seseorang keturunan sultan yang terbuang yg bernama Sayyid Husain menjamin mahkota kesultanan dan mengakibatkan dan mengangkat anaknya sebagai sultan Saif Al-Alam. Hal ini membuat perang saudara semakin memanas, akan tetapi berkat bantuan Raffles dan Koh Lay Huan yg merupakan pedagang dari wilayah Penang kedudukan Jauhar yang mempunyai kemampuan berbahasa Inggris, Prancis dan Spanyol hal tadi bisa diatasi & ditenangkan balik .

Tidak hanya kisah perang saudara di atas, perang saudara balik terjadi, dimana terjadinya perebutan kekuasaan antara tuanku Sulaiman menggunakan sultan Tuanku Ibrahim yang kemudian diberikan gelar Sultan Mansur Syah yg memimpin kesultanan Aceh berdasarkan tahun 1857 hingga 1870 Masehi.

6. Dilakukannya Penarikan Upeti

Sultan Mansur Syah yg berkuasa berdasarkan tahun 1857-1870 Masehi berusaha buat memperkuat kekuasaan kesultanan Aceh. Ia pun berhasil mengalahkan raja-raja Lada dan diperintahkan buat membayar upeti ke sultan, hal ini sebelumnya tidak pernah dilakukan sang sultan-sultan sebelumnya.

Selain itu, buat memperkuat pertahanan daerah timur, sultan mengutus sebuah armada yakni pada tahun 1854 yang dikomandoi sang Laksamana Tuanku Usen yg kekuatan armadanya lebih kurang 200 perahu. Kegiatan ekspedisi ini dilakukan buat menegaskan kekuasaan menurut kesultanan Aceh terhadap wilayah Serdang, Deli & Langkat. Namun, insiden yang tidak diinginkan pun terjadi dimana dalam tahun 1865 kesultanan Aceh wajib meninggalkan wilayah tadi karena berhasil ditaklukan di benteng Pulau Kampa.

7. Gagalnya Persekutuan Dengan Prancis

Selain dilakukannya penarikan upeti, sultan Mansur Syah juga berusaha melaksanakan persekutuan dengan pihak luar yang tujuannya untuk menahan agresi dari kerajaan Belanda. Salah satu upayanya adalah dikirimkannya utusan ke Instanbul untuk mempertegas status dari kesultanan Aceh yang merupakan negara vassal dari kesultanan Turki Utsmaniyah. Selain mengirim utusan, sultan juga mengirim bantuan dan sejumlah uang untuk Perang Krimea.

Dikarenakan diberikan donasi, sultan Abdul Majid I dari kesultanan Turki kemudian membalas donasi tersebut dengan mengirimkan beberapa alat perang buat kesultanan Aceh. Selain menggunakan kerajaan Turki, sultan jua melakukan upaya membentuk aliansi menggunakan kerajaan Prancis yakni dengan mengirimkan sepucuk surat pada raja Prancis yg waktu itu dipimpin sang Louis Philippe I dan jua presiden republik Prancis ke II dalam tahun 1849.

Akan namun, hal tersebut sama sekali tidak ditanggapi berfokus sang Prancis. Hal ini sanggup terjadi karena Prancis telah merasakan kemunduran dari kesultanan Aceh sehingga menganggap remeh ajakan aliansi berdasarkan kesultanan Aceh tersebut.

Itulah artikel tentang 7 Faktor Penyebab Runtuhnya Kesultanan Aceh Yang Harus Kamu Ketahui yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabta sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan bagi sahabat-sahabat sekalian.

Semoga berguna.

No comments:
Write comments