Monday, July 6, 2020

9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia

Pahlawan Nasional Aceh - Pahlawan Nasional ialah gelar penghargaan tingkat paling tinggi di Indonesia. Gelar ini diberi oleh Pemerintahan Indonesia atas aksi yang dianggap heroik serta didefinisikan sebagai aksi nyata yang bisa dikenang dan juga diteladani sepanjang waktu bagi masyarakat yang lain ataupun jasanya yang begitu luar biasa bagi kepentingan bangsa dan juga negara.

Pada provinsi Aceh terdapat nama-nama pahlawan nasional yang populer dan sering kita dengar seperti Cut Nyak Dhien dan Achmad Soebardjo. Akan tetapi selain 2 nama tersebut di Aceh juga terdapat pahlawan-pahlawan nasional lainnya yang jarang kita dengar namanya ataupu  tidak pernah terdengar sama sekali. Untuk itu, Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia.

1. Cut Nyak Meutia

Sumber: @ruangbaca_matamerah via Instagram

Cut Nyak Meutia  merupakan seorang pahlawan nasional Aceh yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, pada tahun 1870 serta wafat di Alue Kurieng, Aceh, pada tanggal 24 Oktober 1910. Dia disemayamkan di Alue Kurieng, Aceh.

Pada awalnya Cut Meutia lakukan perlawanan dalam Belanda bersama menggunakan suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Akan namun dalam bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil diamankan pasukan Belanda serta dijatuhi hukuman mati di pinggir pantai Lhokseumawe. Sebelum dia wafat, Teuku Tjik Tunong memberi pesan pada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikah menggunakan istrinya serta menjaga anaknya yg bernama Teuku Raja Sabi.

Cut Meutia sesudah itu menikah dengan Pang Nanggroe sesuai menggunakan permintaan terakhir suaminya, serta bergabung dengan pasukan yang lain dibawah komando pimpinanTeuku Muda Gantoe. Dalam satu pertempuran menggunakan Korps Marechaus?E di Paya Cicem, Cut Meutia dan pula para perempuan melarikan diri ke hutan. Pang Nagroe sendiri terus lakukan perlawanan sampai pada akhirnya gugur dalam lepas 26 September 1910.

Cut Meutia selesainya itu bangkit & terus lakukan perlawanan beserta dengan residu-sisa pasukkannya. Dia menyerang serta merebut pos-pos kolonial Belanda sembari beranjak menuju ke arah Gayo melalui hutan belantara. Akan tetapi dalam tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama dengan pasukannya friksi menggunakan Marechaus?E di Alue Kurieng. Akhirnya alam konflik itu Cut Meutia pun gugur mengikuti jejak suaminya.

Pemberian Kehormatan dan Gelar Pahlawan Nasional

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas pengorbanan dan jasanya terhadap dalam melawan penjajah Belanda, kemudian Pemerintah Indonesia mengabadikannya di dalam  uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, yakni pada pecahan Rp1.000.

Selain itu, ia pun pula ditetapkan menjadi daftar berdasarkan keliru satu pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

2. Cut Nyak Dhien

Sumber: @galeriantiik via Instagram

Cut Nyak Dhien merupakan seorang pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh,  pada tahun 1848 serta wafat di Sumedang, Jawa Barat, pada tanggal 6 November 1908. Beliau disemayamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.  Seusai wilayah VI Mukim diserang oleh pasukan Belanda, kemudian dia menyelamatkan diri, sementara suaminya Ibrahim Lamnga berperang melawan pasukan Belanda.

Karena peperangan tadi, akhirnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum gugur pada lepas 29 Juni 1878. Gugurnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum menciptakan tekad & niat Cut Nyak Dhien lebih jauh dalam perlawanannya menentang pasukan Belanda.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien kemudian menikah pulang menggunakan Teuku Umar, dikarenakan beliau dijanjikan bisa turut dan bertarung di medan perang bila mendapat lamaran itu. Dari pernikahan ini Cut Nyak Dhien mempunyai seseorang anak yang dinamakan Cut Gambang.

Seusai pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama dengan Teuku Umar berperang bersama dalam menentang maupun melawan pasukan Belanda. Akan tetapi, dikarenakan pertarungan yang sengit melawan Belanda pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar pun gugur dalam medan pertempuran.  Perihal ini membuat Cut Nyak Dhien berusaha sendirian di pedalaman Meulaboh bersama dengan pasukan kecilnya.

Umur Cut Nyak Dhien yang kala itu cukup tua dan tubuh  yang mulai digerogoti berbagai macam penyakit seperti encok serta gangguan penglihatan menyebabkan pasukannya yang bernama Pang Laot memberitahukan keberadaannya lantaran kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dhien  Pada akhirnya, ia diamankan serta dibawa oleh pasukan Belanda ke Banda Aceh. Disana dia dirawat dan juga kondisi tubuhnya perlahan mulai pulih.

Kehadiran Cut Nyak Dhien yang dipandang masih memberi dampak kuat pada perlawanan rakyat Aceh dan hubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap, membuat ia akhirnya diasingkan oleh pasukan Belanda ke daerah Sumedang. Lantaran penyakit dan usia yang  tidak muda lagi, akhirnya Cut Nyak Dhien wafat pada tanggal 6 November 1908 serta disemayamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Nama Cut Nyak Dhien saat ini diabadikan menjadi nama Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh.

Gelar Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien

Makam Cut Nyak Dhien sendiri, baru ditemukan lokasinya dalam kisaran tahun 1959. Berdasarkan permintaan oleh Gubernur Aceh saat itu yakni Ali Hasan. Akhirnya Cut Nyak Dhien ditetapkan sang Presiden Soekarno sebagai salah satu orang yg digelari Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Tiga. Teuku Umar

Sumber: @galeriantiik via Instagram
Teuku Umar juga termasuk ke dalam daftar pahlawan nasional dari aceh yang lahir di Meulaboh pada tahun 1854 serta wafat di tempat yang sama dengan daerah kelahirannya yakni di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Dia terkenal sebagai pahlawan asal Aceh yang berjuang melalui cara berpura-pura bekerja sama dengan pasukan Belanda serta terkenal pula dengan taktik perang gerilyanya. Dia menentang pasukan Belanda disaat telah berhasil mengumpulkan senjata serta uang yang lumayan banyak.

Kisah Wafatnya Teuku Umar

Tepatnya pada Februari 1899, Jenderal Van Heutsz menerima laporan berdasarkan mata-matanya mengenai kehadiran Teuku Umar pada Meulaboh, serta segera memposisikan beberapa pasukan yang relatif kuat pada daerah perbatasan Meulaboh. Pada malam hari menjelang tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar bersama dengan pasukannya datang di pinggir kota Meulaboh. Pasukan Aceh pun sangat kaget disaat pasukan Van Heutsz mencegat.

Posisi pasukan Teuku Umar saat itu nir memberikan keuntungan serta mustahil buat mundur. Satu-satunya cara guna menyelamatkan pasukannya ialah menggunakan cara berperang melawan pasukan Belanda. Dalam pertarungan itu Teuku Umar gugur tertembak peluru versus yang menembus bagian dadanya.

Jenazah Teuku Umar lalu disemayamkan pada Mesjid Kampung Mugo pada Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar keterangan mengenai gugurnya suaminya pada pertempuran, Cut Nyak Dhien benar-sahih sangat terpukul, akan tetapi bukan berarti perjuangan melawan Belanda sudah terselesaikan. Dengan gugurnya suaminya itu, Cut Nyak Dhien semakin memiliki tekad buat melanjutkan usaha warga Aceh pada menentang Belanda. Dia pula menggantikan pimpinan perlawanan para pejuang Aceh sesudah wafatnya Teuku Umar.

Gelar Pahlawan Nasional Teuku Umar

Atas pengabdian , jasa & perjuangannya pada menentang pasukan penjajah Belanda, Teuku Umar dianugerahi gelar menjadi keliru satu daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Nama Teuku Umar sendiri jua diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di tanah air. Satu diantara kapal perang TNI AL pun diberi nama KRI Teuku Umar. Tidak hanya itu Universitas Teuku Umar pada Meulaboh pun dinamakan sesuai nama beliau.

Sumber: pahlawancenter.Com

4. Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan seorang pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di Banda Aceh, pada tahun 1593 dan wafat  di tempat yang sama dengan tempat kelahirannya yakni di Banda Aceh pada tanggal 27 Desember 1636 yakni pada usianya yang mencapai 43 tahun. Beliau adalah sultan terbesar dalam periode Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636 Masehi.

Aceh sendiri mencapai masa kejayaan dalam saat kepemimpinan sultan Iskandar Muda, dimana wilayah kekuasaannya yang kian akbar serta rekam jejak internasionalnya menjadi sentra menurut perdagangan serta pembelajaran tentang Islam. Beliau sempat juga melakukan agresi kepada Portugis, akan namun agresi itu gagal, meski gagal Aceh masih sebagai kerajaan yang merdeka. Namanya ketika ini diabadikan pada nama Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang ada di Aceh.

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional

Pemerintah Indonesia lalu memberikan gelar menjadi Pahlawan Nasional dalam Sultan Iskandar Muda tepatnya pada 14 September 1993 atas jasa dan jua kejayaannya membentuk sebuah dasar-dasar penting jalinan interaksi ketatanegaraan dan atas keagungan dia, yaitu menggunakan dikeluarkannya Kepres No. 77/Taman Kanak-kanak/1993.

Lima. Teungku Chik di Tiro

Sumber: @philately_bali via Instagram

Teungku Chik pada Tiro Muhammad Saman adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang lahir pada Tiro, Pidie, pada lepas 1 Januari 1836 serta wafat di Aneuk Galong, Aceh Besar, dalam tanggal 31 Januari 1891 pada usianya yg mencapai 55 tahun.

Disaat Aceh Besar takluk oleh pasukan kolonial  Belanda, Teuku Cik Di Tiro hadir untuk menjadi komando pertempuran. Pada tahun 1881, dia sukses mengambil alih benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong serta berhasil membuat pasukan Belanda kelabakan.

Teuku Cik Di Tiro merupakan pahlawan nasional dan juga tokoh penting yang berjasa menentang kolonial Belanda. Teuku Cik Di Tiro memiliki nama asli yakni Muhammad Saman.  Saat masa kecil, ia di besarkan dalam lingkungan yang taat pada perintah agama.

Cik Di Tiro merupakan keturunan berdasarkan pasangan Teuku Syekh Ubaidillah & jua Siti Aisyah. Satu diantara cucunya yakni Hasan Di Tiro yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin berdasarkan Gerakan Aceh Merdeka. Dia amat dihormati lantaran pengetahuan serta keberaniannya menentang imperialisme dan kolonialisme.

Untuk memperdalam pengetahuan & ilmu agamanya, Cik Di Tiro banyak berguru & belajar dalam banyak ulama kondang pada wilayah Tiro. Lantaran Itu pula lah beliau beliau di panggil dengan panggilan Teuku (Teungku) Cik Di Tiro. Dia memang populer sebagai anak yang menyukai belajar kepercayaan dan pula tahu ilmu-ilmu baru.

Sewaktu melaksanakan ibadah haji pada Mekkah, Saudi Arabia, beliau terus memperdalam ilmu pengetahuan agamanya pada Tanah Suci. Dia di besarkan dalam zaman dimana pasukan Belanda berupaya menundukkan bumi Aceh pada tahun 1873. Aceh Besar kala itu sukses ditaklukkan serta ada pada pengaruh kekuasaan pasukan Belanda.

Sewaktu ada di Mekkah dalam rangka buat menunaikan ibadah haji, Cik Di Tiro belajar mengenai beberapa cara menentang kolonialisme dan imperialisme. Waktu kembali lagi ke Aceh, beliau dipilih sebagai pemimpin gerakan yang berbuntut pecahnya konflik menentang Belanda.

Lantaran semangat juangnya, beliau diberikan julukan sebagai Panglima Sabil. Kesultanan Aceh memberikan rasa percaya yg tinggi pada dia buat sebagai pemimpin perang, dan juga perjuangan dijalankan atas dasar ilmu kepercayaan serta rasa cinta akan tanah air.

Dia dan juga pasukannya sukses mengambil alih daerah jajahan yang awalnya dikuasai oleh pasukan Belanda. Pada tahun 1881, benteng Belanda di Indrapura juga sukses diambil alih oleh pasukan yang dipimpin oleh Cik Di Tiro.  Setelah itu benteng Lambaro, Aneuk Galong, dan juga tempat yang lain juga berhasil ia ambil alih bersama pasukannya.

Pulau Breuh pula ikut menerima agresi, berdasarkan sana pasukan Cik Di Tiro punya tujuan buat mengambil alih Banda Aceh. Pasukan Belanda benar-benar kelabakan & wilayah Aceh yg masih dikuasai sang Belanda nir lebih dari 4 kilometer persegi saja.

Serangan yg dilancarkan Teuku Cik Di Tiro beserta pasukannya layaknya misalnya singa. Pasukan Belanda memilih tumbang dalam nyala barah yang membakar benteng ketimbang menyerah.

Belanda pula makin stress dan hanya bertahan pada benteng pada wilayah Banda Aceh. Guna mempertahankan wilayah yg mereka kuasai, Belanda sangat terpaksa memakai strategi uni konsentrasi (concentratie stelsel), yakni strategi dengan cara mendirikan benteng disekelilingnya.

Merasa kelabakan menggunakan serangan Cik Di Tiro serta pasukannya, Belanda lantas mendatangkan donasi menggunakan alat-alat perang dalam jumlah yang besar . Pada tahun 1873 Belanda lancarkan aksi balas dendam buat merampas pulang daerah kekuasaannya.

Pada agresi pertama, pasukan Belanda melaksanakan aksinya akan namun sanggup dihentikan sang pasukan Cik Di Tiro. Perang itu menelan korban dari pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yakni Mayor Jenderal Kohler.

Kegagalan ini menciptakan pasukan Belanda semakin marah, pada akhirnya mereka memperkokoh barisan pasukannya dengan tembakan meriam dari kapal perang yg berlabuh di pantai. Akhirnya situasi tersebut memaksa pasukan Cik Di Tiro buat mundur.

Gugurnya Cik Di Tiro

Belanda tahu jika asal semangat perjuangan Aceh ketika itu merupakan Teuku Cik Di Tiro. Guna menghentikannya, Belanda lantas mencari taktik buat membunuh Panglima Sabil itu. Mereka tidak mau habis nalar. Karena merasa terancam, Belanda dalam akhirnya memakai "strategi liukdanquot; menggunakan cara mengirimkan makanan yang dicampur menggunakan racun.

Cara licik itu dipakai Belanda buat membunuh pahlawan kebanggaan warga Aceh itu. Mereka meracuni Teuku Cik Di Tiro menggunakan kuliner melalui bantuan pekerja kerajaan. Saat itu Belanda merayu seseorang yang bila bersedia buat bekerja bersama akan diangkat sebagai Kepala Sagi.

Mereka membayar seseorang lelaki yang ingin memperoleh jabatan tinggi buat membunuh Cik Di Tiro. Selanjutnya,lelaki itu memerintah seseorang wanita buat mencampurkan racun ke makanan & pula memberikannya pada Cik Di Tiro.

Disaat Teuku Cik Di Tiro berkunjung ke Benteng Tui Seilimeung kemudian shalat pada masjid. Kemudian, wanita itu tiba buat menunjukkan kuliner yang sudah diracun tadi. Wanita ini merupakan suruhan lelaki yg sudah dibayar oleh pasukan Belanda. Tanpa terdapat berprasangka buruk sedikit pun, Cik Di Tiro pun menikmati makanan yang telah ditambahkan racun tersebut.

Hal ini mengakibatkan, pahlawan Aceh tadi jatuh sakit & dalam akhirnya hembuskan nafas terakhir di Benteng Aneuk Galong dalam bulan Januari 1891. Selanjutnya jasadnya disemayamkan di Meureu, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar beserta istrinya yaitu Teuku Mat Amin. Beberapa pejuang Aceh dan orang dekat famili Tiro juga disemayamkan pada Meureue, termasuk cucunya Hasan Tiro.

Meskipun Teuku Cik Di Tiro sudah wafat, perjuangan rakyat Aceh menentang Belanda terus berkobar Peperangan menentang penjajah terus dilaksanakan hingga sekian tahun lamanya. Pada akhirnya, Belanda baru dapat menguasai Aceh kembali  pada tahun 1904..

Sepanjang Cik Di Tiro memimpin peperangan di Aceh, berlangsung 4 kali pergantian gubernur Belanda yakni, Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883), Philip Franz Laging Tobias (1883-1884), Henry Demmeni (1884-1886) dan Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891).

Gelar Pahlawan Nasional

Untuk menghormati dedikasinya dan jasanya dalam menjaga Tanah Air dari intimidasi penjajah, dia memperoleh suatu penghargaan khusus dari pemerintah. Pemerintah Indonesia lalu memberinya gelar sebagai Pahlawan Nasional dalam tanggal 6 November 1973. Pemberian gelar pahlawan itu sesuai Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973.

6. Teuku Muhammad Hasan

Sumber: atjehpusaka.Blogspot.Com

Teuku Muhammad Hasan adalah keliru satu pahlawan nasional Indonesia yg lahir di Pidie, Aceh, dalam tanggal 4 April 1906 serta wafat pada Jakarta, dalam lepas 21 September 1997 pada usianya yg mencapai 91 tahun.

Beliau merupakan Gubernur pertama pada wilayah Sumatra pertama sesudah Indonesia merdeka, Menteri Pendidikan serta Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 pada Kabinet Darurat.

Ayah Teuku Muhammad Hasan bernama Teuku Bintara Pineung Ibrahim yang merupakan Ul?? Balang pada Pidie (Ul?? Balang artinya golongan bangsawan yg memimpin suatu daerah pada Aceh. Sedangkan Ibunya bernama Tjut Manyak.

Ia bersekolah pada Sekolah Rakyat (Volksschool) pada Lampoeh Saka pada tahun 1914 sampai 1917. Pada tahun 1924 beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah berbahasa Belanda Europeesche Lagere School (ELS), & lalu diteruskan ke Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia yang ketika ini kita kenal menggunakan nama Jakarta. Setelah itu beliau kembali melanjutkan pendidikannya menggunakan masuk Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).

Pemberian Kehormatan dan Gelar Pahlawan Nasional

Pada tahun 1990, Universitas Sumatra Utara menganugerahkan kepada Teuku Muhammad Hasan dengan gelar Doctor Honoris Causa. Selain itu, namanya juga diabadikan di jalan di Banda Aceh yang diberi nama Jalan Mr. Teuku Muhammad Hasan.

Teuku Muhammad Hasan lalu diberi gelar sebagai galat satu daftar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia menggunakan Surat Keputusan Presiden Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal tiga November 2006

7. Teuku Nyak Arif

Sumber: rmol.Id

Teuku Nyak Arif adalah galat satu daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Dia merupakan Residen atau gubernur Aceh yg pertama menjabat menggunakan masa periode dari 1945 hingga 1946. Pada saat usaha kemerdekaan Indonesia, kala Volksraad (parlemen) didirikan, Teuku Nyak Arif dipilih sebagai wakil pertama menurut wilayah Aceh

Teuku Nyak Arief dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulèë Lheue, Kutaraja yang saat ini kita kenal dengan nama Banda Aceh dan wafat pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh Tengah pada usianya yang mencapai 46 tahun.  Ayahnya merupakan seorang Ulèë Balang bernama Teuku Nyak Banta, sedangkan ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk.

Posisi Teuku Nyak Banta sendiri yakni menjadi Panglima Sagi 26 Mukim wilayah Aceh Besar. Teuku Nyak Arief adalah anak ke tiga dari 5 bersaudara, Adapun nama-nama saudara kandung Teuku Nyak Arief yakni Cut Nyak Asmah, Cut Nyak Mariah, Cut Nyak Samsiah dan Teuku Mohd. Yusuf

Perlu kita ketahui, Teuku Nyak Arief bersekolah di Volksschool yang merupakan sekolah rakyat di daerah Kutaraja, dia kemudian meneruskan pendidikannya di Sekolah Raja Kweekschool yang berada di daerah Bukit Tinggi, dan setelah itu melanjutkan kembali pendidikannya di Sekolah Pamongpraja OSVIA di Serang Banten. Sekolah ini adalah sekolah  khusus yang didirikan oleh Belanda untuk anak-anak raja Raja dan juga Bangsawan dari semua wilayah Indonesia.

Gelar Pahlawan Nasional

Atas jasa & perjuangannya yang luar biasa, akhirnya Teuku Nyak Arif diberi gelar sebagai galat satu Pahlawan Nasional Indonesia dari Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974.

8. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo

Sumber: edukasiislam.over-blog.com
Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir di Karawang, Jawa Barat, pada tanggal 23 Maret 1896 serta wafat pada tanggal 15 Desember 1978 pada usianya yang mencapai 82 tahun. Beliau merupakan tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, serta seseorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Dia merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia yg pertama menjabat. Achmad Soebardjo sendiri adalah orang yg sangat cerdas dan hal ini dibuktikan dengan adanya gelar Meester in de Rechten, yang diraihnya pada Universitas Leiden Belanda dalam tahun 1933.

Ayah Achmad Soebardjo bernama Teuku Muhammad Yusuf, dimana masih keturunan bangsawan Aceh menurut Pidie. Kakek Achmad Soebardjo yg asal menurut berdasarkan pihak ayahnya adalah seorang Ulee Balang dan juga ulama di wilayah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf adalah pegawai pemerintahan menggunakan jabatan Mantri Polisi pada daerah Teluk Jambe, Kerawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah yakni seseorang wanita keturunan Jawa-Bugis dan merupakan anak berdasarkan Camat pada Telukagung, Cirebon pada saat itu

Dia bersekolah di Hogere Burger School pada Jakarta dalam tahun 1917 yang setara menggunakan Sekolah Menengah Atas misalnya waktu ini. Dia lalu meneruskan pendidikannya pada Universitas Leiden, Belanda dan juga mendapatkan ijazah Meester in de Rechten yakni seorang sarjana hukum lulusan Belanda dengan keahlian di bidang undang-undang dalam tahun 1933.

9. Laksamana Malahayati

Sumber: @saifulazi06 via Instagram
Laksamana Malahayati ialah salah pejuang wanita yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah. Kakek dari garis keturunan ayahnya ialah Laksamana Muhammad Said Syah yang merupakan putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memegang tampuk kepemimpinan sekitar tahun 1530 hingga 1539 Masehi. Adapun Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah yang memegang kekuasaan dari 1513 hingga 1530 Masehi yang merupakan pendiri dan perintis dari kerajaan Aceh Darussalam

Pada tahun 1585 hingga 1604 Masehi, ia memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia serta Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Laksamana Malahayati saat itu memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee yakni pasukan yang terdiri dari janda-janda yang suaminya merupakan pahlawan yang telah gugur berperang menentang pasukan Belanda pada tanggal 11 September 1599, sekaligus juga membunuh Cornelis de Houtman dalam pertarungan dalam duel satu lawan satu di geladak kapal.

Karena keberaniannya yang luar biasa, ia memperoleh gelar Laksamana, selepas persitiwa tersebut ia pun lebih terkenal dengan nama Laksamana Malahayati. Saat wafat, jasad Malahayati disemayamkan  Lamreh, Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Pemberian Kehormatan Dan Gelar Pahlawan Nasional

Tidak hanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia, nama Malahayati juga diabadikan dalam Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar diberi nama dengan Pelabuhan Malahayat, Satu diantara kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah kepunyaan TNI Angkatan Laut yang diberi nama KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus buat TNI-AL.

Di dunia pendidikan, ada Universitas Malahayati yang ada di Bandar Lampung. Satu serial film Laksamana Malahayati yang bercerita kisah hidup Malahayati telah dibikin pada tahun 2007. Nama Malahayati juga  digunakan oleh Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menjadi nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati

Atas jasa dan pengorbanannya dalam melawan penjajahan. Pemerintah  Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.

Itulah informasi tentang 9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan sahabat-sahabat sekalian serta menjadikan pahlawan-pahlawan tersebut sebagai contoh dari semangat perjuangannya dalam mempertahankan bangsa ini dari pihak asing yang mengancam keutuhan negara.

Semoga berguna.

No comments:
Write comments