Sunday, July 12, 2020

9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo - Kesultanan Makassar adalah kesultanan Islam yang berada di Sulawesi bagian Selatan pada abad 16 Masehi. Pada awalnya kesultanan ini hanya terdiri dari kumpulan kerajaan kecil yang saling bertikai antara satu dengan yang lainnya. Kemudian, daerah ini akhirnya disatukan atau dikumpulkan oleh kerajaan kembar yakni kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo sehingga menjadi kesultanan makassar.

Cikal bakal dari berdirinya kesultanan Makassar yakni imbas kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo yg berlokasi pada Semenanjung Barat Daya Sulawesi yg sebagai loka yang sangat strategis dalam memperdagangkan rempah-rempah. Selain berjualan rempah-rempah, para pedagang Muslim yg berjualan pun menaruh andil yg akbar dalam membuatkan kepercayaan Islam.

Dengan adanya kisah sejarah yg menceritakan tentang betapa besar dan eksisnya kerajaan ini dalam zamannya, tentunya banyak juga peninggalan bersejarah dari kerajaan ini yg tentunya masih dapat kita jumpai dalam waktu ini. Untuk itu berikut Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian tentang 9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah.

1. Benteng Ford Ratterdam (Benteng Ujung Pandang)

Sumber: @marithagraph via Instagram

Benteng Ford Ratterdam atau jua dikenal menggunakan Benteng Ujung Pandang oleh masyarakat setempat adalah sebuah bangunan benteng yang berasal menurut peninggalan kerajaan Gowa Tallo yg berlokasi pada Pesisir Barat pantai kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini pertama kali dibangun sang raja Gowa ke 9 yaitu raja Manringau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallona yaitu pada tahun 1545 Masehi.

Pada awalnya, bangunan benteng ini dibangun menggunakan bahan dasar tanah liat, akhirnya dalam pemerintahan raja Gowa ke 14 yitu Sultan Alauddin lalu melakukan renovasi atau pemugaran terhadap bangunan benteng dengan memakai bahan dasar batu padas yg didapat berdasarkan pegunungan Karst yg terletak pada Maros.

Benteng ini memiliki bentuk yg menyerupai seekor penyu yang ingin merangkak turun ke samudera . Dilihat dari segi bentuknya, filosofi berdasarkan kerajaan Gowa terlihat kentara dari bangunan ini yg berarti penyu dapat hayati di darat & juga pada laut yg ialah kerajaan ini dapat bertahan terhadap apapun ancaman yg asal dari luar maupun menurut pada kerajaan itu sendiri.

Perlu kita ketahui, bahwa dalam berasal mulanya benteng ini bernama benteng Ujung Pandang. Akan namun, sesudah kerajaan Gowa Tallo menandatangani perjanjian Bungayya yg galat satu isi pasalnya mewajibkan kerajaan ini untuk menyerahkan benteng pada pasukan Belanda.

Setelah belanda menguasai benteng ini, akhirnya nama benteng ini diubah menjadi Fort Rotterdam sang Cornelis Speelman menggunakan tujuan buat mengenang daerah loka kelahirannya pada Belanda. Benteng ini pun dijadikan Belanda sebagai tempat buat penampungan rempah-rempah Indonesia bagian Timur.

Saat ini, di kompleks Benteng Fort Rotterdam terdapat sebuah museum la Galigo yg di dalam museum tersebut terdapat banyak sekali referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan wilayah lainnya yg berada di Sulawesi Selatan. Sebagian menurut fisik benteng ini masih tetap utuh & telah menjadi objek wisata yang disarankan untuk dikunjungi waktu berada pada kota Makassar.

2. Batu Pallantikang (Batu Pelantikan)

Batu Pallantikang atau dianggap jua batu peresmian adalah sebuah batu andesit yang posisinya diapit sang batu kapur. Batu peninggalan sejarah kerajaan Gowa Tallo ini dianggap oleh sebagian orang mempunyai tuah lantaran dianggap menjadi batu yg asalnya menurut khayangan.

3. Masjid Katangka

Sumber: pedomankarya.co.id

Masjid Katangka atau dikenal jua dengan masjid Al-Hilal merupakan keliru satu masjid tertua yang ada di Sulawesi Selatan. Masjid ini diberikan nama Katangka karena terletak pada kel. Katangka, kec. Somba Opu, kab. Gowa. Selain itu, terdapat juga pendapat yg berkata masjid ini diberi nama Katangka karena bahan dasar pembuatan masjid ini dari dari pohon Katangka.

Masjid ini merupakan masjid peninggalan menurut kerajaan Gowa tallo yg diperkirakan didirikan dalam tahun 1603, akan tetapi ada beberapa sejarawan yg ragu terkait hal ini. Pendapat lain menjelaskan bahwa masjid ini didirikan dalam awal abad 18.

Masjid Katangka sendiri dibangun pada huma menggunakan luasan 150 meter persegi. Terdapat karakteristik spesial dalam masjid ini yakni memiliki satu kubah, atap 2 lapis yang menyerupai bangunan Joglo. Masjid ini memiliki 4 tiang penyangga yg memiliki bentuk bulat dan memiliki berukuran yang luas di bagian tengahnya. Masjid ini memiliki jendela yang berjumlah 6 buah & pintu dengan jumlah 5 butir.

Terdapat makna dari arsitektur masjid ini, dimana atap 2 lapis berarti kalimat syahadat , empat tiang penyangga berarti teman nabi, 6 ventilasi berarti rukun iman dan 5 pintu berarti sholat harus lima waktu. Selain keunikan pada atas terdapat pula keunikan pada bagian kubahnya yg mengandung arsitektur Lokal dan Jawa, Mimbar yang dipengaruhi sang budaya Cina dimana atap mimbar yang memiliki kecenderungan menggunakan atap klenteng dan tiang yg mengandung arsitek bangunan Eropa.

4. Masjid Jongayya (Babul Firdaus)

Sumber: ramadhan.rakyatku.com

Masjid Jongayya  atau dikenal juga dengan nama Babul Firdaus adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh raja Gowa ke 34 yaitu Imakkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenanga ri Bundu’na saat perayaan maulid Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam sekitar tahun 1314 Hijriah.

Berdasarkan kabar masyarakat setempat masjid ini adalah masjid ketiga yg didirikan sang kerajaan Gowa selain masjid Jami' Nurul Mu'minin & masjid Katangka. Arsitektur menurut ketiga masjid ini hampir sama lantaran masih dibangun oleh keturunan raja Gowa. Tujuan dibangunnya masjid ini dikarenakan berpindahnya sentra kerajaan Gowa berdasarkan wilayah Katangka ke Jongayya.

Dikarenakan lokasinya berada pada sentra kerajaan, maka masjid ini jua sebagai tempat rendezvous raja-raja pada mengatur taktik buat melawan penjajahan Belanda sekaligus jua sebagai tempat menuntut ilmu agama Islam. Seiring berjalannya saat masjid ini kemudian diperluas berdasarkan yang luas awalnya 100 meter persegi sebagai 750 meter persegi & saat ini luasan masjid sudah mencapai 2000 meter persegi.

5. Masjid Jami' Nurul Mu'minin

Sumber: travel.rakyatku.com

Masjid Jami' Nurul Mu'minin merupakan masjid peninggalan kerajaan Gowa Talo yang berada di jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 1700 tahun yg kemudian. Konon ucapnya masjid ini didirikan oleh galat satu putra kerajan Gowa yg bernama Andi Cincing Karaeng Talengkese.

Tujuan dari pembangunan masjid ini waktu itu yakni buat membantu masyarakat yg kesulitan buat menuju loka sholat yang jaraknya cukup jauh yakni masjid Jongayya.

6. Kompleks Makam Katangka

Sumber: @sunartihajjah via Instagram

Kompleks Makam Katangka terletak di areal masjid Katangka. Di makam ini terdapat pemakaman menurut keluarga dan keturunan raja-raja Gowa termasuk pada dalamnya sultan Hasanudin.

Untuk mengenali makam sangat mudah, dimana makam raja-raja diatapi menggunakan kubah sedangkan makam pemuka agama serta keturunan raja hanya diberi pertanda dengan batu nisan biasa saja.

7. Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Sumber: @daengserang55 via Instagram

Syekh Yusuf Tajul Khalwati atau dikenal jua dengan nama Syekh Yusuf Almaqassari Al-Bantani merupakan seorang ulama akbar yg lahir di Gowa pada 3 Juli 1926. Beliau merupakan keturunan menurut pasangan Abdullah & Aminah. Saat ia lahir, dia diberikan kehormatan karena diberikan nama eksklusif sang Sultan Alauddin, nama yg diberikan adalah Muhammad Yusuf.

Syekh Yusuf memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perlawanan rakyat Gowa Tallo terhadap para penjajah. Dengan pengaruhnya yang besar ini membuat penjajah merasa terusik,  ia kemudian diasingkan ke Srilanka, India pada September 1684 dan kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan. Saat ia meninggal kemudian jenazahnya dipulangkan ke daerah asalnya yaitu Makassar dan dimakamka tepatnya du dataran rendah Lakiung sebelah Barat masjid Katangka.

8. Istana Balla Lompoa

Sumber: @amytriyulin via Instagram

Istana ini juga bagian dari peninggalan sejarah kerajaan Gowa Tallo yang berlokasi di kec. Somba Opu, Kab. Gowa tepatnya di kelurahan Sungguminasa. Istana ini dibangun pertama kali oleh raja Gowa ke 3 yaitu  I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonionompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa.

Setelah dilakukan renovasi, saat ini tiang istana berjumlah 54 tiang & bisa jadi kedepannya akan terdapat penambahan balik . Istana ini mempunyai 6 ventilasi pada sisi kiri & empat ventilasi depan yang memiliki fungsi sebagai Museum yang berguna dalam menyimpan benda-benda bersejarah kerajaan Gowa Tallo.

9. Benteng Somba Opu

Sumber: @fa_amelia via Instagram

Benteng Somba Opu adalah benteng peninggalan sejarah kesultanan Gowa yg didirikan sang raja Gowa ke 9 yakni Daeng Matanre Karaeng Tumapa'khawatir' Kallonna pada abad ke 16. Benteng ini bisa kita temui pada jalan daeng Tata, kel. Benteng Somba Opu, kec. Barombong, kab.Gowa, Sulawesi Selatan.

Pada zamannya, tempat ini pernah menjadi pusat pelabuhan dan perdagangan rempah-rempah yang diperjual belikan untuk para pedagang baik dari Asia maupun Eropa. Akan tetapi, tempat ini berhasil dikuasai oleh VOC yaitu pada tahun 1969 yang kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak.  Benteng ini kemudian ditemukan kembali pada kisaran tahun 1980 oleh para ilmuwan yang datang ke tempat itu.

Kemudian pada tahun 1990-an barulah benteng ini direkonstruksi ulang sehingga tampak lebih baik menurut sebelumnya. Tempat ini pun sekarang telah menjadi wisata bersejarah karena terdapat tempat tinggal tata cara di dalamnya dan juga ada sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan dari kerajaan ini. Tidak kalah menariknya, pada tempat ini pula ditemukan sebuah meriam menggunakan berukuran panjang 9 meter dan berat kisaran 9.500 kilogram.

Itulah artikel tentang 9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah yang dapat Abang Nji informasikan pada sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan kita serta kecintaan kita pada bangsa ini.

Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments