Sunday, July 12, 2020

Contoh Makalah Pendidikan Anak Usia Dini

Sebagai bahan referensi, berikut ini admin berbagi contoh makalah pendidikan anak usia dini atau yang disingkat PAUD. Sebagai program studi yang terbilang baru di perguruan tinggi, sangat diperlukan rujukan yang memadai terkait dengan berbagai problematika yang dihadapi dalam pendidikan anak usia dini.

Contoh makalah PAUD berikut ini semoga menjadi galat satu masukan bagi para mahasiswa yg tengah merampungkan tugas kuliah atau menambah wawasan. Dalam contoh makalah pendidikan anak usia dini berikut kami mengangkat tema ?Urgensi Cerita Terhadap Pembentukan Pribadi Anak?

A. PENDAHULUAN

Jauh sebelum kebudayaan Barat menggunakan global pendidikannya meng?Amati & menyelidiki perkembangan anak, & di banyak sekali kebudayaan tersebut baru terwujud psikologi & ceritera masyarakat mengenai anak, kebudayaan Islam dengan ajaran kepercayaan fitrah sudah mengatur kehidupan ini sesuai dengan fitrah insan yang meliputi jua pelaksanaan pendidikan anak.

Berbeda menggunakan kebudayaan Barat, maka kebudayaan Islam sudah mempersatukan metode ilmu pengetahuan & kemampuan rasio, dengan pemikiran yg metafisik & perasaan subjektif. Kaidah?-kaidah akal dan kemampuan ilmu pengetahuan oleh Islam dipersatukan dengan suatu ikatan ketentuan agama dengan dasar kebudayaan yg erat sekali (Haekal, 1992). Hal ini ditimbulkan lantaran kepercayaan dan kebudayaan yg sudah dibawa Muhammad SAW kepada umat insan melalui wahyu Tuhan itu begitu terpadu sehingga merupakan keteladanan bagi corak kehidupan tersebut.

Contoh Makalah Pendidikan Anak Usia Dini Disamping berita tersebut, pada konteks makalah ini perlu disebut juga bahwa sangat serasi menggunakan pemikiran Islam buat menyatukan kemampuan rasional & ilmu pengetahuan dengan dimensi perasaan dan metafisika, maka dalam mengamati & menilai perilaku & langsung anak, pendekatan umum utama merupakan pendekatan berdasarkan pengukuran objektif perilakunya, disamping aspek subjektif menurut pengalaman pribadinya (Jersild, 1975). Kedua dimensi ini masing-masing tercakup dalam kehidupan ilmiah objektif & tempat afektif dan metafisik.

B. URGENSI CERITA PADA ANAK

Kalau Piaget sebagai tokoh pendidik, psikolog dan matematikus Barat telah mempelajari perkembangan evolusionistis anak secara sekuensial (berurutan), & telah menemukan kesamaan dan termin per?Kembangan yg universal serta prinsip-prinsip generik, maka pakar tadi kurang memerhatikan lingkungan kebudayaan, latar belakang keluarga & riwayat unik dan pengalaman-pengalaman subjektif anak (Jersild, 1975). Tetapi penelitian mutakhir para humans telah menjajagi berbagai taraf "pengertian" mengenai anak menggunakan meninggalkan pengukuran & pengamatan objektif semata. Bahkan, pengkajian anak secara saintifik menggunakan distorsi minimal terhadap interpretasi penghayatannya memerlukan pendekatan yang subjektif pada arti tahu (verstehen) anak sedemikian, sebagai akibatnya dapat menerobos ke pada (penetrate into) penghayatan pengamalannya. Satu-satunya jalan adalah "memasuki dunia anak itu melalui cerita sesuai dengan dunia anak," sebagai akibatnya terjadi rendezvous & keter?Libatan emosi, pemahaman & keterlibatan mental antara yg bercerita dengan anak. Dengan demikian, terwujudlah pengalaman 2 sisi (two-sided experience) antara yg bercerita dengan si anak.

Cerita adalah sarana yg ampuh untuk mewujudkan rendezvous (encounters) misalnya itu. Keasyikan pada menyelami substansi cerita, apalagi di pencerita bisa demikian pada menyelami materinya sebagai akibatnya memasuki global minat (center of interest) anak tersebut, dan membentuk apa yang oleh Maslow (1968), diklaim penghayatan pengalaman yg paling mendalam (peak-experience).

Terjadinya rendezvous tersebut merupakan peluang untuk meng?Inkorporasikan segi-segi pedagogic dalam ceritera tersebut, sehingga tanpa disadari cerita tersebut menghipnotis perkembangan pribadi?Nya, membangun sikap-sikap moral & keteladanan.

C. PENGARUH CERITA MALAIKAT JIBRIL TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK

Pada suatu waktu, tahun 1985 yang lalu, ada serombongan mak pengajian berdasarkan golongan "elit atas" beribadah Umroh pada bawah bimbingan bunda guru ngaji menjadi mutawifnya. Pada hari pertama thawaf, dengan tujuh kali mengelilingi Ka'bah orang telah mulai berdesakan buat mencium batu Hajar-al-Aswad. Tua muda, laki?Wanita, orang yg berbadan besar -mini , terutama orang Afrika yg berbadan besar , yang berkeringat sebagai akibatnya bau keringatnya menyengat ke mana-mana, saling mendorong. Seorang bunda di antara rombongan bunda-mak itu tidak sampai hati mencium batu Hajar-al?Aswad tersebut, karena didorong & didesak sang gerombolan orang Afrika, dan merasa agak jijik terhadap mereka, sedangkan mak lainnya, semua berhasil, paling tidak memegang batu Hajar-al-Aswad. Malam hari sehabis sholat isya rombongan berkumpul untuk dibrief sang gurunya. Maka berceritalah ibu pengajar tersebut.

"Menurut Haekal (1992); kaum Muslimin yg mula-mula lantaran permusuhan yg begitu bengis berdasarkan pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisma, masih melakukan sholat yang sembunyi-sembunyi. Keadaan serupa ini berjalan selama 3 tahun, sementara Islam bagaimanapun jua tambah meluas, terutama di kalangan penduduk Mekkah. Wahyu yang datang pada Muhammad SAW makin memperkuat iman kaum Muslim.

Pada suatu ketika dakwah itu berkembang sampai Madinah. Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan yg telah mengenal arti kesucian, telah menyadari arti kebenaran, pengampunan, & arti rahmat mulai juga memasuki Masjid pada situ. Dengan kegembiraan dan kebahagian diundangnya mereka memasuki bagian muka masjid tadi oleh Rasullulah. Datanglah jua seorang pengemis buta sengsara memasuki masjid itu, akan duduk pada kalangan orang terkemuka masyarakat tadi. Agak ragu tadinya saudagar & kaum bangsawan menyilahkan orang tersebut menyandingi mereka, namun alangkah kagetnya ternyata pengemis tersebut menjelma sebagai Malaikat Jibril. Dengan lemah lembut Muhammad SAW mengungkapkan bahwa ?Kasih saying Al-Khalik Pencipta alam semesta ini adalah pula bagi kaum sengsara, kaum lemah, & bahwa ajaran Islam adalah bagi kaya dan miskin, semua orang yg punya maupun tidak punya, yg beriman pada-Nya."

Ibu berdasarkan rombongan elit yang berumroh tersebut tergiur dan sadar diri. Anehnya, pagi harinya, ketika rombongan bunda-bunda tersebut berthawaf lagi, beliau bisa menggunakan mudah mencium batu Hajar-al-Aswad. Rupanya Tuhan sudah menaruh kebesaran hati dalam hambaNya yang menyerahkan hidup semesta ini ke dalam diriNya dan ke dalam jantung kehidupan masing-masing.

Apa yg dialami oleh ibu tersebut di Mekkah Mukarromah lalu diceritakan pada putri-putrinya yg berpengaruh amat mendalam pada perkembangan eksklusif anak-anaknya.

D. PENGARUH KEBUDAYAAN ASING TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK

Keluarga adalah media awal anak mengenal lingkungannya, dari mana beliau beranjak buat mengadakan eksplorasi (penjelajahan) & menemukan sifat, sikap, & kemampuanya pada membedakan banyak sekali objek pada dalam lingkungannya. Interaksi antara lingkungan & faktor hereditas akan berlanjut pada tumbuh kembang anak & fungsi keluarga adalah terutama membentuk komunikasi 2 arah dalam keterlibatan mental, sosial, emosional, dan mengatasi aneka macam kasus anak-anaknya. Tugas famili ini lalu sebagian dialihkan pada sekolah menjadi "perpanjangan" lingkungan rumah. Hubungan dan komunikasi 2 arah dalam keterlibatan sosial, emosional dan mental sebagai dasar berdasarkan pembelajaran formal pada sekolah. Lingkungan tempat tinggal atau sekolah yang "salahdanquot; (adverse) dapat menghambat bahkan menghambat perkembangan anak, betapa pun secara genetis beliau berpotensial. Contoh konkret merupakan anak yatim piatu pada panti asuhan atau anak yang dari menurut famili yg sibuk yang nir mengenal kasih sayang, nir terpenuhi dorongan emosionalnya & dilingkupi oleh ketidakpedulian lantaran kesibukan masing-masing anggota keluarga tempat tinggal tangga, ataupun kekurangpedulian gurunya & atau orang tua terhadap tumbuh kembang muridnya. Adakah mengherankan bahwa anak di tempat tinggal lalu memalingkan per?Hatiannya ke media elektronika yg dianggap TV, dari mana dia memeroleh macam-macam pengalaman karena disajikan dalam "bahasa internasional," bahasa yang bisa ditangkap anak & memengaruhi kehidupan kejiwaannya dalam suatu situasi kekosongan nilai.

Kini menggunakan adanya aneka macam TV swasta & masuknya budaya asing melalui parabola, maka menggunakan mudah terjadi pengaruh kebudayaan asing setiap harinya pada kita. Bagi anak-anak banyak sekali ceritera kebudayaan asing merupakan "makanandanquot; sehari-hari. Meskipun media TV merupakan bukti konkret kemajuan teknologi, terdapat pengaruh yg kurang balk selain dari dalam dampak yang positif dari pengamatan TV tadi. Dampak kuat sekaligus pada telinga & penglihatan kita, selain pada berbagai program pendidikannya memberikan impak positif, jua menjadi "teladan" dalam banyak sekali contoh langsung yg ditayangkan itu. TV hadir di mana-mana, beliau mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yg dekat dan bisa menambahkan berbagai emosi positif juga negatif. Positif, apabila terdapat model dampak yang baik dalam menumbuhkan harkat dan martabat serta kesan-kesan yang berdampak baik terhadap persepsinya tentang ayah, bunda, guru atau teman-temannya. Negatif, bila menayangkan tayangan anti sosial & kekejaman. Era globalisasi sudah merambah ke pada rumah-tempat tinggal warga Indonesia golongan mana pun dan keluarga yg terjepit antara perkembangan teknologi & arcs globalisasi yg tidak bisa menjalankan kegunaannya buat menampung penghayatan anggota keluarganya dalam merefleksikan balik berbagai insiden, serta interaksi antara sesama manusia, insan dengan insiden, maupun insan dan objek sekitarnya. Karenanya warga sangat mendambakan sekolah menjadi "mitranya" dan sesama sentra pendidikan dalam menjalankan fungsi tersebut.

Terlepas menurut efek positif yang terkait dengan ekspansi wawasan pengetahuan, banyak sekali impak cerita asing jika mencakup hal-hal yg negatif (tayangan kekerasan, seks, & anti sosial lainnya), akan meracuni kehidupan kejiwaan anak.

Oleh karenanya terdapat beberapa langkah yg bisa disarankan pada sini, antara lain: karena dampak tersebut datangnya terutama dari media elektronika, yang "ancaman bahayanya" berdampak lebih besar berdasarkan bacaan, lantaran selain acapkali lebih menarik, pula lebih gampang dicerna sebab disertai gambar-gambar sehingga nir perlu banyak berpikir, maka bisa disarankan antara lain:

  • Dampingi anak-anak pada kala menonton tayangan yang tidak dimaksudkan untuk anak.
  • Batasi anak menontonTV pada jam-jam yang sesuai. Bila centanya cerita asing, berikan penjelasan-penjelasan untuk disesuaikan kepada kehidupan di Indonesia.
  • Usahakan juga menyajikan cerita-cerita Indonesia yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan tentang kebaikan dan keburukan seperti Bawang Putih, Bawang Merah, dan sebagainya.
  • Teroboslah (penetrate) dunia anak untuk selalu menjaga agar kita dapat mengikuti perkembangannya.
Bagaimana pun juga berbagai pengaruh kebudayaan asing dengan meningkatnya teknologi yang begitu cepat tidak dapat terelakkan, namun tidak boleh kita tidak mempersenjatai anak kita menghadapi infiltrasi tersebut.

E. PENUTUP

Pentingnya cerita dalam anak, terutama ceritera yang bernilai tauhid & akhlak anak mendekatkan anak pada nilai-nilai fitrahnya, serta

menumbuhkembangkannya secara masuk akal buat beriman pada Allah. Selain itu, dengan mengenalkan anak akan pribadi dan pengalaman hayati Rasulullah

SAW, maka keteladanan pribadi Rasul kita akan menaruh peluang dalam anak buat menumbuhkan perilaku ikhlas & kesediaan tawakal tanpa dipaksakan.

Sebaliknya, cerita asing dapat berpengaruh positif & negatif. Pengaruh positif terkait dengan perluasan wawasan pengetahuan, sedangkan pengaruh negatif terjadi bila mengandung unsur kekerasan seks dan anti sosial yang akan meracuni kehidupan kejiwaan anak.

Dalam dunia yang serba terkini dan warga industri dan pasca industri yg serba canggih ini mempertemukan ketua (c.Q.Rasio), dengan kata hati, menerobos dunia logika & anasir perasaan & dimensi metafisik akan berakibat keserasian jiwa mencapai keikhlasan.

Keikhlasan nir berarti mengabaikan segala sesuatu yg berharga terperosok nilainya sang lantaran kita lepaskan begitu saja (Hasan, F., 1975). Sebaliknya, keikhlasan justru meninggikan nilai sesuatu yg kita lepaskan berdasarkan keakuan, buat dipercayakan dalam lindungan yang lebih Agung, yaitu dalam Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

  • Haekal, M. H. 1992. Sejarah Hidup Muhammad, cetakan ke 14. Jakarta: Lentera Antar Nusa.
  • Hasan, F., 1975. Pengalaman Seorang Haji, Perlawatan ke Haramain. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Jersild, A.T. 1976. Child Psychology, seventh edition, USA: Prentice Hall.
  • Maslow, A. H. 1968. Toward a Psychology of Being. New York: Van Nostrand.
  • Semiawan, C. 1997. Pengaruh TV terhadap Kenakalan Remaja. Seminar LIPI.
  • Semiawan, C. 1994. Urgensi Cerita terhadap Pembentukan Pribadi Anak. Jakarta: Seminar Forum Taushiyah Muslimah V LDK Musholla Mahasiswa IKIP Jakarta: 21 Maret.
Itulah secara sederhana contoh makalah pendidikan anak usia dini. Makalah lainnya dapat dilihat contohnya pada makalah pendidikan anak usia dini - contoh 2 yang mengambil tema: Menemukan Sifat Genius Dalam Diri Setiap Anak.

No comments:
Write comments