Friday, July 3, 2020

Janur Kuning, Film Heroik Mbah Harto

Film Janur Kuning di untuk buat mengenang mereka yg sudah tiada semasa usaha merebut balik kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam upacara ketika mengusut barisan prajurit Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Sudirman menghampiri seorang prajurit gagah berani benama Komarudin. Komarudin meminta maaf pada Jenderal Sudirman karena beliau pernah melakukan kesalahan pada menghitung hari, tetapi menjadi seorang prajurit yang gagah berani, dia dipercaya nir bersalah oleh Jenderal Sudirman. Dalam pidatonya Jenderal sudirman menekankan bila kita merupakan cinta damai tetapi lebih cinta Kemerdekaan dari Belanda yg telah menciptakan persatuan dan kesatuan Indonesia bercerai berai. Dalam kondisi sakit Jenderal Sudirman nir mampu damai, dia tidak habis piker kenapa Belanda membatalkan perjanjian Renville. Sementara Jenderal Sudirman jikalau boleh menentukan beliau akan mangkat dalam medan perang dibandingkan mangkat dalam loka tidur.

Sementara itu warga Jogja pada kejutkan dengan bunyi raungan kapal terbang pada atas langit Jogja. Termasuk juga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono dan Soeharto yg di buat kaget. Pada awalnya penduduk mengira jikalau itu merupakan latihan perang, namun Soeharto segera tanggap & meminta istrinya buat menyiapkan perlengkapan. Soeharto segera mencari tahu apa yg terjadi. Akhirnya beliau mengambil konklusi bila Belanda ingin merebut lapangan terbang Maguwo.

Soeharto memerintahkan untuk menyiarkan melalui RRI Jogya dengan poin-poin sebagai berikut:  Kita telah di serang, Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang Kota Jogjakarta dan lapangan terbang Maguwo (Agresi Militer Belanda 2), Angkatan Perang Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata dan terakhir Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah diadakan u ntuk menghadapi serangan Belanda. Soeharto pun berharap agar Pasukan Siliwangi turut berjuang untuk mempertahankan ibukota Republik Indonesia. Namun sayang sekali Pasukan Siliwangi telah ditarik kembali ke Jawa Barat.

Akhirnya terjawab sudah oleh Soeharto, perasaan nir lezat yg pada alami oleh istrinya merupakan karena Ibukota akan di serang. Akhirnya Istri Soeharto disuruh buat mengungsi, ad interim itu Jenderal Sudirman disinyalir telah keluar berdasarkan istana Jogjakarta. Sedangkan Soeharto menyuruh anak buahnya buat membakar markas setelah dokumen-dokumen penting telah dia singkirkan.

Baku tembak antara pasukan TNI dengan Belanda pun terjadi. Belanda berkiprah memasuki ibukota. Demi usaha, maka Jenderal Sudirman untuk ad interim waktu di suruh menyingkir dari Jogja. Sedangkan Soeharto mencoba memberi perlawanan terhadap Belanda.

Jenderal Sudirman tidak mengira kalau Belanda menyerang  dari Maguwo. AKhirnya demi perjuangan, Jenderal Sudirman pun menyingkir dari Jogja. Rakyat pun di buat kalang kabut akibat pendudukan Belanda di Ibukota Jogyakarta. Sementara dari pihak Indonesia jatuh banyak korban dari para pejuang. Pos Pertolongan pun terpaksa di didirikan di pinggiran kota karena kuatir Belanda akan segera memasuki kota. Yang menonjol, Di Indonesia memiliki prajurit yang gagah berani bernama Komarudin. Ia menantang Belanda dengan dadanya.

Belanda berhasil menduduki kota Jogja. Untuk mengamankan jika terjadi keadaan yang darurat, Presiden Sukarno kekuasaan kepada  menteri kemakmuran untuk membentuk pemerintahan di Sumatera Barat jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di Ibukota, maka pemerintahan akan di pindahkan ke Sumatera Barat. Akibat pendudukan Belanda, rakyat menjadi susah dibuatnya, orang-orang yang dicurigai sebagai TNI di tangkap.

Sedangkan Soeharto & anak buahnya terus melanjutkan perang gerilya. Dengan menyamar menjadi petani Soeharto dan anak buahnya dengan berjalan kaki menyingkir berdasarkan kota Jogja melalui hutan-hutan sambil menaruh perintah setiap singgah di komandan perang di sektor yang pada lewati. Suharto pula menyiapkan taktik buat menciptakan agresi balasan terhadap Belanda.

Pasukan Belanda semakin bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat pribumi yg nir tahu apa-apa. Yang dianggap ekstrimis ditangkap. Dalam pelariannya pasukan yang di pimpin Soeharto berhadapan dengan prajurit Belanda. Dalam baku tembak yg terjadi menggunakan Belanda, Soeharto diisukan tewas tertembak. Hingga membuat kemarahan prajuritnya. Namun isu tadi nir berlangsung lama , lantaran Soeharto akhirnya timbul ditengah-tengah mereka.

Sementara itu Belanda terus berusaha memecah belah penduduk menggunakan membuat kekacauan. Belanda dibantu sang pengkhianat-pengkhianat bangsa melakukan kegiatan yang meresahkan warga . Rakyat yg sudah menderita dari kekejaman Belanda, tetapi masih ditambah menderita menggunakan ulah para pengkhianat bangsa. Sementara itu Soeharto menyiapkan Serangan balasan kepada pihak Belanda. Untuk menandai serangan yg ke 2, maka pertanda yang akan di pakai adalah Janur Kuning

Setelah Soeharto tumbang pada Mei 1998, banyak hal yg mencuat terkait dugaan penyesatan sejarah yang terjadi selama Orde Baru. Salah satunya mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949, terutama peran Soeharto dan Sultan Hamengkubuwana IX selaku ketua wilayah sekaligus Raja Kesultanan Jogjakarta.

Letnan Kolonel Soeharto sebagai Komandan Brigade 10 Daerah Wehrkreise III memang memimpin agresi serentak itu, terlepas dari kesaksian Kapten Latief yg menyebutnya kalem-kalem makan soto babat ketika perang berlangsung. Tetapi, agresi itu terealisasi berkat persetujuan dari Sultan HB IX.

Yang terjadi lalu adalah kiprah Sultan HB IX menjadi sangat mini dalam versi propaganda Orde Baru.

Bourbon

No comments:
Write comments