Tuesday, July 28, 2020

Kegunaan Ilmu-Ilmu Sosial Untuk Sejarah

Sejarah Baru yang memang lahir berdasarkan adanya perkembangan ilmu-ilmu sosial sebagai bukti bagaimana besar imbas ilmu-ilmu sosial dalam sejarah. Pengaruh ilmu-ilmu sosial pada sejarah dapat digolongkan ke pada empat macam, yaitu (1) konsep (dua) teori (tiga) permasalahan (4) pendekatan.

Meskipun demikian, penggunaan ilmu-ilmu sosial pada sejarah itu bervariasi. Variasi itu merupakan (1) yg menolak sama sekali, (dua) yg menggunakannya secara tersirat, & (tiga) yg menggunakannya secara eksplesit. Tentu saja ada varian campuran dan kekaburan batas.

Pihak yang menolak sama sekali penggunaan ilmu-ilmu sosial beropini:

(1) Bahwa penggunaan ilmu-ilmu sosial akan berarti hilangnya jati diri sejarah sebagai ilmu yang diakui keberadaannya, jadi sejarah relatif menggunakan commen sense (akal sehat, logika umum, akal sehari-hari) & penggunaan dokumen secara kritis Tanpa ilmu-ilmu sosial, sejarah bisa sebagai dirinya sendiri. Sejarah itu wajib mendekati objeknya tanpa prasangka intelektual (memakai semacam grounded research). Dari penelitian, akan ada menggunakan sendirinya pengelompokan-pengelompokan, menurut pada kita akan bisa insight, nir berdasarkan luar melalui ilmu-ilmu sosial. Misalnya, tanpa konsep intelektual apa pun kita memahami bahwa terdapat revolusi antara 1945 - 1950.

(2) Penggunaan ilmu-ilmu sosial hanya akan menjadikan sejarah sebagai ilmu yang tertutup secara akademis dan personal. Dari sudut pandang akademis, tanpa ilmu-ilmu sosial, sejarah akan kehilangan sifat kemandiriannya sebagai the ultimate interdisciplinarian. Secara personal, sejarah akan punya perihal teknis, dan ini tidak menguntungkan. Sebab orang "hanya" berbicara bahasa sehari-hari akan menyingkir. Kemana mereka, kalau tidak ke sejarah? Begitu banyak orang berbakat yang  tetap menjadi amatir hanya karena sejarah menggunakan ilmu-ilmu sosial.

Ternyata, tanpa ilmu-ilmu sosial sejarah bisa ditulis dengan baik. Tulisan Taufik Abdullah, School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933). Demikian jua kitab -kitab H.J. De Graaf mengenai Mataram, M.C Ricklefs mengenai Yogyakarta abad ke-18, Peter Ceey mengenai Yogyakarta abad ke-19, & Leonard Blusse tentang Batavia abad ke-17. Semua itu dituliskan menggunakan kekayaan dokumen, ketelitian, sikap kritis, cerdas, dan retorika yang baik. Jangan hingga penggunaan analisis ilmu sosial digunakan buat menutupi retorika.

Akan tetapi, mereka yang tidak menggunakan ilmu-ilmu sosial pun setuju bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial amat penting karena ilmu-ilmu sosial akan mempertajam insight sejarawan.

Adapun penggunaan ilmu-ilmu sosial mencakup: konsep, teori, konflik, & pendekatan.

Konsep

Kata "konsep" berasal dari bahasa latin conceptus, yang berarti "gagasan" atau "ide". Sadar atau tidak, sejarawan banyak menggunakan konsep-konsep ilmu-ilmu sosial. Anhar Gonggong dalam desertasi tentang Kahar Muzakar menggunakan konsep local politics untuk menerangkan konflik antargolongan di Sulawesi Selatan. Untuk menjelaskan pribadi Kahar Muzakar, ia memakai konsep sirik dari etno psyhology, yang berarti harga diri atau martabat. Demikian, Kahar harus pergi merantau karena sirik, dan kembali ke Sulawesi Selatan juga karena sirik.

Suhartono dalam Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaaan Surakarta, 1890-1920, menggunakan konsep rural elite untuk menerangkan perampok kecu.

Teori

Kata "teori" berasal dari bahasa Yunani theoria, yang berarti di antaranya "kaidah yang mendasari suatu gejala yang sudah melalui verifikasi"; ini berbeda dengan hipotesis (Webster's New Twentich Century Dictionary).

T.Ibrahim Alfian dalam buku Perang di Jalan Allah menerangkan Perang Aceh dalam teori collective behavior dari Neil J. Smelser. Dalam teori ini itu direrangkan bahwa perilaku kolektif dapat timbul melalui dua syarat, yaitu ketegangan struktural (structural strain) dan keyakinan yang tersebar (generalized belief). Ada ketegangan antara orang Aceh dan pemerintah kolonial, antara muslim dan kape, yang menghasilkan ideologi perang sabil.

Pertarunga

Dalam sejarah poly sekali konflik ilmu-ilmu sosla yg dapat diangkat menjadi topik-topik penelitian sejarah, misalnya duduk perkara mobilitas sosial, kriminalitas, migrasi, gerakan petani, budaya istana, kebangkitan kelas menengah dan sebagainya.

Untuk memberi contoh saja dari sekian banyak kemungkinan, ambilah buku Sartono Kartodirjo, et al., Perkembangan Peradaban Priyayi. Buku itu ditulis berdasarkan permasalahan elit dalam pemerintah kolonial, kemunculan, lambang-lambangnya, dan perubahan-perubahannya.

Pendekatan

Sebenarnya, seluruh tulisan sejarah yang melibatkan penelitian suatu gejala menggunakan jangka nisbi panjang (aspek diakronis) yg melibatkan penelitian aspek ekonomi, warga , atau politik (aspek sinkronis), pastilah memakai jua pendekatan ilmu-ilmu sosial.

Pemakaian yang implisit ialah tulisan Soegijanto Padmo, The Cultivation of Vorstenlanden Tobacco in Surakarta Residency and Besuki Tobacco in Besuki Residency and Its Impact on the Peasant Economy and Society: 1860-1960. Tulisan yang membicarakan penanaman tembakau dan pengaruhnya pada ekonomi dan masyarakat itu memakai pendekatan ilmu-ilmu sosial sehingga tulisan itu bisa kita masukan dalam sejarah ssosial.

Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, page 87-90

Bourbon

No comments:
Write comments