Saturday, July 11, 2020

Makalah Pendidikan Anak Usia Dini - Contoh 2

Artikel berikut ini merupakan tema lain dari contoh Makalah Pendidikan Anak Usia Dini yang sebelumnya mengambil tema “Urgensi Cerita Terhadap Pembentukan Pribadi Anak”.

Contoh makalah pendidikan anak usia dini di bawah ini mengangkat perseteruan yg berkaitan dengan perkembangan anak usia dini yaitu: ?Menemukan Sifat Genius Dalam Diri Setiap Anak?. Dengan asa semakin menambah khazanah para pembaca khususnya yang berhubungan dengan Pendidikan Anak Usia Dini baik usia pra sekolah sampai sekolah dasar.

I. PENDAHULUAN

Mungkin judul ini terlalu optimis karena yg dimaksudkan menggunakan setiap anak adalah setiap anak normal. Normalitas mental adalah limit-limit akseptabilitas yang dipengaruhi oleh sistem kependidikan. Anak yg normal mentalnya memiliki kemungkinan genius dalam dirinya, yang bila digali, sanggup ditemukan yang paling baik (yg unggul tetapi belum tampak) dalam diri anak (hidden excellence in personhood). Kesadaran ini merupakan suatu langkah permulaan mengatasi kemelut pendidikan, satu pada antara berbagai kasus yang sekarang dihadapi sang negara dan bangsa kita dalam era reformasi ini.

Makalah Pendidikan Anak Usia Dini - Contoh 2

II. ERA REFORMASI DAN PERANAN PENDIDIKAN

Marilah kita mengintip sekejap ke kondisi rakyat yang dalam kala ini mengalami pergolakan yg luar biasa. Perubahan dan pemugaran?Nya ke arah terwujudnya rakyat demokratis tidak sanggup ditinjau ter?Lepas dart perubahan global dunia pada memasuki era reformasi. Sementara dengan terjadinya krisis kepercayaan yang ditujukan dalam sistem & struktur pemerintahan, ada bayangan disintegrasi bangsa dan situasi khaos. Dalam situasi itu pula anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa harus tetap belajar meneruskan sekolahnya buat sebagai anggota masyarakat yg bukan saja bermanfaat, me?Lainkan juga baik dan cerdas, yang bisa membentuk masyarakat?Nya. Oleh karenanya, kita harus menoleh dalam semua sumber sekolah (wahana, prasarana, media, fasilitas) yang masih tersedia buat bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kita wajib mencari kesempatan buat pendidikan dan pembangunan negara kita supaya sanggup meng?Ubah aneka macam kendala yg sekarang dialami sebagai peluang (turning obstacles into opportunities).

Tetapi, kesempatan dan kemampuan tadi tidak tiba menggunakan sendirinya, apalagi apabila prestise kehidupan insan nir digunakan sebagai pertimbangan. Martabat manusia menuntut kemerdekaan juga kesamaan (equality), dua ciri yang terkait satu menggunakan lamnya dan bermuara dalam suasana demokratis pada tempat tinggal dan pada rakyat dalam umumnya. Cara hayati yg teratur demi prestise manusia adalah sisi yang secara bersamaan dibina menggunakan segi spiritual dalam suasana kebebasan (kemerdekaan). Pembinaan tadi bermula dari rumah, menurut orang tua, dan masuk akal bagi seseorang mak betapa pun profesi dan karirnya memegang peranan penting pada hidupnya, buat memberikan goresan pendidikan pertamanya dalam pikiran seorang anak yang bersifat hangat & manusiawi, sebelum si anak mengenal pendidikan yg bersifat terlembaga & resmi.

Memang wajib diakui bahwa setiap anak lahir dengan bakat, kemampuan, bakat dan sikap dan sifat yang berbeda. Meskipun demikian sifat dan pembawaan anak mana pun menyerap emosi dan seluruh gambaran humanisme berdasarkan orang tuanya, terutama menurut ibunya.

Orang tua dalam umumnya berkeingman agar anaknya sebagai manusia bermanfaat & cerdas dan sukses pada gerak warga . Namun, berbagai penelitian memperlihatkan (Goleman, 1996) bahwa IQ yg tinggi belum tentu melahirkan sukses pada mobilitas warga . Potensi anak yg sangat majemuk pada banyak sekali bidang & berbagai tingkat inteligensi, yg dibesarkan pula dalam aneka macam kondisi ekonomi sosial, psikologi, budaya serta alam biologis yang tidak sama harus dipenuhi kebutuhannya agar pembinaannya terjadi sinkron tingkat perkembangannya (developmentally appropriate practice).

III. PARADIGMA BARU PENDIDIKAN MEMASUKI ABAD KE-21

Bagaimana sistem pendidikan, terutama sistem pra sekolah atau pendidikan anak usia dini harus menghadapi populasi target yang begitu heter ogen pada mengatasi masalah yg begitu kompleks di dalam warga kita? Begitu kompleks masalahnya terutama jua kasus pendidikan kita, sebagai akibatnya memperlihatkan aneka macam liku-liku dengan kelemahan dari sudut mana pun kita melihatnya. Jelas salah satu kelemahan yg kini secara menyolok teramati merupakan sistem pendidikan kita yg ikut bertanggung jawab terhadap karakteristik lulusan sekolah, lulusan sekolah kita itu yg sekarang belum menerangkan kemampuan untuk mengatasi krisis agama, krisis ekonomi, dan krisis politik.

Untuk memfokuskan eksklusif pada permasalahannya: adakah sistem pendidikan, atau lebih tegas lagi, adakah kurikulum yg sanggup menghasilkan lulusan yg tidak saja berinteligensi tinggi melainkan pula tidak gampang putus harapan, mempunyai berukuran ketahan?Malangan (adversity Quotient) yang tinggi beyond their potential, mampu dan mau bekerja keras buat bangsa & negaranya, dan above all tetap mempertahankan martabatnya secara manusiawi (human) pada abad yang penuh godaan di kondusif kebaikan yang dikejar pada rakyat terutama berkiblat pada materi belaka.

Abad ke-21 yg baru kita masuki yg dianggap abad yg dilandasi sang konsep Universal Giftedness adalah abad yg memiliki kemungkinan membentuk peradaban yg dihuni sang rakyat yg terdiri atas individu-individu yang memiliki unlimited capacity pada mencapai perwujudan sifat yang baik maupun kecerdasan & ketekunan mengatasi masalah.

Jika kita mengamati sistem pendidikan negara tetangga, maka perlu diakui bahwa tetangga kita jauh lebih siap memasuki milenium ketiga. Peserta didiknya bukan saja mengalami keasyikan (enjoy) pada pembelajarannya, melainkan juga excited, antara lain lantaran dapat mengalami percepatan pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan menggunakan sepertiga waktu yang secara generik diperlukan buat penyelesaian jenjang pendidikan itu. Enjoyment itu membawa rasa puas, kebaikan, toleransi serta tanggung jawab, sedangkan excitement membawa motivasi belajar, peningkatan rasa ingin memahami.

IV. DAMPAK PENELITIAN NEUROSCIENCE TERHADAP KURIKULUM SEKOLAH

Akhir-akhir ini sekolah-sekolah di negeri kita yg tercinta ini sibuk mengembangkan dirt sebagai "sekolah plusdanquot;, namun sebenarnya tidak kentara spa & bagaimana sekolah plus itu, lantaran shift ke kerangka berpikir baru kependidikan belum tampak.

Paradigma baru kependidikan menjadi bush penelitian dalam neuroscience (Clark, 1986) berdasarkan pada asumsi bahwa insan mempunyai kemampuan tidak terbatas buat belajar (limitless capacity to learn) & menggunakan demikian memiliki kemampuan yg luar biasa buat mencipta dan produktif dengan landasan spiritual mengenai keagungan hayati, bukan penginjakan harkat kahidupan. Kerangka pikirnya adalah bahwa dengan asumsi tiada terbatasnya keberbakatan setiap orang (limitless expectancy of the giftedness of each person), setiap orang jua memiliki keunikan keragaman yag seharusnya dilihat menjadi kekuatan, bukan suatu defisit, & karena itu harus didesain belajar terintegrasikan (integrated learning) menjadi proses pembelajaran yang holistik yg bisa memenuhi banyak sekali kebutuhan pembelajaran. Sebab (integrated learning) didasarkan pada pem?Belajaran penelitian otak yg ternyata bisa memekarkan banyak sekali aspek inteligensi menjadi intelegensi jamak (multiple intelligence, Tagle, 1990). Kerangka pikir yg dibangun membuat sistem pendidikan inclusive, metode pendidikan yg sinkron (compatible education) berdasarkan pembelajaran menggunakan otak yg cocok (brain compatible learning). Compatible education melalui integrated learning menjaga ekuilibrium antara imbas arus dunia pada syarat lokal untuk mempertahankan dan membuatkan kepentingan lokal, tats cara hayati & budaya bangsa. Dengan demikian, anak?Anak kita meskipun exposed terhadap pengalaman globalisasi rakyat tidak akan terpelanting & "tercabut menurut akarnyadanquot;.

Kurikulum menurut integrated learning dipangkas volumenya hingga kurang 30% (seperti diantaranya terjadi pada Singapura). Langkah yg berikutnya adalah evakuasi cara mengajar yg adalah langkah dari perencanaan jangka panjang. Pemotongan beban silabus mengubah orientasi pendidikan yg sekarang masih berorientasi dalam materi (content-based). Content-based curriculum lebih mem?Fokuskan pada hapalan isi detail teknis sebagaimana masih sebagai ciri berdasarkan kurikulum & pembelajaran kita sebagai akibatnya kurang mengacu dalam proses berpikirnya.

Perubahan yg wajib terjadi bahkan terutama berorientasi dalam proses pembelajaran yang lebih bersifat project based, bukan saja process based, apalagi bukan terutama content-based. Pembelajaran misalnya ini jugs akan memberi peluang pada peserta didik buat membuatkan kemampuannya secara kreatif, berfikir kritis dan berpikir etis. Dengan demikian, lulusan pendidikan itu bukan saja memeroleh landasan buat mampu meraih peluang memeroleh pe?Kerjaan yang telah ads pada rakyat, melainkan juga mengembang?Kan kemampuan kreatif sebagai akibatnya diantaranya dapat membangun lapangan kerja. Hal tadi makin krusial di tengah maraknya PHK pada sekeliling kita yg dalam tahun-tahun mendatang masih akan menghantui rakyat kita. Oleh karena itu, perubahan tersebut merupakan sebagian menurut pengatasan masalah kita, karena akan ber?Impak secara dunia terhadap banyak sekali aspek kehidupan masyarakat.

Aria Jalil, atase kebudayaan kita di Canberra, mengutip Freud, menyatakan: bekerja itu merupakan susila, orang yang tidak bekerja, atau kehilangan pekerjaan merupakan orang yang peka terhadap datangnya pikiran yang nir susila dan bahkan peka buat terlibat dalam pekerjaan yang tidak susila, seperti mengusik, menggoda, memalsu, mengambil, merebut, merusak dan bahkan menjarah sesuatu yang bukan haknya, baik itu harta, nyawa, kebebasan juga kehormatan (dignity).

Sekolah yang membentuk lulusan yg sanggup menciptakan lapangan kerja, yaitu lulusan yg susila yang sanggup berkreasi, memperjuangkan penghasilan yg berkecukupan tanpa menjatuhkan martabatnya (dengan melakukan kolusi & korupsi) merupakan sekolah yang melatih perserta didiknya buat berpikir kreatif dalam mengatasi kasus melalui berbagai penugasan (projects) pada kehidupan konkret yg terkait secara integrated menggunakan aneka macam topik esensial mata pelajaran tertentu yang relevan dalam menjelajahi lingkungannya. Dengan demikian, keunggulan potensial yg muncul menurut keunikan dan keragaman individu akan memperoleh peluang lebih lugs buat terwujud karma adanya kecocokan pengalaman belajar & bakat, mencapai kemampuan intelektual yg secara substansial lebih tinggi, bahkan mencapai keunggulan. Ini berarti bahwa genius pada diri anak memilih pada an unlocking of capacity yang hanya sanggup terjadi & ditemukan melalui kurikulum dan cara belajar yg sama sekali tidak sama berdasarkan yg kini terjadi di sekolah-sekolah kita yg sebagian besar masih berdasarkan pada sistem yg "tradisional."

Dan ini pula berarti bahwa pendidikan yang bermula menurut tempat tinggal merupakan pengertian mengenai arti dan tujuan hidup serta penemuan suatu cara hayati yg sahih dan secara asasi sama bagi seluruh umat insan, jua terutama bagi masyarakat Indonesia yg kini meng?Hadapi era reformasi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Clark, B. 1986. Growing Up Gifted. Columbia, USA: CE Merril Publishing Co.
  2. Jalil, Aria. 1998. Kurikulum Reformasi. Mencoba Berandai-andai (paper tidak diterbitkan), Canberra.
  3. Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence. New York, USA: Bantam Books.
  4. Stolz, P.G. 1997. Adversity Quotient. The Most Important Factors in Achieving Success. New York, USA: Wiley & Sons.
  5. Tagle. 1990. A "Genius", in Every Child: The Paradigm Shift of Integrative Learning in Education and Productivity. Innotech Journal, vol XVI no. 1, January–June 1993. ISSN 0115-7418.
  6. Toynbee, A. and Daisaku, I. 1976. Perjuangan Hidup, Suatu Dialog. Jakarta: PT. Indira.
Demikian contoh makalah pendidikan anak usia dini dengan tema menemukan sifat genius pada diri setiap anak. Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments