Saturday, July 25, 2020

Sejarah Diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional

Source: hariandepok.Com

Mungkin selama ini banyak dari kita yang bertanya-tanya mengapa perayaan Hari Kebangkitan Nasional Negara Indonesia  jatuh pada tanggal 20 Mei? Menurut sejarah, penentuan Hari Kebangkitan Nasional ini terkait dengan Politik Historiografi atau politik penulisan sejarah dari pemerintahan, bukan sudut pandang sejarah itu sendiri.

Pada tanggal 20 Mei 1948 untuk pertama kalinya diperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-40 di Istana Kepresidenan, Yogyakarta. Ceritanya pada saat itu negara dalam keadaan krisis politik internal yang cukup serius dan terjadi agresi militer Belanda. Kondisi Pemerintah masa itu memerlukan sebuah organisasi yang mampu mewakili kepentingan nasional.  Pemerintah berusaha mencari unsur pemersatu, sehingga masing-masing kelompok atau faksi yang begitu banyak tidak berjalan pada relnya sendiri-sendiri. Pilihan sebagai pemersatu akhirnya jatuh pada Organisasi Budi Utomo? Mengapa memilih Budi Utomo? Karena organisasi ini dianggap sebagai organisasi paling moderat, dan nasionalis.

Boedi Oetomo(source: wikepedia.Org)

Singkat cerita, negara kita dalam masa itu masih rapuh lebih kurang 3 tahun baru merdeka berdasarkan penjajah. Ada gangguan-gangguan terhadap pemerintah Indonesia, menurut eksternal & internal. Kondisi gangguan eksternal yang terjadi merupakan waktu Belanda masih ingin dan berusaha masuk ke Indonesia, sebagai akibatnya tahun 1947 terjadilah agresi militer Belanda yg pertama. Dampaknya banyak wilayah Indonesia diduduki, termasuk bunda kota Jakarta. Sehingga Pemerintahan berpindah ke Yogyakarta. Bukan itu saja, buat mampu kembali ke Indonesia, Belanda nir ragu buat mensponsori pembentukan negara-negara "boneka" buat menggrogoti keuutuhan Indonesia yang masih baru merdeka. Selain itu, situasi politik dalam negeri diwarnai sang poly partai politik dengan basis ideologi. Beberapa partai politik itu bahkan memiliki milisi bersenjata. Kondisi ini berpotensi memunculkan permasalahan internal pada Republik Indonesia yang baru berdiri. Kondisi internal dan eksternal seperti itu berdampak dalam kestabilan politik, keamanan, & perekonomian dan keutuhan Republik Indonesia. Sejarah mencacatat sudah terjadi kondisi kekurangan pasokan beras akibat blokade Belanda waktu agresi militer. Lalu kondisi keuangan negara yang ringkih, uang dicetak tanpa perhitungan yg pasti, sehingga menyebabkan terjadinya kenyataan inflasi hebat. Bersamaa dengan itu, negara-negara "boneka"(federal) bermunculan menggunakan dukungan berdasarkan Belanda.

Republik Indonesia yang masih muda ini harus diselamatkan. Kondisi yang gawat ini disikapi arif oleh pemimpin bangsa. Mereka menyadari  perlu pengkondisian agar Republik tercinta bisa terus bersatu dan betahan sampai kedepan. Sejarawan Taufik Abdullah menulis, "Dalam keadaan Republik yang krusial itu, sebuah simbol baru dibutuhkan"(May 2008 and One Hundred Years Ago: History, Myth and Consciousess" jurnal Masyarakat Indonesia, No 2, 2008).

Menurut sejarawan lain Rushdy Husein, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Radjiman Wedyodiningrat mengusulkan dalam Soekarno-Hatta dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo agar memperingati berdirinya Boedi Oetomo pada lepas 20 Mei 1948 menjadi hari kebangkitan Nasional(pada ketika itu memakai kata Kebangunan Nasional) yang ke-40. Namun dari Soerwardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada "Dari kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan" inisiatif itu tiba menurut Soekarno(Majalah Historia angka 20, tahun II, 2014). Tanggal 20 Mei 1908 dimaknai sang Presiden Soekarno sebagai hari krusial dam mulia buat bangsa karena pada saat itu Budi Utomo berdiri, menjadi sebuah organisasi kebangsaan yg mempunyai tujuan mulia yaitu menyatukan masyarakat sebagai akibatnya sebagai bangsa yg besar .

Poster peringatan 40 tahun Hari Kebangkitan Nasional pertama di gelar dalam 20 mei 1948 pada istana kepresidenan, Yogyakarta(source: Historia.Id)

Rencana peringatan Hari Kebangkita Bangsa (Kebangungan Bangsa) dipersiapakn dengan susunan panitia yang terdiri dari berbagai perwakilan golongan dan partai bukan dari pemerintah. Hasilnya tersusun panitia dari tokoh masyrakat dari berbagai kekuatan sosial politik. Kepanitiaan pusat dipimpin Soewardi Soerjaningrat(Ki Hadjar Dewantara) dengan anggota: Tjugito(tokoh PKI mewakili FDR),  A.M Sangadji(Masyumi), Sabilal Rasjad(PNI), Ny. A Hilal(Kongres Wanita Indonesia), Tatang Mahmud (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) dan H. Benyamin(Gerakan Pemuda Islam Indonesia).

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-40 membuat "Dokumen Kesatuan Nasionaldanquot; yg tetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai ketika permulaan menggalang kesatuan perilaku acara & tindakan. Dokumen ini ditandatangani partai politik, serikat buruh & tani, aneka macam kelompol keagamaan, kebudayaan, keguruan, kewanitaan, kepanduan, dan sebagainya. Pemerintah pada peringatan tahun 1948 ini ingin memberi catatan pada bangsa bahwa tercapainya kemerdekaan telah diawali sang proses pergerkan yang sudah berlangsung 40 tahun yang kemudian. Dan keikutsertaan berbagai golongan & partai politik pada kepanitian peringatan berusaha untuk menyaimpaikan "pesan" ajakan persatuan.

Dalam perjalanan mencapai keinginan luhur menuju kemerdekaan berdasarkan penjajah, pembodohan, dan penindasan, bangsa ini sudah melalui proses yg panjang & berliku. Bangsa ini terpaksa harus menelan pil getir kebijakan imperialis seperti praktek tanam paksa & segregasi sosial. Namun bangsa ini ternyata bisa bangkit dan berdiri tegak melawan seluruh itu. Timbulnya kesadaraan berbangsa dan bernegara, cita-cita buat bebas dan merdeka. Momentum Budi Utomo 1908 yang dimaknai menjadi kebangkitan Nasional mempunyai benang merah menggunakan beberapa momen krusial dalam pergerakan bangsa seperti Sumpah Pemuda 1928 & Proklamasi kemerdekaan 1945. Semua utuk tujuan merdeka..!!!

Sumber: Kenali Sejarahmu Raih Masa Depanmu

Bourbon

No comments:
Write comments