Sunday, August 2, 2020

Kemal Idris: "Karena Pak Nas Trauma, Soeharto pun Naik"

Tentu saja, mantan Pangkonstrad iut masih menyimpan cerita peranan Pak Nas pada sejarah TNI. Kepada wartawan FORUM Lutfi Yusniar, lelaku berusia menuturkannya. Berikut petikannya

Berikut ini adalah arsip wawancara majalan Forum Mingguan No.24 Tahun IX, 17 September 2000.  dengan almarhum Kemal Idris. Nama Letjen (Purn.) Kemal Idris tak bisa dipisahkan dengan Peristiwa 17 Oktober 1952. Dialah yang mengarahkan meriam TNI ke Istana atas perintah Jendral A.H. Nasution. Saat itu, "Tujuannya untuk membuka mata Soekarno agar lebih banyak memperhatikan nasib rakyat," kata kemal Idris yang pernah menjadi anak buah Pak Nas di Kodam Siliwangi.

Bagaimana sosok Pak Nas?

Di mata aku , Nasution benar-benar Indonesia. Ia berkelakuan sebagai orang Indonesia seutuhnya. Saya juga bangga, masih ada seseorang Batak yang berhasil memimpin Angkatan Bersenjata yang terdiri berdasarkan banyak sekali suku bangsa.

Apa kelebihan Pak Nas?

Kemampuan militernya. Ia berkesempatan belajar di akademi militer milik Belanda. Saat menjadi Panglima Kodam Siliwangi, beliau benar-benar berjuang demi rakyat. Saat itu, rakya terbagi menjadi 2 gerombolan , yakni warga yang bersenjata & yg nir bersenjata, akan tetapi kedianya harus saling berdampingan. Itu yg diinginkan Pak Nas & akhirnya sanggup direalisasikannya.

Apa benar Pak Nas juga ikut membidani lahirnya Kostrad?

Sekitar 1949, Brigade II Siliwingai memang diubah sebagai CTO(Corps Tjadangan Oemoem). Itulah yg menjadi cikal-bakal Kostrad. Itu hasil pemikiran Pak Nas. Dan CTO itu dipersiapkan jika Irianjaya masuk Indonesia. Artinya, CTO itu akan ditempatkan pada Irianjaya

Bagaimana dengan konsep teritorial?

Konsepnya merupakan mempersilahkan masyarakat membantu Tentara Nasional Indonesia apabila ada ancaman menurut dalam dan luar Indonesia. Itu pemikiran Pak Nas. Lantaran ada organisasi teritorial yg rapi, kami bisa menghadapi PKI, DI/TII, dan rakya membantu kami. Hanya Siliwangi yang selalu dikirim ke mana-mana. Misalnya membrantas RMS (Republik Maluku Selatan), DI/TIII pada Sulawesi dan sebagainya. Bahkan engkau jua memberantas Pemberontakan PKI di Madiun pada 1948.

Pada Peristiwa 17 Oktober 1952, Anda mengarahkan meriam ke Istana. Mengapa itu terjadi?

Memang, Pak Nas yang menyuruh aku . Tujuannya buat membuka mata Soekarno supaya lebih poly memperhatikan nasib warga . Jangan terlalu banyak berpolitik. Saat itu kami pun relatif berhati-hati. Artinya, apabila sahih-sahih ditembakan, akan jauh di atas Istana dan peluru jatuh di Tanjungpriok. Sebenarnya yang mengorganisasi para demonstran itu aku . Tujuannya, supaya Soekarno mampu membuka matanya bahwa hal itu sahih-sahih harapan masyarakat.

Apa perintah Pak Nas ketika itu?

Sebelumnya, saya memang bertanya pada Pak Nas, "Mau diapakan meriam itu?" Pak Nas mengatakan "Ya, tunjukan saja pada Soekarno." Waktu itu, saya menjabat Komandan CTO. Jadi, kami menguasai Jakarta menggunakan pasukan.

Tapi, ada pula tudingan, Nasution hendak mengkudeta Soekarno...

Sama sekali tidak ada maksud [melakukan] perebutan kekuasaan. Tidak ada maksud merebut kekuasaan. Kami hanya ingin membuka mata Soekarno, janganlah terlalu banyak berpolitik, tapi ingatlah pembangunan & nasib warga .

Saat itu, bagaimana hubungan Soekarno & Nasution?

Tegang karena mereka berlainan pandangan. Akibat insiden itu, selama 10 tahun sayan diskors. Saya nir menerima jabatan. Pak Nas dicopot dari jabatannya. Saya dianggap menjadi biang keladi. Setelah 2 tahun diskors, Pak Nas diangkat balik sebagai KSAD. Selama dua tahun itu, beliau sempat mendirikan IPKI(Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia). Tapi, terdapat yg tidak putusan bulat menggunakan IPKI. Misalnya , Bambang Oetoyo dan Vince Samual. Yang lain, semua putusan bulat. Saya jua diajak Pak Nas. Dan lantaran aku melihat kepentingannya buat masyarakat, aku putusan bulat.

Belakangan, mengapa Soekarno cendrung menentukan Ahmad Yani dan Soeharto ketimbang Nasution?

Ahmad Yani kan dikenal perjuangannya. Sedangkan Soeharto dikenal karena penyerangan Yogyakarta. Meski, sebenarnya, apa yg terjadi pada Yogyakarta buat saya permanen menjadi tanda tanya. Apa benar terjadi penyerangan pada Yogyakarta?

Anda mencurigai Serangan 6 Jam di Yogyakarta itu?

Zulkifli Loebis, intelijen Angkatan Bersenjata yang saat itu berada di Yogyakarta, pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Saya bertanya kepadanya, "Bis, apa yang terjadi di Yogyakarta saat itu?" Ia menjawab, "Ah, penyerangan di Yogyakarta sama sekali tidak ada. Yang terjadi adalah, Belanda di pagi hari melebarkan pertahanannya di luar. Dan sore harinya diperkecil.  Di daerah yang ditingalkan itu terjadi penembakan-penembakan. Itulah yang disebut sebagai penyerangan Yogyakarta."

Setelah peristiwa G30S, kepa Nasution nir jadi presiden, padahal dia yang paling berpeluang....

Saya sempat bertanya kepada Nasution, "Pak, persiapkan diri buat mengganti Soekarno." Ia tidak menjawab. Mungkin lantaran masih shock dengan tertembaknya anaknya, Ade Irma Suryani. Setelah 1965, nama Pak Nas lambat-laun semakin menghilang. Andaikan Pak Nas berusaha menggantikan Soekarno, itu yg sangat ditakuti Soeharto. Dan Soeharto tidak menghendaki itu terjadi. Tapi, peristiwa G30S itu buat Pak Nas stress berat, & itu kesempatan buat Soeharto buat naik.

Kalangan Tentara Nasional Indonesia pun lantas bersedia mendukung Soeharto?

Lantaran Pak Nas engga mau, ya akhirnya kami pun mendukung Soeharto. Waktu itu, kami beropini, jika toh beliau sebagai presiden, pastilah hanya 2 kali. Ternyata, ia hanya memperjuangkan dirinya sendiri dan keluarganya menggunakan mempergunakan Golkar. Saya pernah mengingatkannnya Soeharto supaya berhenti menjadi presiden ketika pemilihan ketiga kalinya. Ia selalu menjawab. "Bagaimana saya bisa berhenti jikalau warga tetap menghendaki saya."

Soal dwifungsi Tentara Nasional Indonesia sebagaimana konsep awalnya?

Awalnya TNI menghendaki agar diberi hak untuk ikut bicara. Artinya, TNI mempunyai wakilnya di MPR, meskipun itu hanya, katakanlah 20 orang. Selanjutnya, konsep itu dikembangkan oleh Kolonel Soewarto, Mantan Komandan Brigade Siliwangi dan Komandan Seskoad. Pada 1966, kami berkumpul di Seskoad Bandung menggelar seminar tentang peran TNI. Dari seminar itu disepakati bahwa kami meminta kembali apa yang pernah kami miliki, yang kami serahkan kepada pihak sipil. Di samping itu, disepakati TNI bukan saja sebagai military force, tapi juga social political force. Politik Angkatan Bersenjata dilaksanakan oleh orang yang kami pilih, yang kami anggap mampu melaksanakan tugas sebagai wakil dari ABRI di MPR. Hanya mereka yang boleh berpolitik, bukan yang lain, termasuk bukan pula panglima, KSAD, dan pangdam. Hanya mereka yang sudah kami pilih yang bisa mewakili Angkatan Bersenjata.

Lantas, dimana letak penyimpangannya?

Setelah keluar Supersemar itu, Soeharto yg ketika itu sebagai KSAD ingin mempergunakan dwifungsi buat keinginannya sendiri. Ia ingin menguasai Angkatan Bersenjata, sebagai akibatnya ia mengizinkan semua boleh berpolitik, termauk panglima, KSAD, pangdam, & sebagainya. Padahal, bukan seperti itu yang disepakati dalam seminar pada Bandung 1966 & yg jua digagas Pak Nas.

Mengapa jua, belakangan, kalangan militer jua terjun ke dunia bisnis?

Sebenarnya, saya tidak putusan bulat Angkata Bersenjata berbisnis. Itu karena, sewaktu Soeharto berkuasa, anggaran untuk Angkatan Bersenjata dikurangi. Dikatan Soeharto, Angkatan Bersenjata harus mandiri. Harus mencari uang sendiri. Lantas, poly yayasan & perusahaan didirikan. Tujuan awalnya, pada samping buat kepentingan Angkatan Bersenjata, juga buat menaikan tingkat hayati para prajurit.

Tapi kenyataannya...

Memang misalnya itu, Justru kebijakan itu sebagai rebutan para perwira agar sebagai kaya. Itualah, kenapa konsep tersebut ditentang Pak Nas dan aku . Masak Angkatan Bersenjata berbisnis? Saya konfiden Pak Nas jua tidak akan suka itu. Tapi, karena diizinkan Soeharto sewaktu sebagai KSAD, tejadilah semuanya itu.

Bourbon

No comments:
Write comments