Saturday, August 1, 2020

Penangkapan dan Eksekusi Mati Gembong PKI D.N. Aidit

Ada pada mana engkau waktu pemberontakan PKI Madiun," tanya Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. "Saya waktu itu baru saja dihijrahkan dari Jawa Barat," jawab kol Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri. "Kompi saya lalu menerima tugas menghadapi tiga batalyon komunis pada daerah Wonosobo, Pak."

"Nah, yang memberontak kini ini adalah anak-anak PKI Madiun dulu. Sekarang bereskan itu semua! D.N. Aidit terdapat pada Jawa Tengah. Bawa pasukanmu ke sana," ujar Soeharto memberi perintah. Percakapan pada Markas Komando Strategis Angkatan Darat, Jakarta, itu dituturkan ulang sang Yasir dalam Kompas edisi lima Oktober 1980. Saat itu beliau beserta pasukannya baru saja tiba pada Tanjung Priok. Brigif IV sebenarnya tengah melakukan operasi pada Kisaran, Sumatera Utara. Lantaran mendengar insiden G-30-S, mereka pulang.

Di hari pertemuan itu, 2 Oktober 1965, tentara sudah mulai mengejar orang-orang Partai Komunis Indonesia yg dituduh terlibat G-30-S. Tapi Dipa Nusantara Aidit, Ketua Central Committee PKI, menghilang.

Yasir pun memboyong pasukannya ke Solo. Di sana beliau bertemu Sri Harto, orang kepercayaan pimpinan PKI sedang meringkuk pada galat satu rumah tahanan. Orang itu beliau lepaskan. Hanya pada beberapa hari Sri Harto melapor: Aidit berada pada Kleco & akan segera pindah ke sebuah rumah dalam Desa Sambeng, belakang Stasiun Balapan, pada 22 November.

Rencana pun disusun. Dan benar, lebih kurang pukul sebelas siang, Aidit ada dalam tempat tinggal itu, menumpang vespa Sri Harto. Sekitar pukul sembilan malam, Letnan Ning Prayitno memimpin pasukan Brifif IV menggerebek rumah milik bekas pegawai PJKA itu. Yasir mengawasinya dari jauh.

Alwi Shahab, wartawan gaek yang kala itu sedang meliput di Solo, menulis di harian Republika, waktu digerebek Aidit bersembunyi di dalam lemari. Prayitno sendiri yang menemukannya. "Mau apa kamu?" Aidit membentak anak buah Yasir itu saat keluar dari lemari. Prayitno keder pada mulanya, tapi segera menguasai keadaan. Setengah membujuk dia membawa Aidit ke markas mereka di Loji Gandrung.

Malam itu pula Yasir menginterogasi Aidit. Kabarnya, sang Ketua membentuk pengakuan tertulis setebal 50 halaman. Isinya, diantaranya, hanya beliau yg bertanggung jawab atas insiden G-30-S. Sayang, dari Yasir, Pangdam Diponegoro kemudian membakar dokumen itu. Entah bagaimana, koresponden Asahi Evening News di Jakarta, Risuke Hayasi, berhasil menerima bocoran pengakuan Aidit untuk korannya.

Menjelang dini hari Yasir kebingungan, selanjutnya wajib bagaimana. Aidit berkali-kali minta bertemu menggunakan Presiden Soekarno. Yasir nir mau. "apabila diserahkan pada Bung Karno, pasti akan memutarbalikkan kabar sehingga persoalannya akan jadi lain," istilah Yasir misalnya dikutip Abdul Gafur dalam bukunya, Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia.

Akhirnya, dalam pagi buta keesokan harinya, Yasir membawa Aidit meninggalkan Solo menuju ke arah Barat. Mereka memakai 3 butir jip. Aidit yang diborgol berada dalam jip terakhir beserta Yasir. Saat kentara tanah iring-iringan itu tiba pada Boyolali.

Tanpa sepengetahuan dua jip pertama, Yasir membelok masuk ke Markas Batalyon 444. Tekadnya bundar . "Ada sumur?" tanyanya kepada Mayor Trisno, komandan batalyon. Trisno menunjuk sebuah sumur tua dalam belakang rumahnya.

Ke sana Yasir membawa tahanannya. Di tepi sumur, beliau mempersilakan Aidit mengucapkan pesan terakhir, akan tetapi Aidit malah berapi-barah pidato. Ini menciptakan Yasir dan anak butir murka . Maka: dor! Dengan dada berlubang tubuh gempal Menteri Koordinasi sekaligus Wakil Ketua MPRS itu terjungkal masuk sumur.

24 November 1965, pukul tiga sore. Yasir bertemu Soeharto pada Gedung Agung, Yogyakarta. Setelah melaporkan pekerjaannya, termasuk keputusannya membunuh Aidit, sang kolonel memberanikan diri bertanya: "Apakah yg Bapak maksudkan memakai bereskan itu contohnya sekarang ini, Pak?" Soeharto tersenyum.

Sumber: Dua Wajah Dipa Nusantara Seri Buku TEMPO Orang Kiri Indonesia

Bourbon

No comments:
Write comments